Siang itu, saya melihat beberapa pohon kranji yang sedang berbunga di Pantai Wedi Ireng saat diajak berpetualangan laut oleh enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Sarimulyo di penghujung tugasnya di Green Island dan gugusan Pulau Bedil yang berada di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Di antara debur ombak dan terik yang membakar, pohon-pohon itu berdiri tenang, seolah menjadi penjaga pantai yang tak pernah diminta tampil.
Pohon kranji bukanlah tumbuhan sembarangan. Ia salah satu tumbuhan asli Pulau Jawa yang telah dibukukan oleh dua botanis Belanda, Sijfert Hendrik Koorders dan Theodoric Valeton, dalam Atlas der Baumarten von Java vol. 1 (1913), halaman 23. Dalam buku itu, sosoknya digambarkan dengan indah oleh Maestro Plant Illustration, M. Mangoendimedjo [
1Koorders, Sijfert Hendrik, & Valeton, Theodoric. (1913). Atlas der baumarten von Java: im anschluss an die “Bijdragen tot de kennis der boomsoorten van Java”/ zusammengestellt von dr. S.H. Koorders und dr. Th. Valeton ; mit unterstützung der Niederländsch- indischen regierung ; Herausgegeben von dr. S.H. Koorders (Vol. 1). Leiden: Buch- und Steindruckerei. https://www.biodiversitylibrary.org/page/47236744
]. Bayangkan, lebih dari seabad lalu, seorang ilustrator telah menangkap keasrian kanopinya, jauh sebelum kata "konservasi" menjadi populer di negeri ini.![]() |
| Pohon kranji berkanopi asri tumbuh subur di Pantai Wedi Ireng, Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi |
Kranji tumbuh di sepanjang pantai berbatu dan berpasir, juga di hutan bakau. Bunganya berwarna merah muda hingga putih, dan harum. Setelah penyerbukan oleh serangga, terbentuklah polong buah berwarna cokelat muda. Di dalamnya tersimpan biji yang mengandung minyak pongam - minyak yang pernah menjadi sumber penerangan [
2Flora & Fauna Web. (n.d.). Pongamia pinnata. NParks. Retrieved October 25, 2026, from https://www-nparks-gov-sg.translate.goog/florafaunaweb/flora/3/0/3027?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sge
] masyarakat pesisir sebelum listrik menyapa pelosok.Nama ilmiahnya, Pongamia pinnata (L.) Pierre, menyimpan cerita tersendiri. Genus Pongamia berasal dari bahasa Tamil pongam, sebutan lokal tanaman ini di sana. Adapun julukan pinnata berasal dari bahasa Latin pinnatus (bentuk femininnya pinnata), yang berarti "bersirip" atau memiliki daun menyirip, menggambarkan susunan anak daun yang berpasangan di sepanjang tangkai utamanya [
3Jeelani, I., Qadir, T., Sheikh, A., Bhosale, M., Sharma, P. K., Amin, A., Nawaz, A., Sharif, A., Hayee, A., Bilal, M., Aslam, M. R., & Mir, B. A. (2023). Pongamia Pinnata: An Heirloom Herbal Medicine. The Open Medicinal Chemistry Journal, 17(1). https://doi.org/10.2174/0118741045240484231009141434
]. Spesies ini mula-mula dideskripsikan oleh botanis Swedia Carolus Linnaeus (1707–1778) pada 1753 sebagai Cytisus pinnatus dalam Species Plantarum [
4Linné, Carl von, & Salvius, Lars. (1753). Caroli Linnaei ... Species plantarum: exhibentes plantas rite cognitas, ad genera relatas, cum differentiis specificis, nominibus trivialibus, synonymis selectis, locis natalibus, secundum systema sexuale digestas... (Tomus II). Holmiae: Impensis Laurentii Salvii. https://www.biodiversitylibrary.org/page/358580
]. Baru pada 1898, botanis Prancis Jean Baptiste Louis Pierre (1833–1905) merevisinya dan memasukkannya ke genus Pongamia, sebagaimana dipublikasikan dalam Flore forestière de la Cochinchine [5Pierre, Louis. (1898). Flore forestière de la Cochinchine (Vol. 4). Paris: Octave Doin. https://www.biodiversitylibrary.org/page/40705268
].![]() |
| Bunga kranji (Pongamia pinnata) |
Selain nama binomial, Pongamia pinnata mempunyai nama-nama umum: Indian beech, karum tree, pongam-oil tree, seashore mempari, tallow tree (Inggris); arbre de pongolote (Perancis); karanja (Sansekerta); khai, yi-nam (Thailand); seashore mempari (Singapura); kranji (Indonesia); balikbalik, balok (Tagalog); shui huang pi (Cina); kuroyona (Jepang). Di Indonesia sendiri menurut Koorders & Valeton dikenal dengan nama ki pahang, ki pahang laut (Sunda), serta bangkong, kepik, kranji (Jawa).
Kranji termasuk perdu atau pohon dari famili Fabaceae, suku polong-polongan. Tumbuhan ini berasal dari bioma beriklim tropis kering dengan rentang sebaran dari Asia tropis dan subtropis hingga Pasifik barat. Ia berkanopi lebar dan asri, persis seperti yang saya lihat di Wedi Ireng. Di Pulau Jawa, pohon ini tumbuh di sepanjang pesisir utara maupun selatan.
Keistimewaannya tak berhenti pada penampilan. Kranji memiliki laju pertumbuhan cepat, berdaun majemuk hijau mengilap, serta menghasilkan bunga harum menyerupai bunga kacang-kacangan berwarna putih hingga ungu.
![]() |
| Daun kranji (Pongamia pinnata) |
Sebagai pohon legum yang mampu menambat nitrogen, ia tahan terhadap kekeringan, genangan air, bahkan embun beku ringan, dan memiliki toleransi tinggi terhadap salinitas. Ia beradaptasi baik pada kondisi iklim ekstrem maupun berbagai tingkat kelembapan tanah. Di perkebunan teh, tanaman ini kerap ditanam sebagai pohon peneduh dan pemecah angin [
6Al Muqarrabun, L. M. R., Ahmat, N., Ruzaina, S. A. S., Ismail, N. H., & Sahidin, I. (2013). Medicinal uses, phytochemistry and pharmacology of Pongamia pinnata (L.) Pierre: A review. Journal of Ethnopharmacology, 150(2), 395–420. https://doi.org/10.1016/j.jep.2013.08.041
].Secara tradisional, kranji telah lama dimanfaatkan manusia, seperti sebagai kayu bakar, pakan ternak, naungan, dan pengayaan tanah. Bijinya yang berwarna cokelat kemerahan di dalam polong cokelat tua menghasilkan minyak oranye saat ditekan. Minyak itu telah dimanfaatkan berabad-abad untuk penyamakan kulit dan pembuatan sabun, sebagai pelumas, serta secara medis untuk mengobati penyakit kulit dan hati [
7Evans, M. (2021, April 8). Pongamia: Manfaat-Manfaat Potensial Untuk Restorasi Dan Bioenergi Di Indonesia - Landscape Alliance Forests News. Landscape Alliance Forests News. https://www.forestsnews.org/id/71993/pongamia-manfaat-manfaat-potensial-untuk-restorasi-dan-bioenergi-di-indonesia
]. Awadhesh Kumar et.al. (2026) [
8Kumar, A., Laldingliani, T. B. C., Kumar, R., Thangjam, N. M., Vuite, R., Sahu, S. K., Rawat, R., Behl, T., & Eyupoglu, V. (2026). Pongamia pinnata (L.) Pierre leaf extract: in vitro, in vivo, and in silico approaches to combat the waterborne bacterial pathogens associated with diarrheal conditions. Frontiers in Cellular and Infection Microbiology, 16. https://doi.org/10.3389/fcimb.2026.1830625
] melaporkan bahwa dalam pengobatan tradisional, bagian-bagian tanaman ini digunakan untuk menangani bronkitis, batuk, rematik, dan diabetes. Sari atau rebusan daunnya dapat mengatasi pilek, batuk, diare, dispepsia, perut kembung, gonore, dan kusta, serta berfungsi sebagai antiseptik. Minyaknya dijadikan salep pereda rematik. Daun keringnya mengusir serangga saat penyimpanan biji-bijian. Daunnya juga melancarkan pencernaan, bersifat laksatif dan antelmintik, serta digunakan untuk mengobati wasir, luka, dan peradangan.![]() |
| Batang dan ranting kranji (Pongamia pinnata) |
Akarnya membersihkan gusi; daunnya menjadi pupuk hijau penekan populasi nematoda; rantingnya dipakai sebagai kayu kunyah pembersih gigi; dan kulit kayunya di konsumsi secara internal untuk mengobati wasir berdarah.
Di pantai itu, saya berdiri agak lama. Angin laut membawa aroma bunga yang lembut, bercampur bau garam. Enumerator-enumerator muda itu sibuk bercengkerama di gazebo, sementara pohon kranji tetap diam, seperti biasa.
Ia tidak butuh sorotan. Namun justru di situlah pesannya. Pohon yang telah tercatat dalam atlas kolonial, digambar oleh maestro, dan dimanfaatkan lintas generasi ini masih berdiri di garis pantai - menunggu kita menyadari bahwa keasrian yang kita cari ke luar kota ternyata tumbuh tepat di depan mata. *** [251026]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar