Sehari setelah perayaan Dirgahayu Republik Indonesia, ajakan sarapan dari Rahmanurraudhotul Amin, SKM, enumerator baseline survey Desa Kaliploso, membawa saya ke sebuah warung kaki lima di Jajag, Banyuwangi. Tujuannya sederhana, yaitu sarapan sego pecel. Namun, pengalaman di Warung Sego Pecel Bu Sus membuktikan bahwa sepincuk nasi dan sayuran bisa menyimpan cerita panjang tentang tradisi, keluarga, dan selera yang diwariskan lintas generasi.
Warung itu berada di Jalan Yos Sudarso No. 68, Dusun Kampung Baru, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran. Tempatnya sederhana, menempati teras Toko Flamboyan Sport, di sebelah timur Bank Jatim KCP Gambiran dan persis di depan Kantor Pegadaian Jajag.
Meski hanya warung kaki lima, jangan bayangkan suasananya lengang. Ketika kami datang, antrean pembeli sudah banyak. Sekitar 20 menit saya menunggu sebelum akhirnya bisa berinteraksi dengan perempuan paruh baya di balik warung, yaitu Ibu Sus Marpuah, sosok yang kemudian membuat nama warung ini lekat sebagai Warung Sego Pecel Bu Sus.
![]() |
| Kerumunan itu bernama sarapan sepincuk sego pecel Bu Sus di Jalan Yos Sudarso, Dusun Kampung Baru, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi |
Bu Sus melayani pembeli dengan cekatan. Satu demi satu pincuk disiapkan, sambal dituang, sayuran ditata, lodeh ditambahkan, lalu pesanan berpindah ke tangan pelanggan. Ada yang langsung menyantapnya di tempat, ada pula yang meminta dibungkus. Di antara pembeli, tampak pula karyawan dari perkantoran di sekitar lokasi, termasuk dari BRI yang berada di samping Pegadaian.
Rahasia daya tarik warung ini rupanya bukan sekadar soal harga atau kecepatan pelayanan. Ada warisan rasa yang dijaga Bu Sus. Sambal pecelnya merupakan resep turun-temurun dari orangtuanya. Jauh sebelum warung itu dikenal seperti sekarang, ibunya sudah berjualan sejak 1982. Kini, tongkat estafet itu diteruskan Bu Sus.
Di atas sepincuk nasi, warisan tersebut hadir dalam bentuk sambal pecel berwarna cokelat kemerahan. Kacang tanah yang telah digoreng ditumbuk bersama cabai, kencur, daun jeruk, dan gula merah. Hasilnya bukan sekadar pedas. Gigitan pertama menghadirkan rasa gurih dan sedikit manis dari kacang serta gula merah, disusul sengatan cabai yang hangat. Kencur menyelipkan aroma segar sekaligus rasa khas yang membuat sambal pecel terasa hidup, sementara daun jeruk meninggalkan wangi sitrus yang ringan di belakangnya.
![]() |
| Field Facilitator NIHR UB berkesempatan berpetualang rasa dalam sepincuk sego pecel Bu Sus |
Ketika sambal itu bertemu sayuran rebus dan nasi hangat, rasa gurih, pedas, manis, dan harum tersebut berpadu tanpa saling menenggelamkan. Lalu hadir lodeh khas Bu Sus yang menambah lapisan rasa, yakni gurih dan lembut, menjadi penyeimbang bagi karakter sambal pecel yang lebih berani. Sederhana, tetapi pas.
Pecel sendiri secara historis, jejaknya telah tercatat dalam literatur Jawa lama. Dalam Babad Tanah Jawi (1722), dikisahkan Ki Gede Pamanahan mendapat jamuan nasi pecel ketika beristirahat di Dusun Taji dalam perjalanan menuju Mataram. Ketika ditanya tentang hidangan itu, Ki Ageng Karang Lo menjelaskan, “Puniko ron ingkang dipun pecel” - daun-daunan yang direbus dan diperas airnya.
Pecel juga muncul dalam Serat Centhini (1814), antara lain dalam kisah perjalanan Raden Jayengresmi. Dalam salah satu jamuan di Dukuh Prawata, disebutkan hidangan pecel ayam. Catatan-catatan tersebut menunjukkan bahwa pecel telah lama menjadi bagian dari khazanah kuliner Jawa, dengan berbagai bahan dan pasangan lauk.
![]() |
| Sepincuk sego pecel Bu Sus di Jajag |
Berabad-abad kemudian, tradisi itu masih terasa akrab di Jajag. Setiap pagi, mulai sekitar pukul 05.30 WIB hingga menjelang pukul 10.00 WIB, Warung Sego Pecel Bu Sus menjadi semacam titik temu kecil bagi orang-orang yang hendak mengisi tenaga sebelum memulai aktivitas.
Ratusan pembeli datang silih berganti. Mereka tidak hanya membeli makanan, tetapi juga membawa pulang rasa yang telah dirawat sejak 1982. Di tengah kesibukan pagi, sepincuk sego pecel menjadi pengingat bahwa kuliner tradisional tak selalu membutuhkan tempat megah untuk bertahan.
Kadang, cukup sebuah teras toko, antrean yang sabar, tangan yang cekatan, dan resep keluarga yang tidak berubah. Dan di Jajag, sepincuk sego pecel Bu Sus membuktikan itu. *** [200826]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar