Jumat (14/08) siang di Dusun Cempokosari RT 02 RW 03, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, perhatian saya sempat teralih dari pemeriksaan spirometri di rumah kader Siti Bariyah. Di antara rimbun tanaman buah naga (Selenicereus monacanthus) di samping rumah, seekor serangga terbang berkelebat, lalu hinggap tenang di atas daun nanas (Ananas comosus).
Tubuhnya gelap, tetapi dihiasi corak keemasan pada bagian skutum. Sekilas, penampilannya mengingatkan saya pada lalat tentara hitam (black soldier fly) yang pernah saya jumpai ketika mendampingi kader lingkungan Desa Krebet, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, dalam kegiatan studi tiru di Rumah Inspirasi Bank Sampah Eltari, Kota Malang, setahun sebelumnya.
Namun, serangga yang kali ini bertengger di daun nanas itu bukan Hermetia illucens. Ia adalah Ptilocera quadridentata (Fabricius, 1805), lalat tentara yang penampilannya tak kalah menarik.
![]() |
| Lalat tentara (Ptilocera quadridentata) bertengger di atas daun nanas di kebun kader Siti Bariyah di Jalan Pahlawan, Dusun Cempokosari, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi |
Perbedaan keduanya cukup mudah dikenali. Ptilocera quadridentata berukuran setara dengan tubuh gelap berkilau keemasan dan mata yang memiliki pola unik. Sementara itu, black soldier fly berukuran seimbang dengannya, dan jauh lebih dikenal karena banyak dibudidayakan untuk membantu mengurai sampah organik.
Nama Ptilocera berasal dari bahasa Yunani, yakni ptilon yang berarti bulu halus atau rambut lembut dan keras yang bermakna tanduk [
1Agassiz, L. (n.d.). NOMENCLATOR ZOOLOGICUS – NOMENCLATORE ZOOLOGICO. Summagallicana. Retrieved August 17, 2026, from https://www.summagallicana.it/Agassiz_nomenclator_zoologicus/Diptera.htm
]. Nama tersebut berkaitan dengan karakter antenanya yang menyerupai bulu. Adapun quadridentata berasal dari bahasa Latin dari kombinasi kata quadri- berarti empat dan dentata berarti bergigi [2SEASLUG.WORLD. (n.d.). Telodiacria quadridentata (Blainville, 1821). SEASLUG.WORLD. Retrieved August 17, 2026, from https://en.seaslug.world/species/telodiacria_quadridentata
], merujuk pada struktur tubuh atau antenanya yang memiliki tonjolan menyerupai gigi.Riwayat ilmiahnya juga menarik. Pada 1805, entomolog Denmark Johann Christian Fabricius (1745-1808) mendeskripsikan spesies ini sebagai Stratiomys quadridentata dalam Systema Antliatorum [
3Fabricius, Johann Christian. (1805). Ioh. Christ. Fabrichii hist. nat. oeconom. ... Systema antliatorum : secundum ordines, genera, species, adiectis synonymis, locis, observationibus, descriptionibus (p. I). Brunsvigae: Apud Carolum Reichard. https://www.biodiversitylibrary.org/page/15662766
]. Lima belas tahun kemudian, ketika entomolog Jerman Christian Rudolph Wilhelm Wiedemann (1770-1840) mendirikan genus Ptilocera, spesies tersebut dipindahkan ke dalam genus baru itu. Karena pernah ditempatkan dalam genus berbeda, nama Fabricius kini ditulis dalam tanda kurung, yaitu Ptilocera quadridentata (Fabricius, 1805).![]() |
| Lalat tentara (Ptilocera quadridentata) bergeser menghadap ke selatan dalam bidikan kamera HP Xiaomi Redmi Note 14 Pro 5G |
Spesimen yang menjadi dasar deskripsi Fabricius berasal dari dua betina asal Sumatra. Keduanya merupakan sintipe. Pada 2008, salah satunya ditetapkan sebagai lektotipe, yakni spesimen tunggal yang berfungsi sebagai rujukan standar bagi identitas spesies, sementara spesimen lainnya menjadi paralektotipe.
Jejak persebarannya ternyata luas. Dalam kajiannya tentang lalat tentara Oriental, Brunetti pada 1923 mencatat Ptilocera quadridentata dari berbagai wilayah Indonesia, termasuk Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Kepulauan Aru, dan Papua. Di Pulau Jawa, catatan keberadaannya mencakup Bogor, Depok, Jakarta, Gunung Pancar, Nusa Kambangan, Gunung Ungaran, Salatiga, Yogyakarta, Pasuruan, dan sejumlah daerah lainnya [
4Brunetti, E. (1923). Second Revision of the Oriental Stratiomyidae. Records of the Zoological Survey of India, 25(1), 45–180. https://doi.org/10.26515/rzsi/v25/i1/1923/162683
].Spesies ini tercatat di Wilayah Oriental, meliputi Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, Filipina, Malaysia (termasuk Sabah dan Sarawak), Singapura, serta Indonesia (Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sumbawa); spesies ini tampaknya tidak ditemukan di bagian barat Wilayah Oriental (termasuk India, Myanmar, Nepal, dan Sri Lanka), namun keberadaannya di Tiongkok selatan sangat mungkin terjadi [
5Mason, F., & Rozkošný, R. (2011). A review of the Oriental and Australasian Ptilocera species (Diptera: Stratiomyidae). Zootaxa, 3007(1), 1–49. https://doi.org/10.11646/zootaxa.3007.1.1
].![]() |
| Lalat tentara (Ptilocera quadridentata) bergeser menghadap ke barat dalam bidikan kamera HP Xiaomi Redmi Note 14 Pro 5G |
Habitatnya beragam, tetapi terutama berkaitan dengan lingkungan lembap, seperti tanah basah, bawah kulit kayu, dan bahan organik yang membusuk.
Menariknya, lalat ini bukan penerbang yang gemar berkelana jauh. Ptilocera quadridentata dewasa kerap ditemukan tidak jauh dari tempat larvanya berkembang. Ia lebih sering terlihat diam atau beristirahat. Ketika dewasa, makanannya antara lain nektar bunga.
Pertemuan singkat dengan Ptilocera quadridentata di kebun samping rumah kader Siti Bariyah menjadi pengingat bahwa halaman rumah pun dapat menyimpan cerita ekologis yang menarik. Di antara buah naga dan daun nanas, lalat tentara mungil itu menjalani perannya sebagai bagian dari ekosistem.
Barangkali, alam memang tidak selalu hadir dalam bentuk yang mencolok. Kadang, ia cukup muncul sejenak, hinggap di selembar daun, lalu mengajak kita untuk berhenti dan memperhatikannya. *** [190826]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar