Kamis, Oktober 29, 2026

Festival Ngopi Sambang Dulur Kaliploso 2026: Ngopi Bersama Mempererat Silaturahmi

  Budiarto Eko Kusumo       Kamis, Oktober 29, 2026
"I was taken by the power that savoring a simple cup of coffee can have to connect people and create community." -- Howard Schultz
Siapa bilang ngopi cuma soal nongkrong? Di Kaliploso, secangkir kopi menjelma jembatan yang menghubungkan cerita, menganyam persaudaraan, dan menyalakan semangat kebersamaan, bahkan ketika lampu padam sekalipun.
Rabu (28/10) malam, udara Kaliploso, Kecamatan Cluring terasa berbeda. Sepanjang jalan depan Kantor Desa Kaliploso, Banyuwangi, puluhan thinthir - lampu minyak tanah tradisional - berdiri anggun, memancarkan nyala kecil yang hangat. 
Bukan tanpa alasan panitia menyiapkan penerangan sederhana itu jauh-jauh hari. Sejak sore, listrik dari PLN padam, membiarkan lokasi festival dalam gelap gulita selama sekitar tiga jam, hingga gelaran festival dimulai pada pukul 19.00 WIB. Namun warga Kaliploso tak bergeming. Semangat mereka justru menyala lebih terang dari thinthir-thinthir itu.

Suara aspirasi dalam Festival Ngopi Sambang Dulur Kaliploso 2026

Festival Ngopi Sambang Dulur Kaliploso 2026
bukan sekadar perhelatan tahunan. Ini adalah denyut nadi sebuah komunitas yang percaya bahwa dari secangkir kopi, tumbuh cerita; dari sebuah pertemuan, terjalin persaudaraan; dan dari kebersamaan, lahir kekuatan untuk melangkah bersama. 
Tema yang diusung - "Ngopi Bersama Mempererat Silaturahmi, Kaliploso Guyub, Rukun, Maju" - bukanlah semboyan kosong. Ia terwujud nyata dalam setiap sudut acara, dari lapak-lapak kuliner UMKM warga hingga ruang aspirasi yang santai namun berbobot.
Diinisiasi oleh Kepala Desa Kaliploso, Rudi Hartono, S.Th.I, bersama perangkat desa dan warga, festival ini menghadirkan lebih dari sekadar hiburan. Ada ruang bagi warga untuk bersuara. Tiga orang mewakili aspirasi komunitas.
 
Sejumlah OPD antusias dalam menanggapi sejumlah aspirasi yang ada

Yang pertama berharap adanya tambahan sumur bor untuk menghadapi musim kemarau yang kerap mendatangkan kekeringan. Yang kedua mengungkapkan kebingungan soal penyaluran pupuk bersubsidi. Yang terakhir menyoroti isu global warming dan mendesak adanya sosialisasi penanganan sampah hingga tingkat RT.
Semua pertanyaan itu ditanggapi langsung oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang hadir, dibersamai Camat Cluring, Titik Handayani, S.E., dan Kades Rudi. Suasana guyub begitu kental, terlebih ketika lampu akhirnya menyala dan Kepala Dinas (Kadis) Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Banyuwangi, RR Nanin Oktaviantie, S.Sos., M.Si., angkat bicara soal isu sampah. 
Ia menjelaskan bahwa Banyuwangi telah memiliki program Banyuwangi Hijau (Green Banyuwangi), sebuah gerakan kolaboratif antara sejumlah OPD seperti Dinkes, DLH, DPMD, dan NGO untuk menangani permasalahan sampah rumah tangga.
"Rata-rata per orang di Kabupaten Banyuwangi menghasilkan 0,6 kg sampah per harinya," ujarnya. 
Antrean warga di lapak kopi untuk ngopi bareng

Camat Cluring menambahkan bahwa isu sampah sudah ditangani di Desa Kaliploso melalui program serupa. Meski banyak warga masih memiliki halaman luas, ia mengingatkan agar tidak membuang sampah di juglangan dan membakarnya.
"Pembakaran sampah itu sangat membahayakan, terlebih sampah plastik," tegasnya.
Camat Titik pun mendorong adanya peraturan desa (Perdes) yang melarang pembakaran sampah, seraya menekankan pentingnya partisipasi masyarakat yang harus terus digaungkan melalui UPT di Dinas Lingkungan Hidup. 
"Partisipasi masyarakat, bergeraknya tentu tergantung kepada Kades," selorohnya. "Namun, di tangan Kades Rudi, pastilah bisa berjalan."
Bagi Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB) yang turut hadir bersama personel baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) - Ns. Elik Anistina, S.Kep., Muhammad Sibaweh, dan Rahmanurraudhotul Amin, SKM - paparan itu meninggalkan catatan penting.
 
Thinthir: sebuah nyala kecil, cerita besar yang menghangatkan

Ada kemiripan tema dengan NIHR-GHRC NCDs & EC, terutama Theme 2: Air Pollution & Plastic Combustion. Diskusi malam itu bukan hanya soal sampah, tetapi tentang masa depan lingkungan yang lebih sehat.
Usai ruang aspirasi, acara dilanjutkan dengan ngopi bareng diiringi alunan musik. Gelak tawa dan obrolan ringan mengalir bebas, mencairkan sekat antara warga dan pejabat. Para OPD pun kemudian berpamitan, meninggalkan kehangatan yang sudah terlanjur menyebar. 
Sebagai penutup, lomba gaple digelar. Lima meja dengan masing-masing empat peserta asyik memainkan kartu domino, sesekali diselingi sorakan dan tawa. Festival Ngopi tahun kedua ini memang sederhana, tetapi justru dalam kesederhanaannya, kehangatan itu terasa lebih tulus.

Kades Kaliploso berpose dengan NIHR UB dalam Festival Ngopi Sambang Dulur Kaliploso 2026

Howard Mark Schultz, seorang pebisnis dan penulis asal Amerika Serikat, serta mantan CEO Starbucks, pernah berkata: 
"Saya terpikat oleh kekuatan yang dimiliki saat menikmati secangkir kopi sederhana - kekuatan untuk menghubungkan orang-orang dan membangun komunitas." 
Kalimat itu seolah menemukan wujudnya di Kaliploso. Di sini, kopi bukanlah tujuan, melainkan kendaraan. Ia mengantar warga pada percakapan yang bermakna, pada aspirasi yang didengar, dan pada kebersamaan yang tak lekang oleh padamnya listrik.
Festival Ngopi Sambang Dulur Kaliploso 2026 adalah bukti bahwa secangkir kopi bisa melakukan lebih dari sekadar mengusir kantuk. Ia mampu merangkul perbedaan, menumbuhkan kepedulian, dan menguatkan ikatan sosial. Ketika thinthir menyala dan lampu PLN kembali bersinar, warga Kaliploso telah membuktikan satu hal, bahwa dalam guyub, rukun, dan maju, mereka adalah keluarga besar yang siap melangkah bersama - dengan kopi sebagai saksi. *** [291026]


logoblog

Thanks for reading Festival Ngopi Sambang Dulur Kaliploso 2026: Ngopi Bersama Mempererat Silaturahmi

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog