Selasa, Agustus 26, 2025

Bertemu Rasa Percaya yang Pernah Luka

  Budiarto Eko Kusumo       Selasa, Agustus 26, 2025
Salah satu buku yang terpajang dalam rak-rak Gramedia Kayutangan Kota Malang

Hari Senin (25/08), pulang dari Kantor Imigrasi Malang, langkah saya berbelok ke Gramedia Kayutangan yang beralamatkan di Jalan Jenderal Basuki Rahmat No. 3 Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang. 
Toko buku yang selalu berhasil membuat saya betah berlama-lama, entah sekadar mencium aroma buku baru, atau mencari kejutan dari rak-rak sunyi yang menyimpan kisah manusia. Gramedia ini bukan toko buku biasa. Ia seperti perpustakaan publik tempat kita bisa meraba denyut batin zaman melalui halaman-halaman yang tercetak.
Di lantai dua, sisi timur bagian utara, mata saya tertumbuk pada sebuah judul yang cukup provokatif: "Saat Kau Terluka Karena Rasa Percaya" karya Ida Raihan, terbitan Caesar Media Pustaka pada 14 Juli 2023. Jujur, judulnya seperti memanggil isi hati yang belum sepenuhnya pulih.
Saya ambil bukunya. Sinopsisnya langsung menusuk:
“Kepercayaan itu seperti selembar kertas, sekali kamu remas, kusutnya tidak akan pernah bisa kamu luruskan kembali.”
Kalimat itu sederhana, namun menyimpan kepedihan yang nyaris universal. Bukankah hampir semua dari kita pernah menjadi korban kepercayaan yang disia-siakan? Entah oleh pasangan, keluarga, teman seperjuangan, bahkan orang yang dulu kita anggap mumpuni. Dan yang paling menyakitkan adalah seringkali pengkhianatan itu datang justru dari mereka yang paling dekat.

Psikologi Kepercayaan dan Luka yang Mengintai
Sebagai makhluk sosial, kita hidup dalam jaringan yang rumit: keluarga, sekolah, pekerjaan, komunitas. Semua jaringan itu dibangun atas satu fondasi utama: kepercayaan. Tanpa kepercayaan, relasi berubah menjadi sekadar transaksi; tanpa kepercayaan, hidup kehilangan rasa aman.
Dalam psikologi, kepercayaan (trust) bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ia dibentuk dari interaksi yang berulang, dari kesan yang terkumpul, dari kejujuran yang konsisten. Dan karena itulah, ketika kepercayaan itu dilukai, maka luka yang ditinggalkan tidak hanya bersifat emosional. Ia juga menyerang identitas, harapan, bahkan rasa aman dasar seseorang.
Ida Raihan, dalam bukunya, menyajikan 10 kisah nyata tentang pengkhianatan dan penyembuhan. Buku ini bukan sekadar pelipur lara, melainkan sebuah panduan kontemplatif untuk mereka yang ingin pulih. Pesan utamanya jelas: kamu boleh jatuh, tapi jangan biarkan dirimu hancur.

“Trauma Itu Sakit, Tapi Kamu Harus Tetap Bangkit”
Ida menegaskan bahwa pengkhianatan bisa muncul di mana saja. Di ranah asmara, keluarga, pertemanan, bahkan dalam kerja tim yang selama ini terasa solid. Ketika kita dikhianati, respons alami manusia adalah marah, kecewa, terluka, bahkan ingin membalas. Tapi, sebagaimana dikatakan penulis, jalan penyembuhan bukan melalui balas dendam, melainkan melalui refleksi dan kontemplasi.
Kontemplasi adalah proses psikologis yang mendalam. Ia bukan hanya berpikir ulang tentang kejadian, tapi juga menata ulang perasaan dan keyakinan. Dalam refleksi yang jujur, kita perlahan bisa mengurai benang kusut: mengapa kita percaya? Apakah kita buta? Atau apakah kita terlalu berharap dari seseorang yang tidak mampu menampungnya?

Menelusuri Jejak Rabi’ah al-Adawiyyah
Buku Ida Raihan ini menyentuh lapisan spiritual ketika dikolaborasikan dengan kisah Rabi’ah al-Adawiyyah, seorang sufi perempuan agung yang telah mencapai titik tertinggi dalam pencarian makna hidup. Rabi’ah tidak membenci, bahkan terhadap kejahatan. Cintanya pada Tuhan sudah menyerap total, hingga tak ada ruang tersisa untuk dendam atau luka.
Ini mungkin tampak terlalu tinggi untuk kita yang masih terluka. Tapi pesan dari Rabi’ah adalah ini: kesembuhan dimulai dari melepaskan. Melepaskan bukan berarti kalah, melainkan menyelamatkan jiwa dari racun dendam yang menggerogoti perlahan.
Mohammad Shafii dalam bukunya, “Freedom from The Self” (2004) mengisahkan tentang Rabi’ah al-Adawiyyah yang secara sederhana menampilkan sifat-sifat psikologis insan kamil atau “manusia sempurna.”
Rabi’ah ditanya, “Apakah saudari mencintai Tuhan?”
Rabi’ah menjawab, “Ya.”
“Apakah saudari membenci orang jahat?”
Rabi’ah menjawab, “Tidak. Cintaku pada Tuhan memenuhi hatiku sehingga tiada tempat untuk membenci kejahatan atau setan.”
Rabi’ah bermimpi bertemu Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Nabi bertanya kepada Rabi’ah, “Wahai Rabi’ah apakah engkau cinta padaku?”
Rabi’ah berkata, “Wahai Utusan Allah, siapa yang tidak mencintai Nabi, tetapi cintaku kepada Tuhan telah menyerap ke seluruh jiwa ragaku sehingga tidak ada lagi cinta atau benci yang tersisa dalam hatiku.”

Jalan Pulang Menuju Diri Sendiri
Pulang dari Gramedia Kayutangan, saya tidak hanya membawa buku. Saya membawa renungan baru. Bahwa dalam setiap pengkhianatan, ada peluang untuk bertumbuh. Bahwa sakit hati adalah bagian dari menjadi manusia. Bahwa kepercayaan, meski rapuh, tetap harus dijaga - karena ia adalah jembatan menuju hubungan yang bermakna.
Dan yang paling penting: kita tidak sendiri. Cerita dalam buku ini membuktikan bahwa banyak orang mengalami hal serupa. Dan mereka bisa bangkit. Maka kamu pun bisa.

Kepercayaan adalah investasi batin. Sekali rusak, mungkin tak akan utuh kembali. Tapi dari retaknya, kita bisa belajar membangun batas, mengenali diri, dan memperkuat intuisi. Buku “Saat Kau Terluka Karena Rasa Percaya” adalah lentera kecil yang menuntun pada kesadaran bahwa kepercayaan tidak selalu menghasilkan keadilan, tetapi kehilangan kepercayaan bukan akhir dari segalanya.
Karena dalam setiap luka, selalu ada peluang untuk menjadi versi dirimu yang lebih bijak. “Mungkin luka itu takkan hilang. Tapi kamu bisa berdamai dengannya.”  Setidaknya inilah makna tersirat dari Ida Raihan dalam bukunya tersebut.
Jika kamu tertarik, kamu bisa mendapatkan buku ini langsung di Gramedia Kayutangan - rak lantai dua, sisi timur bagian utara. Siapa tahu, seperti saya, kamu menemukan bagian dari dirimu yang terlupa di sana. *** [260825]


logoblog

Thanks for reading Bertemu Rasa Percaya yang Pernah Luka

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog