![]() |
| Kupu-kupu alang biru kecil (Zizina otis) |
Langkah sore itu berjalan santai. Dari basecamp Tamanagung menuju Dam Sumberwaru Kampung Ciut, Dusun Sumberwaru, Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, suasana terasa teduh ditemani aliran air irigasi yang tak henti berbisik. Sabtu (27/6) menjadi sore yang biasa, hingga seekor kupu-kupu mungil mengubahnya menjadi sebuah perjumpaan yang istimewa.
Di sisi utara dam, tepat di tepian saluran irigasi, seekor kupu-kupu kecil tampak beterbangan rendah di antara tanaman gulma. Sekilas warnanya sederhana, tetapi ketika hinggap, sisi bawah sayapnya memperlihatkan deretan bintik-bintik hitam yang tersusun rapi pada sayap depan maupun belakang. Dialah kupu-kupu alang biru kecil, Zizina otis (Fabricius, 1787), salah satu anggota keluarga Lycaenidae yang kerap luput dari perhatian karena ukuran tubuhnya yang mungil.
Di balik tubuhnya yang hanya beberapa sentimeter, tersimpan kisah panjang tentang sejarah penamaan ilmiah. Nama genus Zizina diperkenalkan oleh entomolog Inggris Thomas Algernon Chapman (1842-1921) pada tahun 1910.
Nama tersebut merupakan turunan dari genus Zizeeria maupun Zizera, ditambah akhiran "-ina" yang mengisyaratkan kelompok kupu-kupu berukuran kecil atau berkerabat dekat. Chapman memisahkan kelompok ini berdasarkan sejumlah karakter morfologi yang khas, seperti struktur androconia pada jantan yang tidak simetris dan pola tertentu pada sayap belakang [
1Grokipedia. (n.d.). Zizina otis. Grokipedia. Retrieved June 30, 2026, from https://grokipedia.com/page/zizina_otis
].Sementara itu, nama spesies otis berasal dari bahasa Yunani ōt- yang berarti "telinga" atau "bertelinga" [
2Missouri Botanical Garden. (n.d.). A Grammatical Dictionary of Botanical Latin. Mobot. Retrieved June 30, 2026, from https://www.mobot.org/mobot/latindict/keyDetail.aspx?keyWord=Otis
]. Dalam dunia insekta, istilah ini kemungkinan digunakan secara metaforis untuk menggambarkan bulu-bulu halus yang mengelilingi bagian kepala kupu-kupu tersebut.Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh entomolog Denmark Johan Christian Fabricius (1745-1808) pada tahun 1787 dengan nama Papilio otis dalam karya Mantissa Insectorum [
3Fabricius, Johann Christian. (1787). Ioh. Christ. Fabricii hist. nat. oecon. et cameral. p.p.o. soc. ... Mantissa insectorum: sistens eorum species nuper detectas, adiectis characteribus genericis, differentiis specificis, emendationibus, observationibus (Tom. II). Hafniae: Impensis Christ. Gottl. Proft. https://www.biodiversitylibrary.org/page/12257582
]. Lebih dari satu abad kemudian, Chapman memindahkannya ke dalam genus Zizina, sehingga nama ilmiahnya berubah menjadi Zizina otis. Penempatan ini kemudian diperkuat melalui penelitian Yago dan kolega pada tahun 2008 yang memadukan bukti morfologi dan analisis DNA mitokondria [4Snyder, J. F., Warren, A. D., Rubinoff, D., & Austin, G. T. (2008). Zizina otis (Fabricius, 1787) Becomes Establisbed on Oahu, Hawaii (Lepidoptera: Lycaenidae: Polyommatinae). News of the Lepidopterists’ Society, 50(1), 3–6. https://images.peabody.yale.edu/lepsoc/nls/2000s/2008/2008_v50_n1.pdf
].Kupu-kupu mungil ini juga dikenal dengan berbagai nama di berbagai negara. Di dunia internasional ia populer sebagai common grass-blue atau lesser grass-blue. Di Indonesia, masyarakat mengenalnya sebagai kupu-kupu alang biru kecil, sementara di Jepang disebut himeshirubiashijimi, di Tiongkok máo yǎn huī dié, dan di Thailand memiliki nama lokalnya sendiri.
Sebarannya cukup luas di kawasan tropis Asia, mulai dari Indonesia, Filipina, Tiongkok hingga Jepang [
5The fauna of British India, including Ceylon and Burma. Published under the authority of the Secretary of State for India in Council. Edited by Lt.-Col. C. T. Bingham. — Butterflies. Vol. II. By Lt. Col. C.T. Bingham. London: Taylor & Francis, 1907. 8vo. (1907). The Annals and Magazine of Natural History; Zoology, Botany, and Geology, 20, 373--374. https://doi.org/10.1080/00222930709487349
]. Meski demikian, keberadaannya sering kali baru disadari oleh mereka yang bersedia memperlambat langkah dan mengamati kehidupan di sekitar rerumputan atau tanaman liar lainnya.Berbeda dengan kupu-kupu berukuran besar yang gemar terbang tinggi, Zizina otis lebih memilih melayang rendah mengikuti permukaan tanah. Ia menyusuri padang rumput, semak-semak, tepian jalan, hingga lahan lembap di sekitar kubangan air. Bahkan, individu-individu spesies ini sering dijumpai membentuk koloni, berkumpul dalam kelompok, bermigrasi bersama, hingga bertengger berdekatan ketika malam tiba [
6Fernandes Erickson M. (2025). Common grass blue butterflies (Zizina otis) are toxic throughout their geographic range. The Journal of experimental biology, 228(16), jeb250745. https://doi.org/10.1242/jeb.250745
].Hubungannya dengan alam pun cukup menarik. Larvanya memanfaatkan berbagai tumbuhan dari keluarga Fabaceae atau polong-polongan sebagai tanaman inang. Sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya hubungan dengan berbagai jenis semut, sebuah interaksi yang lazim dijumpai pada banyak kupu-kupu anggota Lycaenidae.
Aktivitas hariannya mengikuti irama cahaya. Sejak pagi hingga siang, kupu-kupu ini aktif mencari nektar dari bunga-bunga liar. Menjelang malam, ia memilih berdiam di balik semak atau vegetasi rendah. Saat hinggap di atas rerumputan, kedua sayapnya kerap membuka dan menutup perlahan. Gerakan itu baru berhenti ketika ia benar-benar menikmati nektar atau beristirahat.
Meski kecil, perannya bagi ekosistem tidaklah sepele. Seperti kupu-kupu lainnya, Zizina otis membantu proses penyerbukan berbagai tumbuhan berbunga. Kehadirannya bahkan sering dijadikan salah satu penanda bahwa suatu lingkungan masih memiliki kualitas habitat yang baik [
7al Khairi, Y. (2022, April 04). Zizina Otis, Spesies Kupu-Kupu Kecil Bercorak Ganda. Greeners.Co. https://www.greeners.co/flora-fauna/zizina-otis-spesies-kupu-kupu-kecil-bercorak-ganda/
].Perjumpaan singkat di tepian saluran irigasi Sumberwaru itu menjadi pengingat bahwa keanekaragaman hayati tidak selalu hadir dalam ukuran yang mencolok. Di sela tanaman liar atau rumput yang bergoyang diterpa angin, seekor kupu-kupu mungil mengajarkan bahwa alam menyimpan cerita-cerita besar dalam wujud yang nyaris tak terlihat. Barangkali, yang dibutuhkan hanyalah sepasang mata yang lebih sabar untuk memperhatikannya. *** [300626]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar