![]() |
| Tradisi tandur di Cianjur (Foto: Suryanto/25/10/2025) |
Cianjur, sebuah pagi yang menyejukkan hati. Jam baru menunjukkan pukul 07.20 WIB pada Sabtu (25/10), namun semangat pagi di Group Keluarga telah hangat diterpa sebuah gambar. Paman dari garis Ibu mengunggah sebuah foto yang menyentuh kalbu: tujuh orang berjejer rapi di sawah yang berair, membungkuk, dengan setangkai padi di tangan, siap ditancapkan ke lumpur. Latarnya adalah hamparan persawahan dan bukit yang memhijau. Captionnya sederhana namun penuh makna: "Gotong Royong."
Menurut paman, di tempat tinggalnya sekarang di Desa Peuteuycondong, RT 02 RW 06, Cibeber, Cianjur, tradisi tandur (menanam padi) masih dilaksanakan dengan cara yang sama seperti puluhan tahun silam: gotong royong. Beberapa orang secara sukarela datang membantu tanpa mengharapkan sepeser pun upah. Modal mereka hanya semangat kebersamaan.
Lalu, di mana letak keadilannya? Di sini lah keindahannya. Si empunya sawah yang hari ini dibantu, kelak akan menyediakan tenaganya pula ketika para tetangga yang pernah membantunya itu mulai memasuki masa tandur. Sebuah siklus tolong-menolong yang berputar atas dasar kepercayaan dan rasa saling memiliki.
Apa sebenarnya makna di balik kata yang sering kita dengar namun mungkin sudah jarang kita praktikkan ini? Secara etimologis, Gotong Royong berasal dari kata Gotong yang berarti "bekerja" dan Royong yang berarti "bersama" [
1Koentjaraningrat, R. M. (1984). Kebudayaan Jawa (pp. xiii, 556 p). Jakarta: Balai Pustaka
]. Ini adalah sebuah kegiatan kolektif yang dilakukan secara sukarela demi memperlancar suatu pekerjaan, membuat yang berat menjadi ringan, dan yang mustahil menjadi teratasi.Seperti yang terlihat di foto paman, gotong royong adalah jantung dari banyak interaksi sosial dan ekonomi, khususnya dalam masyarakat tradisional. Lukiyanto & Wijayaningtyas (2020) [
2Lukiyanto, K., & Wijayaningtyas, M. (2020). Gotong Royong as social capital to overcome micro and small enterprises’ capital difficulties. Heliyon, 6(9), e04879. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2020.e04879
] menjelaskan bahwa nilai gotong royong adalah perwujudan nyata dari kebersamaan, baik untuk kepentingan pribadi maupun masyarakat luas. Intinya adalah "membantu" - sebuah tindakan yang manfaatnya lebih banyak dirasakan oleh orang lain daripada untuk diri sendiri. Wujudnya bisa berupa tenaga, waktu, atau bahkan uang.Contohnya jelas terpampang di sawah-sawah Cianjur - gotong royong untuk kepentingan pribadi, seperti membantu tetangga menggarap ladang atau membangun rumah. Sementara untuk kepentingan komunitas, gotong royong hadir dalam pembangunan jalan, jembatan, hingga membersihkan lingkungan.
Dalam skala yang lebih luas, praktik mulia ini adalah modal sosial yang tak ternilai harganya. Modal sosial bukan tentang uang, melainkan tentang jaringan kepercayaan, norma timbal balik, dan ikatan sosial yang mempersatukan masyarakat. Ia adalah pelumas yang membuat mesin komunitas berjalan lebih efisien dan harmonis, memfasilitasi tindakan-tindakan terkoordinasi untuk kebaikan bersama.
Namun, kita tidak bisa menutup mata. Di tengah gerak laju zaman yang kian individualistis dan urban, nilai-nilai gotong royong ini menghadapi tantangan besar untuk tetap lestari. Semangat "aku untukmu" kerap tergerus oleh gaya hidup "aku untukku".
Di tengah kegaduhan modernitas, kita perlu menyegarkan kembali ingatan pada pesan sang Proklamator, Presiden Soekarno, yang dengan berapi-api pernah berujar:
“Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama!”
Semangat yang terkandung dalam pesan Bung Karno itu bukanlah romantisme masa lalu yang usang. Ia adalah sebuah panggilan untuk kembali kepada jati diri. Foto dari paman di Group Keluarga itu adalah bukti nyata bahwa di sudut-sudut negeri, napas gotong royong masih berdenyut. Ia mungkin tak lagi seramai dulu, tetapi nyalanya belum padam.
Di dunia yang terasa kian terfragmentasi, gotong royong bukan lagi sekadar tradisi, melainkan sebuah kebutuhan. Relevansinya justru semakin kuat: sebagai penawar bagi kesenjangan, sebagai perekat di tengah perbedaan, dan sebagai pengingat bahwa kebahagiaan sejati seringkali lahir dari keringat yang kita teteskan bersama untuk membesarkan sebuah harapan.
Mari kita jaga denyutnya, dimulai dari hal kecil di lingkungan terdekat kita. Karena sejatinya, kita masih bisa "menanam padi" bersama, dengan cara kita masing-masing, untuk menuai Indonesia yang lebih baik. *** [261025]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar