“I felt my lungs inflate with the onrush of scenery - air, mountains, trees, people. I thought, "This is what it is to be happy.”” -- Sylvia Plath, The Bell Jar
Tidak semua perjalanan dimulai dari sebuah rencana. Ada kalanya, perjalanan terbaik justru lahir dari sesuatu yang gagal.
Pagi itu, Rabu (1/7), saya membonceng sepeda motor bersama seorang enumerator Baseline Survey Desa Kaliploso, Rahmanurraudhotul Amin, SKM, menuju kawasan Kalisetail.
Tujuan kami sebenarnya adalah mengambil motor sewaan yang akan digunakan untuk mendukung aktivitas Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB) di lapangan. Namun, sesampainya di lokasi, pemilik motor yang kami cari tak kunjung ditemui.
Kami saling berpandangan sejenak.
"Daripada pulang, bagaimana kalau ke Situs Batu Kembar?" ujar rekan saya.
Ajakan spontan itu menjadi awal dari pengalaman yang sama sekali tidak saya duga.
Namun ternyata, situs batunya yang berada di tepi jalan kampung sudah dicat oleh penduduk, sehingga kesakralan historinya menjadi berkurang. Lalu, diputuskan berkunjung ke Gebang Raung, karena di sepanjang jalan menuju situs kembar dijumpai tulisan Wisata Gerbang Raung.
Motor Scoopy melaju meninggalkan hiruk-pikuk permukiman. Dari situs batu kembar, kami menempuh perjalanan sekitar tiga kilometer ke arah utara menuju Jalan Watu Gede Nomor 1, Dusun Paras Tembok, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi.
![]() |
| Tulisan Gerbang Raung di dalam kawasan wisata |
Jalanan perlahan menanjak, diapit kebun-kebun rakyat yang semakin lama berganti menjadi kawasan hutan. Udara yang semula hangat berubah sejuk, seolah alam memberi isyarat bahwa kami tengah memasuki ruang yang berbeda.
Gerbang Raung menyambut kami tanpa kemewahan. Tidak ada bangunan mencolok atau wahana yang berteriak meminta perhatian. Yang berdiri kokoh justru barisan pinus menjulang tinggi, membentuk lorong hijau yang teduh. Sinar matahari jatuh menembus celah-celah ranting, menghadirkan semburat cahaya yang bergerak perlahan mengikuti embusan angin.
Di sela keheningan itu, terdengar suara air mengalir.
Sungai pegunungan yang jernih dan penuh dengan bebatuan, mengalir tenang membelah kawasan wisata. Airnya begitu bening hingga bebatuan di dasar sungai terlihat jelas. Gemericik air berpadu dengan desir angin yang menggesek dedaunan pinus, menciptakan orkestra alam yang tak membutuhkan pengeras suara.
Di tempat seperti ini, keheningan bukanlah kesunyian. Ia justru menjadi bahasa yang dipahami siapa pun yang datang untuk beristirahat dari bisingnya kehidupan.
Penyair Amerika Sylvia Plath dalam novel The Bell Jar (1963) pernah menulis:
“Aku merasakan paru-paruku mengembang karena derasnya pemandangan - udara, gunung, pepohonan, orang-orang. Aku berpikir, 'Inilah arti bahagia.'”
![]() |
| Camping ground yang didekatnya terdapat minimarket, depan tulisan Gerbang Raung |
Sulit mencari kalimat yang lebih tepat untuk menggambarkan suasana Gerbang Raung. Udara pegunungan yang bersih seakan memenuhi setiap rongga paru-paru. Aroma getah pinus yang terbawa angin, percikan air sungai yang dingin, serta lanskap hijau yang membentang menghadirkan sensasi yang belakangan semakin banyak dicari manusia modern untuk terapi alam.
Kini, berbagai penelitian menyebutkan bahwa berada di kawasan hutan mampu membantu menurunkan tingkat stres, memperbaiki suasana hati, bahkan menurunkan tekanan darah. Di Jepang, praktik itu dikenal sebagai shinrin-yoku atau forest bathing - mandi hutan - yakni menikmati alam dengan melibatkan seluruh indera.
Gerbang Raung menghadirkan pengalaman serupa secara alami. Tidak perlu melakukan apa-apa. Duduk, berjalan perlahan, menghirup udara, lalu membiarkan alam bekerja dengan caranya sendiri.
Kawasan wisata ini berada di Petak 49B Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Sidomulyo, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kalisetail, tepat di lereng tenggara Gunung Raung.
Gunung setinggi 3.282 meter di atas permukaan laut itu berdiri megah sebagai latar sekaligus penjaga kawasan. Namanya berasal dari suara "raungan" angin yang menderu di sekitar kaldera raksasanya. Kaldera Gunung Raung merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia.
![]() |
| Aliran sungai yang bergemericik, bening, dangkal, dan penuh dengan bebatuan |
Sejak berabad-abad silam, gunung ini telah menjadi penanda geografis sekaligus ruang spiritual. Jejak sejarahnya bahkan berkaitan dengan perjalanan suci Maha Rsi Markandeya yang kemudian dikenang melalui Pura Agung Gunung Raung Taro di Bali.
Keagungan gunung itu seolah mengalir hingga ke kaki-kakinya.
Di Gerbang Raung, wisatawan tidak datang untuk mengejar adrenalin, melainkan mencari jeda. Sebagian duduk santai di gazebo sambil kehijauan hutan pinus. Sebagian lain berjalan menyusuri sungai, membiarkan kaki menyentuh air pegunungan yang dingin. Anak-anak bermain riang di aliran sungai yang dangkal, sementara para orang tua menikmati terapi alami bagi kaki mereka.
Bagi penyuka petualangan, kawasan ini menyediakan area berkemah yang nyaman. Saat malam turun, suhu udara menjadi semakin dingin. Pohon-pohon pinus menjelma siluet hitam yang menjulang di bawah langit bertabur bintang. Keheningan hanya sesekali dipatahkan suara serangga malam dan desir angin pegunungan.
Lalu ketika pagi datang, kabut tipis menggantung di antara batang-batang pinus. Cahaya matahari perlahan menembus tirainya, memantulkan kilau embun yang masih setia bertahan di ujung dedaunan. Momen seperti inilah yang membuat banyak orang rela kembali berulang kali.
![]() |
| Suasana Wisata Gerbang Raung, terlihat beberapa keluarga healing di bawah pohon pinus di tepi aliran sungai |
Meski mengandalkan pesona alam, Gerbang Raung telah dilengkapi berbagai fasilitas penunjang, mulai dari gazebo, area camping ground, minimarket, penyewaan sepeda listrik, hingga mobil listrik mini yang memungkinkan pengunjung menjelajahi kawasan dengan santai.
Namun sesungguhnya, fasilitas terbaik di tempat ini bukanlah bangunan ataupun kendaraan. Melainkan udara yang masih bersih, sungai yang tetap jernih, hutan pinus yang terus berdesir, dan ketenangan yang tidak bisa dibeli di mana pun.
Perjalanan saya hari itu bermula dari motor sewaan yang gagal ditemukan. Tetapi justru kegagalan kecil itulah yang mengantar saya pada sebuah pelajaran sederhana. Bahwa alam sering kali memberi hadiah melalui jalan yang tidak pernah kita rencanakan.
Gerbang Raung bukan sekadar pintu menuju kaki Gunung Raung. Ia adalah gerbang untuk kembali mengenal sunyi, menghirup napas lebih dalam, dan menyadari bahwa kebahagiaan terkadang hadir dalam bentuk yang paling sederhana, yakni hutan, air, angin, dan waktu yang berjalan tanpa tergesa. *** [070726]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar