Minggu, September 13, 2026

Dua Jam di Angkringan yang Menghidupkan Kembali 1981

  Budiarto Eko Kusumo       Minggu, September 13, 2026
"Friendship is the shadow of the evening, which strengthens with the setting sun of life". -- Jean de La Fontaine
Di sebuah sudut Purwosari, Solo, empat sahabat lama duduk bersila di atas tikar angkringan. Lampu temaram, asap indomie rebus mengepul, dan tawa pecah setiap kali kenangan masa SMP muncul. Di usia yang mulai mendekati senja, mereka memilih bernostalgia kala menjadi anak-anak 1981 yang penuh keluguan, dan sedikit kenakalan, bukan bicara kesuksesan hidup.
Jumat (11/09) malam, menjadi saksi reuni kecil yang lahir dari spontanitas. Maryanto, Arman, Daryadi, dan saya - yang kebetulan sedang mengambil libur - berkumpul di sebuah angkringan di Kawasan Purwosari, Solo. Lokasinya mudah dikenali, yaitu tepat di seberang HARRIS Hotel & Conventions Solo dan POP! Hotel Solo, atau sebelah barat Aston Solo Hotel.
Tanpa rencana mewah, tanpa undangan formal, hanya sebuah pesan singkat yang berujung pada pertemuan hangat. Di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur, mereka menemukan ruang untuk bernapas, bersama orang-orang yang mengenal mereka bukan dari jabatan, melainkan dari kenangan.
Obrolan malam itu tidak berputar pada pencapaian karier atau status sosial. Sebaliknya, mereka menyelami masa lalu dalam sebuah kenangan di bangku Kelas 3B SMP Negeri 19 Surakarta Angkatan 1981. Dari keluguan masa remaja hingga “kenakalan” kecil yang dulu terasa begitu besar, semua dikisahkan kembali dengan tawa yang tulus.
“Status sosial kita ‘tinggalkan’, nostalgia masa SMP kita kedepankan,” begitu semangat pertemuan itu. Setiap orang membawa ingatannya sendiri, namun semuanya terhubung oleh benang merah yang sama, yakni kehangatan persahabatan masa sekolah.
Tim Wildschut, profesor psikologi sosial dan kepribadian di Universitas Southampton, Inggris, menjelaskan bahwa nostalgia pada dasarnya adalah pemanggilan kembali kenangan pribadi yang menumbuhkan rasa keterikatan dan koneksi sosial [1]. “Orang-orang penting dalam hidup kita - termasuk mereka yang mungkin sudah tiada - seolah 'hidup kembali' melalui ingatan nostalgia, dan lewat ingatan tersebut, kita merasa lebih dekat dengan mereka,” jelasnya.

Empat orang alumni Kelas 3B SMPN 19 Surakarta Angkatan 1981 nongki di angkringan di Jalan Slamet Riyadi, Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, atau yang akrab disebut dengan Kota Solo

Dengan menghubungkan kembali kita pada pengalaman masa lalu, nostalgia juga memberikan rasa kesinambungan yang memupuk perasaan bermakna serta optimisme. Malam itu, dua jam nongkrong di angkringan terasa seperti menelusuri lorong waktu - menghidupkan kembali persahabatan yang pernah terbentuk di bangku sekolah.
Jean de La Fontaine (1621–1695), penyair dan penulis fabel asal Prancis, pernah berkata:
“Persahabatan adalah bayangan senja, yang kian menguat seiring terbenamnya matahari kehidupan.”
Kutipan itu seolah menggambarkan malam di angkringan Purwosari. Di usia yang mulai mendekati senja, persahabatan justru semakin kuat - bukan karena pencapaian, melainkan karena kenangan yang terus dirawat. Seperti bayangan yang memanjang saat matahari terbenam, ikatan mereka pun semakin dalam seiring waktu.
Angkringan, dengan suasana sederhana dan harga yang ramah kantong, telah lama menjadi ruang egaliter di Jawa. Di sana, semua orang duduk sama rendah, tanpa sekat status, tanpa hierarki. Malam itu, angkringan di Purwosari menjadi panggung kecil bagi empat orang alumni 3B SMPN 19 Surakarta untuk merayakan persahabatan yang telah melewati puluhan tahun.
Di antara denting gelas kaca dan aroma wedang jahe, mereka menemukan kembali versi diri mereka yang paling autentik, yaitu bukan sebagai profesional dengan jabatan, melainkan sebagai teman sebangku yang dulu saling meminjamkan pulpen, berbagi jajanan, dan terkadang usil.
Dua jam mungkin terdengar singkat, namun bagi Maryanto, Arman, Daryadi, dan saya, malam itu adalah perjalanan panjang menembus waktu. Mereka tidak hanya mengenang masa SMP, tetapi juga menghidupkan kembali semangat persahabatan yang pernah tumbuh di sana.
Di tengah dunia yang semakin transaksional, pertemuan seperti ini menjadi pengingat, bahwa yang paling berharga bukanlah apa yang kita capai, melainkan siapa yang tetap ada di sisi kita, meski waktu telah membawa kita ke jalan yang berbeda. *** [130926]


logoblog

Thanks for reading Dua Jam di Angkringan yang Menghidupkan Kembali 1981

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog