Selasa, Oktober 27, 2026

Pantai Mustika Banyuwangi: Menemukan Ketenangan di Balik Petualangan Laut

  Budiarto Eko Kusumo       Selasa, Oktober 27, 2026
“Come to the sunny sandy beach the grand blue sea has much to teach. Learn to relax from a day of play. Watch your cares just melt away.” -- Linda Doty, By the Sea
Ada pantai yang memanggil kita untuk berlari mengejar ombak, ada pula yang mengajak kita berhenti sejenak, duduk diam, dan membiarkan waktu mengalir bersama debur laut. Pantai Mustika di Banyuwangi adalah keduanya. Di atas hamparan pasir keemasan yang melengkung bagai sabit, angin pesisir berembus lembut, sementara pohon-pohon kelapa berdiri teduh seolah menawarkan tempat bernaung bagi siapa saja yang ingin berdamai dengan pikirannya sendiri.
Kamis (22/10), Pantai Mustika menjadi titik temu sebelum sebuah petualangan laut dimulai. Bersama para enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Sarimulyo, perjalanan menuju Green Island dan gugusan Pulau Bedil diawali dari pantai yang terletak di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, ini.

Bangku-bangku di tepi Pantai Mustika, Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi

Letaknya strategis, di antara Pantai Pulau Merah dan Pantai Pancer, tepatnya di sisi timur kawasan tempat kapal-kapal nelayan berlabuh di Teluk Pancer. Untuk mencapainya, pengunjung dapat berjalan kaki sekitar tiga hingga empat kilometer ke arah barat dari Pantai Pulau Merah. Alternatifnya, sebelum memasuki pintu masuk Pulau Merah, terdapat jalan desa di sisi kanan yang mengarah ke Pantai Mustika.
Begitu tiba, bentang pasir putih keemasan menyambut pandangan. Garis pantainya membentuk setengah lingkaran, menciptakan lanskap yang lapang dan menawan. Ratusan pohon kelapa menghiasi kawasan sekitarnya, menghadirkan perpaduan antara teduhnya daratan dan birunya lautan. Ruang terbuka ini terasa begitu bersahabat. Anak-anak bisa berlarian di atas pasir, sementara pengunjung lain berjalan santai menikmati udara laut yang segar.
Di sini, pantai bukan sekadar latar untuk berfoto. Hamparan pasirnya menawarkan ruang untuk bergerak, berolahraga, atau sekadar menanggalkan sejenak kesibukan sehari-hari. Duduk di bawah naungan kelapa sambil memandang laut yang jernih pun sudah cukup menjadi pengalaman tersendiri.

Pasir putih membentang di Pantai Mustika yang berada di Teluk Pancer


Mustika yang Tertinggal, Legenda yang Bertahan
Keindahan pantai ini juga lekat dengan cerita rakyat yang diwariskan dari mulut ke mulut. Konon, Pantai Mustika memiliki hubungan dengan Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan. Alkisah, sang ratu tak sengaja meninggalkan mustikanya di kawasan pantai tersebut. Benda berharga itu kemudian ditemukan seorang warga setempat.
Menyadari bahwa mustika tersebut diyakini milik Ratu Kidul, sang penemu melemparkannya kembali ke laut dengan harapan benda itu sampai kepada pemiliknya. Dari kisah itulah, menurut legenda masyarakat setempat, nama Pantai Mustika berasal.
Benar atau tidaknya cerita itu, legenda tersebut menambah lapisan makna pada pesona pantai ini. Di antara debur ombak dan cakrawala yang membentang, alam dan kepercayaan lokal bertemu dalam sebuah kisah yang terus hidup.
Pantai Mustika juga menyimpan daya tarik di bawah permukaan air. Di bagian timurnya, terdapat lokasi snorkeling yang menawarkan pemandangan terumbu karang alami di tengah perairan jernih. Sayangnya, agenda perjalanan kali ini lebih berfokus pada Green Island dan gugusan Pulau Bedil. Kesempatan untuk menyelami keindahan bawah laut itu pun belum sempat dimanfaatkan.

Papan nama di tepi Pantai Mustika Pancer


Ruang Biru untuk Memulihkan Diri
Kami menikmati Pantai Mustika selama sekitar setengah jam sebelum bertolak menuju Green Island dan gugusan Pulau Bedil. Setelah menjelajahi laut dan mengunjungi Pantai Wedi Ireng, kami kembali singgah selama setengah jam. Waktu yang singkat, tetapi cukup untuk merasakan sisi lain petualangan: bukan lagi tentang mengejar destinasi, melainkan memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat.
Kawasan perairan memang menawarkan lebih dari sekadar keindahan visual. Penelitian lintas negara menunjukkan bahwa menghabiskan waktu luang di kawasan perairan yang aman dapat membantu memulihkan sumber daya kognitif dan emosional yang terkuras sekaligus memperkuat hubungan manusia dengan alam [
1Fried, N., Wala, A., Elliott, L., Pahl, S., Arnberger, A., Bell, S., Bratman, G., Browning, M., Fleming, L., Grellier, J., Nieuwenhuijsen, M., Ojala, A., Roiko, A., Van Den Bosch, M., Wheeler, B., & White, M. (2026). The restorative power of blue spaces: A 19-country study. Landscape and Urban Planning, 276, 105739. https://doi.org/10.1016/j.landurbplan.2026.105739
].
Gagasan ini selaras dengan konsep blue mind atau “pikiran biru”, istilah yang dipopulerkan ahli biologi kelautan Wallace J. Nichols pada 2015. Konsep tersebut menggambarkan keadaan mental positif yang dapat muncul ketika seseorang berada di dekat, di dalam, atau di atas air. Seperti ruang hijau, ruang biru (blue space) berpotensi mendukung kesejahteraan mental dan emosional melalui pengalaman yang menenangkan [
2Salamone, S. (2025, August 13). Protecting “Blue Spaces” to Protect Mental Health. Conservation Law Foundation. https://www-clf-org.translate.goog/blog/protecting-blue-spaces-to-protect-mental-health/?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc
].
Di Pantai Mustika, gagasan itu terasa sederhana sekaligus nyata. Duduk memandangi laut, merasakan angin menyentuh wajah, dan mendengarkan ombak berulang kali menyapu pasir menghadirkan kesempatan untuk berhenti dari hiruk-pikuk rutinitas.

Dermaga, tempat berlabuh dan kembali dari berpetualangan laut di sisi barat Pantai Mustika

Linda Doty, penulis asal Amerika dalam By the Sea (2025), pernah menuliskan sebuah ajakan yang terasa tepat untuk menggambarkan momen semacam ini:
“Datanglah ke pantai berpasir yang cerah; lautan biru yang luas menyimpan banyak pelajaran. Belajarlah untuk bersantai setelah seharian bermain. Biarkan segala beban pikiranmu sirna begitu saja.”
Petualangan laut memang menyuguhkan pengalaman yang mengesankan. Namun, ada kalanya kenangan terbaik justru lahir ketika perjalanan usai, saat kita duduk tanpa tergesa-gesa dan membiarkan alam mengambil alih sejenak ruang di kepala.
Pantai Mustika mengajarkan bahwa menikmati laut tak selalu berarti menaklukkan ombak atau menjelajahi pulau-pulau. Terkadang, cukup dengan duduk di atas pasir keemasan, berteduh di bawah kelapa, dan memandang birunya cakrawala, kita dapat menemukan kembali sesuatu yang kerap hilang di tengah kesibukan, yaitu ketenangan.
Di pantai ini, petualangan tak hanya membawa kita ke tempat baru, tetapi juga mengantar kita pulang kepada diri sendiri. *** [271026]


logoblog

Thanks for reading Pantai Mustika Banyuwangi: Menemukan Ketenangan di Balik Petualangan Laut

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog