Jumat, November 28, 2025

Argiope appensa, Laba-laba Berwajah Perak Tergantung

  Budiarto Eko Kusumo       Jumat, November 28, 2025
Ketika mengisi air kolam dan memberi makan ikan di Sekretariat SMARThealth Kepanjen, saya melihat sosok hewan arachnida yang sedang bertengger anggun di atas daun pakis ekor monyet (Alsophila spinulosa). 
Seekor laba-laba berukuran sedang dengan kilau perak pada tubuhnya tampak sibuk merangkai kembali sarangnya - karya halus yang rusak diterjang hujan lebat beberapa jam sebelumnya. Gerakannya teratur, perlahan, seperti seorang pengrajin yang hafal betul setiap simpul dan anyaman yang harus ia bentuk.
Laba-laba itu adalah Argiope appensa (Walckenaer, 1841), anggota famili Araneidae yang dikenal luas di Kepulauan Pasifik, Hawaii, sebagian Australia, hingga Asia Tenggara. Ia tumbuh subur di iklim tropis yang hangat, termasuk lingkungan kolam yang rimbum di Sekretariat SMARThealth
Spesies ini populer karena ukurannya yang besar dan warnanya yang mencolok - karapasnya tampak perak mengilap, perutnya dihiasi garis kuning-hitam tegas, dan sesekali kakinya menampilkan semburat biru metalik.

Laba-laba Argiope appensa sedang membuat jaringnya dimulai dari tanaman pakis ekor monyet di tepi kolam Sekretariat SMARThealth Kepanjen, Kabupaten Malang

Secara etimologis, nama Argiope berasal dari kata Latin argentum yang berarti “perak”. Ciri khas ini terlihat jelas: tubuh Argiope sering ditutupi bulu-bulu keperakan yang memantulkan cahaya matahari hingga menampilkan warna putih metalik [
1Argiope Audouin, 1826 in Döring M (2022). English Wikipedia - Species Pages. Wikimedia Foundation. Checklist dataset https://doi.org/10.15468/c3kkgh accessed via GBIF.org on 2025-11-27.
]. 
Sementara itu, epitet appensa berasal dari appendo, kata Latin yang berarti “menggantung” - sebuah gambaran sempurna bagi seekor pembuat jaring yang hampir selalu terlihat melayang pada anyaman sutra yang dipintalnya. Sehingga, Argiope appensa bila diterjemahkan secara kasar berarti "laba-laba berwajah perak yang tergantung."
Spesies ini pertama kali dideskripsikan sebagai Epeira appensa oleh entomolog Prancis Charles Athanase Walckenaer (1771-1852) pada 1841 sebelum direvisi ke genus Argiope oleh arachnolog Amerika, Herbert Walter Levi (1921-2014), pada 1983. 
Levi menekankan ciri-ciri khasnya: perut berbentuk perisai atau oval dengan tepi anterior sedikit terpotong, garis melintang halus berwarna hitam, dan pola venter yang menampilkan kombinasi area hitam dengan bercak maupun garis putih yang membingkai titik-titik.

Sehari kemudian jaring laba-laba Argiope appensa sudah terbentuk dan laba-laba itu menggantung di jaringnya

Di dunia internasional, Argiope appensa dikenal dengan beberapa nama umum seperti garden spider, Hawaiian garden spider (Inggris), atau argiope de Hawaii (Prancis). Meski tampak mengintimidasi, ia sepenuhnya tidak berbahaya bagi manusia. Racunnya bersifat neurotoksik, tetapi hanya efektif melumpuhkan mangsa kecil seperti serangga. Dalam ekosistem, ia bahkan memainkan peran penting sebagai pengendali alami hama.

Ukuran dan Anatomi yang Memesona
Betina Argiope appensa dapat mencapai bentang kaki hingga 7 cm, menjadikannya sosok yang menonjol ketika menggantung di jaringnya yang melingkar rapi. Jantan jauh lebih kecil, tak lebih dari 2 cm. 
Perut berbentuk bintangnya berwarna kuning cerah, dipadu garis transversal bening dan bintik gelap yang kontras. Sefalotoraksnya berwarna abu-abu keperakan dengan pola radial halus, sementara kakinya memadukan warna hitam dan perak yang memberi kesan tegas namun elegan [
2Chabannes, P. de. (n.d.). Argiope appensa. A C E E. Retrieved November 27, 2025, from https://www.pierrewildlife.com/searchspecies/otherinvert/spiders-scorpions-and-relatives/spiders/argiopeappensa/
].

Keajaiban Jaring Tipis Namun Kuat
Para peneliti menemukan bahwa jaring laba-laba memiliki ketebalan seribu kali lebih tipis dari rambut manusia, namun tersusun dari ribuan helai nano yang dirajut dengan presisi luar biasa. Struktur ini memberi jaring kekuatan dan elastisitas yang menakjubkan - sebuah bahan alami yang hingga kini masih menginspirasi berbagai bidang, dari plester bedah hingga rancangan pelindung tubuh. Arsitek visioner seperti Frei Otto pun mengakui bahwa banyak ide desain struktural modern berakar dari kejeniusan arsitek alam semacam laba-laba [
3Sedano, I. (2025, January 20). 40 Spider Quotes Appreciating These 8-Legged Creatures (2025). TRVST. https://www.trvst.world/biodiversity/spider-quotes/
].

Dari jaringnya itu, laba-laba Argiope appensa mendapatkan mangsa serangga kecil yang terperangkap dalam jaring

Laba-laba juga memiliki berbagai adaptasi lain untuk bertahan hidup, terutama dalam kemampuan berburu. Mereka menggabungkan strategi getaran, ketangkasan, dan persembunyian untuk memastikan setiap serangga yang terperangkap menjadi sumber energi penting bagi kelangsungan hidupnya.
Seperti yang pernah disampaikan oleh ahli biologi sutra laba-laba asal Amerika, Cheryl Hayashi: 
"Lain kali Anda melihat jaring laba-laba, berhentilah sejenak dan perhatikan lebih dekat. Anda akan melihat salah satu material berperforma tertinggi yang pernah diketahui manusia."
Saat menyaksikan Argiope appensa merangkai jaringnya kembali di antara dedaunan yang basah, saya teringat betapa banyak keajaiban kecil yang kerap luput dari perhatian kita. Di balik tubuh keperakannya, laba-laba ini adalah insinyur, seniman, dan penjaga ekosistem - pengingat bahwa alam selalu menyimpan cerita bagi mereka yang mau berhenti sejenak dan melihat lebih dekat. *** [281125]


logoblog

Thanks for reading Argiope appensa, Laba-laba Berwajah Perak Tergantung

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog