Rabu, Oktober 28, 2026

Pterocymbium tinctorium, Sriwil Kutil Berbiji Bersayap

  Budiarto Eko Kusumo       Rabu, Oktober 28, 2026
Dari bibir Pantai Wedi Ireng, Banyuwangi, mata tak hanya dimanjakan oleh hamparan laut dan pasirnya. Di lereng bukit yang masih rimbun oleh vegetasi, dua pohon menjulang dengan bunga-bunga kemerahan yang mencuri perhatian. Kanopinya tampak menonjol di antara hijaunya perbukitan. Seorang nelayan setempat menyebutnya pohon sriwil kutil.
Nama itu mungkin terdengar asing bagi sebagian orang. Namun, bagi masyarakat yang akrab dengan alam dan pergantian musim, pohon ini menyimpan cerita yang lebih panjang daripada usianya. Ketika musim penghujan mau tiba, biji-bijinya yang bersayap akan berhamburan, berputar-putar terbawa angin seperti kincir kecil. Di Jawa, kemunculan biji-biji terbang itu lekat dengan pengetahuan tradisional tentang berakhirnya musim kemarau - saatnya petani mulai menebar benih padi di sawah.
Di antara desir angin laut dan rimbunnya bukit, sriwil kutil seolah menjadi penanda alam yang menghubungkan pepohonan dengan kehidupan manusia.

Pohon sriwil kutil (Pterocymbium tinctorium) terlihat dari kejauhan dengan bunga warna merahnya yang mendominasi warna


Kincir Kecil dari Puncak Pohon
Sriwil kutil memiliki nama ilmiah Pterocymbium tinctorium (Blanco) Merr. Di Indonesia, tumbuhan ini juga dikenal dengan nama kelumbuk, hantap, dan sriwil. Ia termasuk famili Malvaceae atau suku kapas-kapasan, kelompok tumbuhan berbunga yang tersebar luas di wilayah tropis.
Pohon berkayu ini dapat tumbuh hingga sekitar 50 meter. Perawakannya yang tinggi membuat tajuknya mudah terlihat dari kejauhan, sementara bunganya memiliki bentuk khas menyerupai serangga. Setelah mengering, bunga tersebut berubah kemerahan dan berguguran. Bagian buahnya menghasilkan folikel berbiji dengan struktur menyerupai sayap yang memungkinkan biji berputar dan melayang ketika jatuh.
Keunikan itulah yang tercermin dalam nama genusnya. Pterocymbium berasal dari bahasa Yunani, gabungan kata pteron yang berarti sayap dan kymbion yang berarti perahu [
1Singh B, Adhikari D, Barik S, Chettri A (2013) Pterocymbium tinctorium (Merrill, 1901) (Magnoliophyta: Malvales: Sterculiaceae: Sterculioideae): new record from mainland India and extension of geographic distribution. Check List 9(3): 622-625. https://doi.org/10.15560/9.3.622
]. Nama tersebut merujuk pada bentuk folikel bersayap yang menyerupai perahu. 
Sementara itu, epitet tinctorium berakar dari bahasa Latin tingere, yang berarti “menjadi semburat” [
2Merriam-Webster. (n.d.). Tinctorial. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved October 27, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/tinctorial
]. Ini berkaitan dengan kegiatan mewarnai. Nama ini mengisyaratkan pemanfaatan pohon tersebut sebagai sumber bahan pewarna alami.
Jejak ilmiahnya bermula pada 1837, ketika botanis Spanyol Francisco Manuel Blanco (1778-1845) mendeskripsikan tumbuhan ini sebagai Heritiera tinctoria dalam Flora de Filipinas [
3Blanco, M. (1837). Flora de Filipinas: Segun el sistema sexual de Linneo (p. [I]-LXXVIII, [1]-887 p.; 20,5 cm). Manila: En la imprenta de Sto. Tomás por D. Candido Lopez. https://bibdigital.rjb.csic.es/records/item/9493-flora-de-filipinas
]. Pada 1905, botanis Amerika Elmer Drew Merrill (1876-1956) kemudian memindahkannya ke dalam genus Pterocymbium [
4Merrill, Elmer D. (1905). A Review of The Identifications of The Species Desribed in Blancos’s Flora de Filipinas. Manila: Bureau of Government Laboratories, Bureau of Public Printing. https://www.biodiversitylibrary.org/page/38859755
]. Sejak itu, nama Pterocymbium tinctorium digunakan untuk mengenali spesies ini.
Sebarannya meliputi kawasan tropis Asia, dari India hingga Indonesia. Di Nusantara, sriwil kutil dapat dijumpai di berbagai kawasan hutan, termasuk vegetasi perbukitan di sekitar Pantai Wedi Ireng.

Ranting-ranting sriwil kutil (Pterocymbium tinctorium) yang membentuk kanopi dengan bunga warna merah


Dari Penanda Musim hingga Mainan Anak
Jauh sebelum orang sibuk mencari nama ilmiah tumbuhan, masyarakat telah mengenali sriwil kutil melalui apa yang mereka lihat dan alami. Biji bersayapnya bukan sekadar bagian dari siklus reproduksi pohon, melainkan juga bagian dari pengetahuan lokal tentang musim.
Ketika biji-biji itu berputar jatuh, masyarakat Jawa mengaitkannya dengan berakhirnya kemarau dan datangnya waktu untuk mulai menanam padi. Pengetahuan semacam ini memperlihatkan bagaimana perubahan kecil di alam dapat menjadi petunjuk bagi kehidupan agraris. Pepohonan tidak hanya menyediakan keteduhan, tetapi juga menyampaikan isyarat yang dibaca turun-temurun.
Kenangan lain datang dari Padangan, Bojonegoro. Sekitar tahun 1965-an, bunga sriwil kutil konon banyak dijual di pasar untuk dijadikan mainan anak-anak. Bunga itu diikat menggunakan benang, lalu disambungkan dengan batang lidi. Ketika dibawa berlari kencang, bunga akan berputar seperti kipas kecil.
Dari benda sederhana itu, anak-anak menemukan kesenangan tanpa perlu mainan buatan pabrik. Gerak bunga yang berputar menjadi hiburan sekaligus bukti bahwa alam kerap menyediakan bahan permainan yang dekat, murah, dan mudah dijumpai.
Bentuk khas sriwil kutil juga menginspirasi motif batik lokal, antara lain di kawasan Papring dan Bojonegoro. Motif yang mengambil unsur tumbuhan menjadi salah satu cara masyarakat mengabadikan lingkungan sekitarnya dalam karya budaya. Hubungan manusia dengan pohon pun tidak berhenti pada kebutuhan praktis, tetapi meresap ke dalam ingatan, kreativitas, dan identitas setempat.

Batang sriwil kutil (Pterocymbium tinctorium) bagian bawah 


Kayu Lunak, Pewarna, dan Pengetahuan Tradisional
Di balik bentuknya yang menarik, sriwil kutil menyimpan beragam kegunaan. Serat dari kulit kayunya dapat dimanfaatkan untuk membuat tali. Kayunya yang berwarna putih, ringan, dan lunak digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari konstruksi ringan, korek api, venir, pelampung, hingga bahan baku bubur kertas [
5Tropical Plants Database, Ken Fern. tropical.theferns.info. 2026-10-28.
].
Kulit kayunya juga memiliki riwayat pemanfaatan dalam pewarnaan. Bahan ini digunakan untuk membantu menghasilkan warna hitam pada kain katun, kemungkinan berkaitan dengan kandungan tanin di dalamnya. Sementara itu, penggunaan pohon sebagai sumber pewarna alami turut tercermin dalam nama ilmiahnya.
Dalam pengobatan tradisional di Indonesia, air rebusan kulit kayu yang telah ditumbuk dilaporkan digunakan untuk membantu mengatasi sakit kepala, demam, nyeri tubuh, rematik, dan gangguan saluran kemih [
6Taluto / Pterocymbium tinctorium / Bellflower sterculia / Winged boot tree/ Alternative Medicine. (n.d.). https://www.stuartxchange.org/Taluto
]. 
Di sejumlah wilayah lain, rebusan kulit kayunya juga tercatat dalam praktik pengobatan tradisional untuk gangguan pencernaan [
7Mphande, I., Kataba, A., Muzandu, K., & Gono-Bwalya, A. (2022). An Evaluation of the Antibacterial Activity of Pterocarpus tinctorius Bark Extract against Enteric Bacteria That Cause Gastroenteritis. Evidence-based complementary and alternative medicine : eCAM, 2022, 7973942. https://doi.org/10.1155/2022/7973942
]. Namun, pemanfaatan turun-temurun tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan keamanan maupun khasiat medisnya, sehingga tidak dapat menggantikan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat.
Kini, dua pohon sriwil kutil di lereng Wedi Ireng menghadirkan lebih dari sekadar pemandangan. Pada batangnya tersimpan kisah pemanfaatan kayu dan kulit kayu; pada bunganya, kenangan permainan masa kecil; sedangkan pada biji bersayapnya, pengetahuan tentang musim yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Mungkin itulah alasan pohon ini layak diperhatikan. Di tengah lanskap pantai yang kerap dipandang hanya dari keindahan lautnya, sriwil kutil mengingatkan bahwa setiap sudut alam memiliki cerita. Kadang, cerita itu datang dalam bentuk biji kecil yang berputar tertiup angin - seolah kincir mungil yang mengabarkan perubahan musim sekaligus menghubungkan manusia dengan tanah tempat mereka hidup. *** [281026]


logoblog

Thanks for reading Pterocymbium tinctorium, Sriwil Kutil Berbiji Bersayap

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog