Selasa, Juli 14, 2026

Coridius chinensis, Serangga Beraroma Sembilan yang Menyimpan Rahasia Pengobatan

  Budiarto Eko Kusumo       Selasa, Juli 14, 2026
Seekor serangga berwarna cokelat muda bertengger tenang di atas sehelai daun. Bentuk tubuhnya menyerupai perisai, kaki-kakinya hitam mengilap, sementara ujung sungutnya berwarna jingga. Penampilannya tidak terlalu mencolok. Bahkan, banyak orang mungkin akan mengabaikannya begitu saja.
Namun, pagi itu, Ahad (24/5), saat saya membersihkan halaman Sekretariat SMARThealth lama di Jalan Sidoluhur 59B, Dusun Lemah Duwur RT 07 RW 01, Desa Dilem, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, serangga kecil tersebut justru mengundang rasa ingin tahu. 
Kehadirannya di antara dedaunan menjadi pengingat bahwa halaman yang tampak semrawut di kala mau pindahan itu sesungguhnya merupakan rumah bagi beragam kehidupan liar yang berperan menjaga keseimbangan ekosistem.
Belakangan saya mengetahui bahwa serangga atau kepik kecil itu adalah Coridius chinensis (Dallas, 1851), salah satu anggota famili Dinidoridae yang penyebarannya meliputi Bhutan, Tiongkok, India, Indonesia, Jepang, Laos, Myanmar, Taiwan, hingga Vietnam.

Coridius chinensis sedang hinggap di atas daun di halaman bekas Sekretariat SMARThealth di Jalan Sidoluhur No. 59B Dusun Lemah Duwur, Desa Dilem, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang

Nama ilmiahnya menyimpan jejak sejarah ilmu pengetahuan. Genus Coridius berasal dari bahasa Yunani koris, yang berarti kutu kasur [
1Merriam-Webster. (n.d.). Coreidae. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved July 12, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/Coreidae
], sedangkan nama spesifik chinensis menunjukkan bahwa spesies ini pertama kali dikenali dari kawasan Tiongkok [
2World of Succulents. (n.d.). Browsing: chinensis. World of Succulents. Retrieved July 12, 2026, from https://worldofsucculents.com/epithets/chinensis/
]. 
Pada tahun 1851, entomolog Inggris William Sweetland Dallas (1824-1890) mendeskripsikannya dengan nama Aspongopus chinensis dalam katalog koleksi Hemiptera Museum Britania [
3British Museum (Natural History)., Dallas, W. S., & Gray, John Edward. (1851). List of the specimens of hemipterous insects in the collection of the British Museum (Issue 1, p. I). London: Printed by order of the Trustees. https://www.biodiversitylibrary.org/page/18106268
]. Bertahun-tahun kemudian, setelah para ahli meninjau kembali hubungan kekerabatannya, spesies ini dipindahkan ke genus Coridius. Itulah sebabnya nama "Dallas, 1851" ditulis di dalam tanda kurung, sebagai penanda bahwa spesiesnya tetap sama, tetapi genusnya telah berubah.
Di berbagai negara, serangga ini memiliki nama yang berbeda-beda. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai watermelon bug. Di India masyarakat menyebutnya tari atau paahu. Di Jepang ia dikenal sebagai tsumakikurokamemushi. Sementara di Tiongkok, nama yang paling populer adalah jiǔ xiāng chóng, yang secara harfiah berarti "serangga beraroma sembilan." Nama itu terdengar indah, tetapi sebenarnya merujuk pada senjata andalan serangga ini.
Ketika merasa terancam, Coridius chinensis mengeluarkan cairan pertahanan yang berbau menyengat. Bau tersebut berfungsi mengusir predator dan meningkatkan peluangnya untuk bertahan hidup. Strategi semacam ini lazim dijumpai pada kelompok kepik atau serangga perisai, tetapi pada Coridius chinensis, aroma khas itu justru melahirkan identitas yang membuatnya mudah dikenali.

Punggung Coridius chinensis terlihat bentuk perisai

Menariknya, bau menyengat bukanlah alasan untuk menjauhinya. Di beberapa wilayah Asia, serangga ini justru dipandang sebagai bahan pangan sekaligus sumber pengobatan tradisional. Di India Timur Laut, terutama di Manipur, Nagaland, Arunachal Pradesh, dan daerah sekitarnya, masyarakat telah lama mempraktikkan entomofagi, yakni kebiasaan mengonsumsi serangga sebagai makanan [
4Gogoi, Hiren & Moyong, Bolet & Sonia, Kuru & Umbrey, Chihi. (2017). Species of Tari in Arunachal Pradesh: Morphology, Ecology and Toxicity of Entomophagy. Journal of Bioresources. 4. 50-57. https://www.researchgate.net/publication/321945650_Species_of_Tari_in_Arunachal_Pradesh_Morphology_Ecology_and_Toxicity_of_Entomophagy
]. Coridius chinensis termasuk salah satu spesies yang paling dikenal. Di Distrik Ukhrul, Manipur, masyarakat Tangkhul menyebutnya lenghik. Serangga ini dipanen dari alam, kemudian dimasak dengan cara dipanggang, digoreng, atau ditumbuk menjadi bumbu penyedap.
Bagi masyarakat setempat, manfaatnya tidak berhenti pada nilai gizinya. Serangga ini dipercaya membantu menjaga kesehatan tubuh. Laporan Bonysana dan kolega (2024), misalnya, menyebutkan bahwa masyarakat Tangkhul menggunakan Coridius chinensis sebagai obat tradisional untuk membantu meredakan nyeri sendi [
5Bonysana, R., Singh, K. D., Devi, W. D., koijam, A. S., Kapesa, K., Kalita, J., Mukherjee, P. K., & Rajashekar, Y. (2024). Ethno-entomotherapeutic and metabolite profiling of Coridius chinensis (Dallas), a traditional edible insect species of North-East India. Scientific Reports, 14(1). https://doi.org/10.1038/s41598-024-57202-y
].
Kepercayaan serupa juga berkembang dalam pengobatan tradisional Tiongkok. Selama berabad-abad, Coridius chinensis digunakan untuk membantu mengatasi nyeri, penyakit kuning, gangguan pernapasan, hingga berbagai keluhan yang berkaitan dengan kelemahan ginjal. 
Dalam Compendium of Materia Medica maupun Pharmacopoeia of the People's Republic of China, serangga ini disebut memiliki kemampuan mengatur aliran qi, menghangatkan tubuh bagian tengah, serta membantu memperkuat energi yang. Karena itu, ia kerap dimanfaatkan untuk mengatasi nyeri pinggang, lutut, maupun kondisi yang berkaitan dengan kekurangan energi menurut konsep pengobatan tradisional Tiongkok.

Ujung sungut atau antena Coridius chinensis berwarna kuning jingga

Apa yang dahulu hanya menjadi pengetahuan turun-temurun kini mulai dikaji melalui pendekatan ilmiah. Berbagai penelitian farmasi modern menunjukkan bahwa Coridius chinensis mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antioksidan sehingga mampu membantu melawan radikal bebas dalam tubuh [
6Xiong, K., Zeng, F., Lei, X., Wei, Y., Zhou, X., & Hou, X. (2024). Modern pharmacological research and application of medicinal insect Coridius chinensis. Heliyon, 10(2), e24613. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2024.e24613
]. 
Sejumlah penelitian juga melaporkan aktivitas antibakteri, potensi antikanker, efek perlindungan terhadap sistem reproduksi, serta kemampuan mendukung pembentukan pembuluh darah baru atau angiogenesis.
Meski demikian, sebagian besar temuan tersebut masih memerlukan penelitian lanjutan, terutama melalui uji praklinis dan uji klinis pada manusia, agar manfaatnya dapat dipastikan secara ilmiah dan diterapkan secara aman dalam dunia medis.
Pertemuan singkat saya dengan seekor serangga di atas daun itu menjadi pengingat bahwa alam sering menyimpan cerita di tempat-tempat yang tidak terduga. Di balik tubuh kecilnya, Coridius chinensis membawa kisah tentang evolusi, sejarah klasifikasi ilmiah, tradisi kuliner, pengetahuan pengobatan masyarakat Asia, hingga harapan baru bagi pengembangan obat-obatan berbasis sumber daya hayati.
Barangkali, lain kali ketika kita menjumpai seekor serangga bertengger di halaman rumah, kita tidak lagi sekadar melihatnya sebagai penghuni liar yang mudah diabaikan. Bisa jadi, ia adalah bagian dari kekayaan biodiversitas yang selama ini menyimpan cerita, manfaat, dan pengetahuan yang belum banyak kita kenal. *** [140726]


logoblog

Thanks for reading Coridius chinensis, Serangga Beraroma Sembilan yang Menyimpan Rahasia Pengobatan

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog