![]() |
| Kamitetep (Phereoeca uterella) yang menempel di dinding Sekretariat SMARThealth Kepanjen |
Saat musim hujan tiba, udara di Sekretariat SMARThealth Kepanjen berubah menjadi lembap. Pada dinding-dinding tembok yang mengembun, muncul barisan kecil penghuni diam - kamitetep. Mereka menempel, merayap perlahan, seolah sedang menikmati kesejukan musim. Selama berhari-hari mereka bertahan di sana, nyaris tak bergerak, hanya meninggalkan jejak kehadiran berupa kantong kecil berbentuk biji labu yang melekat pada permukaan dinding.
Si “Pembawa Rumah”, Tetangga Kecil yang Sering Tak Disadari
Kamitetep adalah nama lokal Indonesia untuk Phereoeca uterella, spesies ngengat dari famili Tineidae yang lebih dikenal bukan dari bentuk dewasanya, melainkan dari fase larvanya. Larva kamitetep hidup di dalam kantong pelindung - sebuah “rumah portabel” berbentuk pipih, fusiform, menyerupai biji labu. Kantong ini terbuat dari sutra yang dipintal larva dan ditempeli butiran pasir, tanah, rambut, serat kain, hingga debu rumah.
Kantong itu terbuka di kedua ujungnya, memungkinkan larva keluar-masuk sambil tetap terlindungi. Ketika disentuh atau terganggu, larva akan segera menarik tubuhnya masuk dan menutup diri rapat-rapat, menjadikan “rumah”-nya sebuah benteng mini yang sulit dibongkar dari luar.
Nama ilmiah Phereoeca uterella mencerminkan filosofi hidupnya. Kata Phereoeca berasal dari Yunani: phero berarti membawa, dan oikos berarti rumah [
1Genus Phereoeca - Household Casebearer Moths. (n.d.). 2003-2025, Iowa State University. https://bugguide.net/node/view/27382
]. Sementara uterella, dari bahasa Latin uter (kantong kulit/kantung air), menggambarkan bentuk “rumah” sutra berbutir pasir yang dibawanya ke mana-mana [2Species Phereoeca uterella - Household Casebearer - Hodges#0390. (n.d.). 2003-2025, Iowa State University. https://bugguide.net/node/view/27383#:~:text=2)-,Identification,of%20a%20cantaloupe%20or%20pumpkin
]. Sejak pertama kali dideskripsikan oleh Lord Walsingham (1843-1919) pada tahun 1897 sebagai Tineola uterella, spesies ini mengalami revisi taksonomi hingga akhirnya diklasifikasi dalam genus Phereoeca - tanpa mengubah penulis dan tahun deskripsinya (ditulis sebagai Phereoeca uterella (Walsingham, 1897)).
Hidup di Ruang Lembap Rumah Kita
Keberadaan kamitetep di rumah tidaklah aneh. Mereka menyukai area lembap, gelap, dan jarang dibersihkan - dinding yang teduh, belakang lemari, sudut bawah tempat tidur, atau ruangan yang jarang dipakai.
Mereka tidak menggigit atau menyengat, tetapi bulu-bulu halus pada permukaan kantongnya dapat menyebabkan iritasi kulit bagi sebagian orang: gatal, ruam ringan, atau kemerahan bila tersentuh langsung.
Karena alasan inilah kamitetep kerap dianggap sebagai hama rumah tangga. Bukan larva itu sendiri yang berbahaya, melainkan kemungkinan kerusakan pada bahan-bahan organik seperti rambut, wol, kain felt, atau sutra - favorit seluruh kelompok ngengat Tineidae.
Arsitek Mini: Bagaimana Kamitetep Membangun Rumahnya
Larva membangun “rumah pertamanya” sejak fase instar awal, bahkan sebelum benar-benar aktif bergerak. Mereka mengeluarkan sutra yang kemudian melekat di substrat sebagai dua lengkungan awal. Butiran pasir, karat besi, sisa serangga, hingga serpihan sangat halus dari lingkungan disusun rapi sebagai dinding luar. Bagian dalamnya dilapisi sutra murni yang lembut.
Dengan setiap pergantian kulit, kantong itu diperluas: memanjang, melebar di bagian tengah, dan tetap simetris di kedua ujung. Pada tahap akhir, kantong mencapai panjang 8–14 mm dan lebar 3–5 mm. Larvanya sendiri berkisar 7 mm panjangnya, berwarna putih dengan kepala cokelat tua, serta lempeng dorsal-toraks yang mengeras - pelindung alami saat ia harus keluar dari kantong untuk bergerak.
Geraknya yang lambat dan unik - menarik rumahnya ke belakang sambil merayap - menjadikan kamitetep seperti pengembara kecil yang tak pernah meninggalkan tempat tinggalnya.
Dalam Perspektif Etnozoologi: Kamitetep dalam Budaya Rumah Tangga Indonesia
Dalam masyarakat Indonesia, kamitetep sering dianggap sekadar “anak ulat kantong” atau “ulat plester” - padahal sebenarnya bukan bagian dari famili Psychidae (ulat kantong sejati), tetapi Tineidae. Kekeliruan identifikasi ini begitu umum sehingga banyak orang menyebutnya “ulat kantong plester”, nama yang kini dianggap kurang tepat.
Dalam kehidupan sehari-hari, kamitetep memunculkan hubungan khas antara manusia dan serangga rumahan:
Sebagai indikator kelembapan ruang. Kehadirannya sering menandakan area rumah yang terlalu lembap atau kurang ventilasi.Sebagai bagian dari mikrofauna domestik. Ia hidup berdampingan dengan manusia tanpa interaksi langsung.Sebagai organisme yang memicu respons budaya. Ada yang menganggapnya mengganggu, ada yang justru memandangnya sebagai hewan lucu yang “membawa rumah”.
Kamitetep, dalam banyak rumah, bukan sekadar hama, melainkan penanda ekologis kecil tentang kondisi lingkungan mikro di sekitar kita.
Di tengah tembok lembap Sekretariat SMARThealth, kamitetep-kamitetep itu terus merayap dengan tenang, membawa rumahnya di punggung bagai pejalan kosmopolitan dunia mini. Mereka hadir tanpa banyak suara, tetapi menyimpan kisah panjang: tentang sejarah ilmiah sejak abad ke-19, tentang strategi bertahan hidup yang cermat, dan tentang hubungan rumit manusia dengan makhluk-makhluk kecil di sekitar tempat tinggalnya.
Kamitetep adalah pengingat bahwa dalam ruang seharian kita, dunia lain yang lebih kecil pun terus berlangsung dengan ritme dan logikanya sendiri. *** [261125]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar