Senin, Desember 14, 2009

KASIH SAYANG SEORANG AYAH

  Budiarto Eko Kusumo       Senin, Desember 14, 2009
Ketika Rasulullah SAW masih hidup, datanglah seorang pemuda yang mengadu kepada beliau tentang ayahnya yang suka mencuri harta milik sang anak. Rasul SAW berujar, “Panggillah ayahmu untuk menghadapku!” Sang pemuda menurut perintah Rasul SAW. Ia pergi ke rumah meninggalkan beliau demi memanggil sang ayah untuk datang menghadap Rasul. Saat pemuda pergi untuk memanggil ayahnya, maka datanglah Jibril As menghampiri Rasulullah SAW. Jibril berkata, “Wahai Muhammad, bila ayah pemuda itu datang maka tanyakanlah padanya apa yang telah ia ucapkan dalam hati dan tidak terdengar oleh kedua telinganya!” Beberapa saat kemudian, sang pemuda sungguh datang menghadap Rasulullah sambil membawa ayahnya. Sesampainya dihadapan Rasulullah SAW, beliau bertanya kepada ayah pemuda tadi, “Wahai bapak, anakmu mengadu bahwa engkau telah mencuri hartanya, apakah ini benar?” Maka sang ayah menjawab, “Ya Rasul, silakan tanya kepadanya telah aku apakan uangnya, apakah aku berikan kepada bibinya atau aku makan sendiri?” Rasulullah SAW lalu menukas, “Izinkanlah aku untuk tidak membahas hal ini. Namun bolehkah aku tahu apa yang telah kau ucapkan dalam hati dan tidak terdengar oleh kedua telingamu?” Itulah pertanyaan yang disampaikan Jibril As kepada Rasulullah SAW untuk ditanyakan kepada ayah dari pemuda tadi. “Demi Allah, aku semakin percaya bahwa engkau adalah utusan Allah. Aku memang telah mengucapkan sesuatu dalam hati yang tiada terdengar oleh kedua telinga ini.” Lanjut sang ayah, “Sampaikanlah ucapanmu itu!” Rasulullah SAW mempersilakan. Tidak disangka, ayah pemuda tadi lalu membaca sebuah syair yang ia gubah untuk si pemuda; buah hati dan belahan jiwa ayahnya.

Saat engkau lahir, aku memberimu makanan
Saat kau beranjak besar, aku selalu setia menjagamu
Engkau diberi minum atas jerih payahku
Jika kau sakit di malam hari, selama itu mataku tak terpejam
Tak bisa ku tidur karena memikirkan sakitmu
Hingga tubuhku limbung sebab kantuk yang menyerang
Seolah akulah yang sakit, bukan engkau wahai anakku
Aku meneteskan air mata sebab khawatir engkau akan mati
Padahal aku tahu bahwa ajal manusia telah digariskan
Saat engkau beranjak dewasa
Saat di mana telah pantas aku menggantungkan diri padamu
Kau balas diriku dengan kekerasan dan kekasaran
Seakan engkau adalah satu-satunya pemberi kebaikan padaku
Andai saja ketika tak dapat kau penuhi hakku sebagai ayah
Kau perlakukan aku tak ubahnya seperti seorang jiran yang hidup bertetangga

Usai mendengarkan syair tersebut, Rasulullah SAW meneteskan air mata lalu menghardik sang anak dengan sabdanya, “Anta wa maaluka li abiika” (Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu) (HR. Abu Daud & Ibnu Majah).
Boleh jadi ada orang di antara kita yang suka mensia-siakan orang tuanya. Orang yang telah membesarkan kita dengan susah payah, yang telah menghantarkan kita ke gerbang kesuksesan seperti hari ini. Marilah kita bertaubat kepada Allah dan mohon ampun kepada orang tua kita bila mereka masih hidup atas segala kesilapan dan kesalahan yang pernah kita lakukan untuk mereka. Bila keduanya sudah tiada, maka berdoalah agar keduanya senantiasa mendapatkan rahmat dari Allah Yang Maha Penyayang. Rasul bersabda: “Ridhallahi fi ridhal waalidaini, wa sukhtullahi fii sukhtil walidaini.” Artinya, keridhaan Allah bergantung pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan Allah juga berlaku sedemikian.

Source: Tazkirah Edisi: 03 Tahun 2009 hal. 3, diterbitkan oleh IKADI Aceh
logoblog

Thanks for reading KASIH SAYANG SEORANG AYAH

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog