Senin, Mei 11, 2026

Manihot esculenta ‘Variegata’, Singkong Biasa yang Daunnya Berwarna-Warni

  Budiarto Eko Kusumo       Senin, Mei 11, 2026
"All cassava have the same skin but not all taste the same." — African Proverb
Di halaman depan basecamp Tim Enumerator COM-B Cluring, yang berada di Jalan Pahlawan, Dusun Sumberwaru RT 01 RW 06 Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, dua batang singkong tumbuh menarik perhatian. 
Sepintas bentuknya tak berbeda dengan singkong yang biasa ditemukan di kebun-kebun warga. Batangnya ramping, menjulang dengan percabangan khas tanaman tropis. Namun ketika mata tertuju pada daunnya, kesan biasa itu segera sirna.
Lembaran daun singkong tersebut tampak berwarna-warni. Hijau tua berpadu dengan semburat kuning pucat dan putih krem yang menyebar tidak beraturan di setiap helaian. Coraknya menyerupai sapuan cat alami, menjadikan tanaman ini terlihat lebih mirip tanaman hias ketimbang tanaman pangan. 
Inilah singkong variegata, varietas unik dari singkong biasa yang tetap menghasilkan umbi layak konsumsi, tetapi memiliki tampilan daun yang eksotis dan estetik.
Keunikan daun itulah yang membuat Manihot esculenta ‘Variegata’ semakin populer sebagai penghias halaman rumah maupun taman tropis. Meski demikian, secara biologis tanaman ini masih satu spesies dengan singkong konsumsi yang umum dibudidayakan petani.

Dua tanaman singkong variegata (Manihot esculenta) tumbuh di halaman depan basecamp Tim Enumerator COM-B Cluring di Jalan Pahlawan, Dusun Sumberwaru RT 01 RW 06 Desa Tamanagung, Kecamatan Cluirng, Kabupaten Banyuwangi

Nama ilmiahnya tetap Manihot esculenta Crantz. Kata Manihot berasal dari bahasa Tupian atau Tupi-Guaraní, yakni “mandiog” atau “maniot”, sebutan kuno bagi tanaman singkong yang telah tercatat sejak pertengahan abad ke-16 [
1Merriam-Webster. (n.d.). Manihot. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved May 10, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/Manihot
]. 
Sementara itu, kata esculenta berasal dari bahasa Latin “esca” yang berarti makanan. Julukan tersebut dapat dimaknai sebagai “dapat dimakan”, menegaskan bahwa tanaman ini aman dikonsumsi sebagaimana singkong pada umumnya [
[2Merriam-Webster. (n.d.). Esculent. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved May 10, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/esculent
].
Nama ilmiah tersebut pertama kali diperkenalkan oleh botanis Austria, Heinrich Johann Nepomuk von Crantz, pada tahun 1766 melalui publikasi ilmiah Institutiones rei herbariae juxta nutum naturae digestae ex habitu [
3Crantz, H. J. N. von. (1766). Institutiones rei herbariae juxta nutum natur naturae digestae ex habitu (Tomus I). Bibliopolae Viennensis: Impensis Joannis Pauli Kraus. https://ia601606.us.archive.org/4/items/institutionesre01crangoog/institutionesre01crangoog.pdf
]. 
Sejak saat itu, singkong dikenal luas dengan berbagai nama di beragam negara: cassava dan manioc di dunia berbahasa Inggris, maniok di Eropa Utara, mandioca di Amerika Latin, karrapendalamu dalam bahasa Sansekerta, hingga singkong atau ubi kayu di Indonesia.

Daun singkong variegata (Manihot esculenta)

Sebagai tanaman dari famili Euphorbiaceae atau suku kastuba-kastubaan, singkong berasal dari kawasan Amerika Selatan bagian barat hingga Brasil. Penelitian genetik dan paleoetnobotani menunjukkan bahwa tanaman ini telah didomestikasi manusia di wilayah selatan Amazon sekitar 10.000 tahun silam [
4Wooding, S. P., & Payahua, C. N. (2022). Ethnobotanical Diversity of Cassava (Manihot esculenta Crantz) in the Peruvian Amazon. Diversity, 14(4), 252. https://doi.org/10.3390/d14040252
]. 
Dari benua asalnya, singkong kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. Pedagang Portugis membawa tanaman ini ke Afrika pada abad ke-16, sementara bangsa Eropa memperkenalkannya ke Asia pada rentang akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19.
Kini singkong menjadi salah satu tanaman tropis terpenting di dunia. Umbinya merupakan sumber karbohidrat utama bagi jutaan penduduk di wilayah Amerika Selatan, Afrika, hingga Asia. Tidak hanya umbinya, daun singkong juga kaya vitamin dan mineral yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan sehari-hari.
Dalam beberapa penelitian modern, singkong bahkan disebut memiliki potensi farmakologis yang menjanjikan. Batang dan daunnya mengandung beragam senyawa fitokimia dengan aktivitas antioksidan, antelmintik, hingga antidiabetes. Kandungan terpen di dalamnya juga dilaporkan memiliki sifat antimikroba dan antikanker. Potensi terapeutik ini membuka peluang pemanfaatan singkong dalam berbagai bidang kesehatan, mulai dari pengendalian kolesterol hingga terapi pendukung penyakit metabolik.

Batang singkong variegata (Manihot esculenta)

Namun di balik manfaatnya, singkong tetap menyimpan sisi yang perlu diwaspadai. Menurut Mohidin, dkk (2023) [
5Mohidin, S. R. N. S. P., Moshawih, S., Hermansyah, A., Asmuni, M. I., Shafqat, N., & Ming, L. C. (2023). Cassava (Manihot esculenta Crantz): A Systematic Review for the Pharmacological Activities, Traditional Uses, Nutritional Values, and Phytochemistry. Journal of evidence-based integrative medicine, 28, 2515690X231206227. https://doi.org/10.1177/2515690X231206227
], daun dan umbinya mengandung senyawa sianogenik seperti linamarin dan lotaustralin yang dapat berbahaya apabila dikonsumsi mentah atau diolah secara tidak tepat. 
Konsumsi jangka panjang tanpa proses detoksifikasi yang benar dapat memicu gangguan kesehatan, termasuk gangguan neurologis. Karena itu, masyarakat sejak lama mengenal cara aman mengonsumsi singkong melalui perebusan, pengeringan, maupun proses pengolahan lainnya untuk mengurangi kandungan racun alami tersebut.
Keberadaan singkong variegata di halaman basecamp Tim Enumerator COM-B Cluring seakan menjadi pengingat bahwa keindahan dan fungsi dapat tumbuh dalam satu batang tanaman yang sama. Daunnya memang tampil berbeda, penuh corak dan warna yang memikat mata, tetapi umbinya tetaplah singkong, yang menjadi sumber pangan yang telah menemani peradaban manusia selama ribuan tahun.
Peribahasa Afrika mengatakan, “Semua singkong memiliki kulit yang sama tetapi tidak semuanya memiliki rasa yang sama.” Ungkapan itu terasa tepat menggambarkan singkong variegata, yang tampil berbeda pada daun, namun tetap menyimpan fungsi yang sama sebagai tanaman pangan yang dapat dimakan sebagaimana singkong biasa. *** [110526]


logoblog

Thanks for reading Manihot esculenta ‘Variegata’, Singkong Biasa yang Daunnya Berwarna-Warni

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog