“The ocean stirs the heart, inspires the imagination and brings eternal joy to the soul.” –Robert Wyland
Ada banyak cara merayakan selesainya sebuah pekerjaan. Sebagian orang memilih duduk santai sambil menyeruput kopi, sebagian lainnya berkumpul untuk makan bersama.
Namun, bagi delapan orang yang terlibat dalam baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), kegembiraan kali ini harus dirayakan dengan cara yang berbeda dengan menembus ombak Samudra Indonesia, mendaki bukit karang, menyusuri gugusan pulau, dan menikmati sepotong surga tersembunyi di ujung selatan Banyuwangi.
Tidak ada panggung, tidak ada seremoni perpisahan, apalagi susunan acara yang kaku. Yang ada hanyalah ide spontan, empat sepeda motor, sebuah perahu bernama Lion Air, dan delapan orang yang siap mengukir kenangan bersama. Pada Kamis (22/10), petualangan bertajuk Our NIHR, Our Adventures at the “Mini Raja Ampat” in Banyuwangi pun dimulai.
![]() |
| Pembekalan oleh pemandu di Pantai Mustika di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi |
Bagi kami, perjalanan ini memiliki makna lebih dari sekadar wisata. Setelah melewati rangkaian kegiatan penelitian dan pemeriksaan kesehatan masyarakat, mereka ingin menutup kebersamaan dengan sesuatu yang berbeda. Bukan perpisahan yang diwarnai pidato dan jabat tangan formal, melainkan sebuah petualangan yang kelak bisa dikenang dan diceritakan kembali.
Maka, usai pelaksanaan pemeriksaan ulang kelima di rumah Kepala Desa Sarimulyo, gagasan itu mengalir begitu saja. Dua enumerator baseline survey Desa Sarimulyo - Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep. dan Triana Rahmah, S.AB - mengajak Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB), supervisor tes spirometri (Ns. Elik Anistina, S.Kep., observer yang bertugas memantau pelaksanaan pemeriksaan spirometri (Rahmanurraudhotul Amin, SKM), serta dua enumerator desa lainnya (Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes. dan Nisaul Rofifah, S.Gz) untuk turut serta. Ajakan sederhana itu disambut dengan antusias. Tak butuh waktu lama untuk mengubah rencana dadakan menjadi perjalanan yang nyata.
![]() |
| Perahu Lion Air yang mengantar tim berpetualangan membelah ombak Samudra Indonesia menuju Green Island Banyuwangi |
Empat Motor, Delapan Petualang, dan Pagi yang Penuh Harapan
Pukul 07.00 WIB, kami berkumpul di Virgin Swalayan Purwodadi. Delapan orang, berboncengan dalam empat sepeda motor, bersiap menempuh perjalanan menuju Pantai Mustika yang berada di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi - titik awal untuk menjelajahi bentang alam pesisir selatan yang menyimpan banyak kejutan.
Perjalanan darat itu menjadi pembuka suasana. Ada obrolan ringan, tawa, dan rasa penasaran tentang apa yang akan kami temui. Sesampainya di Pantai Mustika, Mas Piton, pemandu yang akan menemani petualangan kami, segera menyambut dan membagikan pelampung sebagai perlengkapan keselamatan. Setelah memastikan perlengkapan terpasang, kami diajak menuju perahu yang bersandar di Pelabuhan Pujasera, singkatan dari Pusat Jajanan Selera Rakyat.
Di sanalah sebuah kejutan kecil menunggu. Perahu yang akan membawa kami bernama Lion Air. Selama ini, nama Lion Air lebih akrab di telinga saya sebagai maskapai penerbangan yang mengantarkan perjalanan penelitian ke luar Pulau Jawa. Tentu saja, perjalanan itu selalu dimulai dari sebuah bandara. Namun, pagi itu saya menemukan versi “Lion Air” yang berbeda bukan mengudara di angkasa, melainkan melaut di Samudra Indonesia!
Nama yang sama, kendaraan yang berbeda, dan petualangan yang sama sekali baru. Kami pun naik ke perahu, bersiap meninggalkan dermaga dan menyambut birunya laut selatan.
![]() |
| Green Island dari kejauhan |
Green Island: Mendaki 380 Anak Tangga Menuju Miniatur Raja Ampat
Tujuan pertama kami adalah Green Island. Dari kejauhan, pulau ini tampak memikat dengan perpaduan bukit hijau, tebing karang, dan laut biru yang mengelilinginya. Namun, untuk menikmati keindahannya dari sudut pandang terbaik, ada tantangan yang harus ditaklukkan, yakni mendaki sekitar 380 anak tangga.
Bagi kami yang sehari-hari berkutat dengan kegiatan penelitian dan pemeriksaan kesehatan, jumlah itu bukan perkara kecil. Langkah demi langkah terasa semakin berat. Napas mulai memburu, kaki terasa pegal, dan sesekali kami harus berhenti untuk mengumpulkan tenaga.
Lucunya, perjalanan mendaki itu mengingatkan saya pada pemeriksaan spirometri yang selama ini menjadi bagian dari pekerjaan kami. Dalam pemeriksaan tersebut, peserta diminta menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya sekuat dan secepat mungkin mengikuti instruksi petugas.
Bedanya, kali ini tak ada alat spirometer yang mengukur kapasitas paru-paru kami. Alam seolah menjadi ruang praktik terbuka, sementara 380 anak tangga menjadi ujian ketahanan yang sesungguhnya.
![]() |
| Puncak Green Island dengan latar belakang miiniatur Raja Ampat di Banyuwangi |
Kalau dalam pemeriksaan terdengar instruksi, “Tarik napas dalam, lalu tiup sekuat-kuatnya!”, di Green Island yang terdengar justru helaan napas para pendaki yang mulai ngos-ngosan. Bedanya lagi, kali ini tidak ada pengulangan tes. Kami hanya perlu terus melangkah sampai puncak.
Dan semua rasa lelah itu terbayar lunas. Dari atas bukit, bentang laut terbuka seperti lukisan raksasa. Gugusan pulau-pulau kecil tampak tersebar di antara hamparan biru, di antaranya Pulau Kemuning, Pulau Bedil, dan formasi karang yang menjadi ikon kawasan Bedil. Dari ketinggian, pulau-pulau tersebut tampak seperti titik-titik hijau yang terapung di atas lautan luas.
Pemandangan itu mengingatkan pada Raja Ampat di Papua, destinasi yang terkenal dengan gugusan pulau karstnya yang menawan. Tak heran jika kawasan ini populer dengan sebutan “Mini Raja Ampat”. Istilah itu terasa masuk akal ketika kita menyaksikan sendiri perpaduan pulau, karang, dan laut yang membentang sejauh mata memandang.
Di puncak Green Island, kamera-kamera mulai bekerja. Ada yang sibuk mengabadikan panorama, ada yang berfoto bersama, dan ada pula yang sekadar berdiri menikmati angin laut. Untuk beberapa saat, urusan pekerjaan, laporan, dan jadwal pemeriksaan seolah menjauh dari pikiran. Yang tersisa hanyalah rasa takjub karena bisa menyaksikan keindahan alam bersama orang-orang yang selama ini menjadi rekan seperjuangan.
Setelah puas menikmati pemandangan, kami menuruni kembali anak tangga dan melanjutkan perjalanan menuju destinasi berikutnya.
![]() |
| Pemandangan Stone Beach dari atas bukit |
Stone Beach: Batu Karang, Gazebo, dan Napas yang Belum Pulih
Perhentian selanjutnya adalah Stone Beach. Sesuai namanya, pantai ini menyuguhkan hamparan batuan yang membentuk lanskap pesisir dengan karakter dramatis. Berbeda dari pantai berpasir yang lapang, bebatuan di kawasan ini menghadirkan kesan liar dan unik, seolah memperlihatkan bagaimana laut dan waktu bekerja membentuk wajah bumi.
Dua enumerator memilih turun ke pantai untuk menikmati suasananya lebih dekat. Sementara itu, enam orang lainnya memilih berteduh di gazebo Pos 2. Kami tampaknya sepakat bahwa tubuh membutuhkan jeda setelah perjuangan menaklukkan ratusan anak tangga di Green Island.
Di gazebo itu, saya membayangkan kembali suasana pemeriksaan spirometri. Dalam pekerjaan sehari-hari, kami kerap mendengar instruksi perawat yang meminta peserta menarik napas, kemudian mengembuskannya dengan kuat. Kali ini, seolah-olah suara itu kembali terngiang di kepala: “Sedot... sebul!”
![]() |
| Spot T di gugusan Pulau Bedil |
Tentu saja, kami tidak sedang menjalani pemeriksaan. Kami hanya mencoba memulihkan napas sambil menikmati teduhnya tempat persinggahan. Namun, ada ironi yang mengundang tawa, yaitu orang-orang yang terbiasa mendampingi pemeriksaan fungsi paru-paru ternyata juga bisa terengah-engah setelah menghadapi tantangan alam.
Perjalanan ini mengingatkan kami bahwa memahami kesehatan bukan hanya soal membaca hasil pengukuran atau menjalankan prosedur pemeriksaan. Tubuh juga perlu bergerak, beristirahat, dan diberi kesempatan untuk menikmati lingkungan di luar rutinitas.
Setelah tenaga sedikit pulih, kami kembali menuju dermaga Green Island. Petualangan belum selesai. Pulau Bedil dan sejumlah destinasi lain masih menunggu di hadapan.
![]() |
| Gua Pulau Bedil dilihat dari Spot T. Tidak bisa mendekat, karena air laut mulai naik |
Pulau Bedil dan Spot T: Menantang Ombak, Merawat Keberanian
Perahu Lion Air kembali bergerak, membawa kami melintasi perairan selatan Banyuwangi. Perjalanan kali ini terasa lebih menantang. Ombak yang datang silih berganti membuat badan perahu terangkat, lalu turun kembali mengikuti gerakan air. Jantung serasa ikut naik turun bersama gelombang.
Suasana di atas perahu semakin meriah oleh alunan musik dari sound system yang oleh sebagian orang disebut sound horeg. Musik, tawa, dan suara mesin perahu berpadu dengan deburan ombak. Di tengah suasana itu, kami berusaha menikmati perjalanan sambil tetap berpegangan dan mengikuti arahan pemandu.
Pulau Bedil menjadi tujuan berikutnya. Kawasan ini menyimpan daya tarik berupa gua yang dapat dijelajahi ketika kondisi laut memungkinkan. Sayangnya, saat kami tiba, air laut mulai naik sehingga akses menuju gua tidak memungkinkan. Kami pun tidak memaksakan diri. Keselamatan tetap menjadi prioritas, terlebih di kawasan pesisir selatan yang kondisi ombak dan arusnya dapat berubah.
Sebagai gantinya, Mas Piton mengajak kami menuju Spot T, lokasi yang berada tidak jauh dari Pulau Bedil. Perairan di sekitarnya menawarkan warna biru yang jernih dengan gugusan pulau karang yang memesona. Dari sudut tertentu, lanskapnya mengingatkan pada Phi Phi Islands di Thailand atau Ha Long Bay di Vietnam - dua kawasan yang dikenal karena perpaduan perairan dan formasi batuannya yang khas.
![]() |
| Menerjang ombak Laut Selatan |
Spot T menjadi tempat yang pas untuk kembali mengabadikan perjalanan. Kami berfoto, menikmati panorama, dan menyimpan potongan-potongan kenangan yang mungkin kelak akan lebih sering kami lihat melalui layar ponsel daripada kami kunjungi kembali secara langsung.
Di tengah perjalanan, Mas Piton juga menunjukkan ikon Pulau Bedil yang membuat kawasan ini memiliki ciri khas tersendiri. Di antara batu-batu karang, ombak Laut Selatan menghantam tebing dengan keras, lalu menyembur tinggi ke udara melalui celah-celah batuan.
Pemandangan itu begitu dramatis. Air laut yang terlempar ke atas seolah-olah menghasilkan dentuman alam, menyerupai letusan senapan atau bedil model lama. Dari sinilah, menurut penjelasan yang kami terima, nama Pulau Bedil berkaitan dengan fenomena alam yang mengesankan tersebut.
Kami menyaksikan bagaimana laut yang indah juga menyimpan kekuatan besar. Ombak tidak selalu datang sebagai belaian lembut di tepi pantai. Ada saatnya ia menghantam karang dengan tenaga yang sulit dibayangkan, mengingatkan kami bahwa alam bukan sekadar objek untuk dinikmati, melainkan ruang yang harus dihormati.
| Icon Bedil: Semburan ombak di sela tebing karang di gugusan Pulau Bedil |
Wedi Ireng: Pasir Putih, Kelapa Muda, dan Waktu yang Melambat
Dari Spot T, perjalanan berlanjut menuju Pantai Wedi Ireng. Dalam perjalanan, kami masih sempat melihat Jungle Island dari kejauhan. Pulau dan perbukitan yang diselimuti vegetasi hijau tampak berdiri tenang di tengah bentang laut, menjadi pengingat bahwa pesisir Banyuwangi memiliki kekayaan lanskap yang tidak habis dijelajahi dalam sehari.
Begitu tiba di Wedi Ireng, suasana terasa berbeda. Jika beberapa lokasi sebelumnya menghadirkan tantangan berupa tangga, batu karang, dan ombak, pantai ini justru menyambut kami dengan teluk yang menenangkan. Pasir putih membentang di tepian, sementara perbukitan hijau dan kawasan hutan yang relatif alami menjadi latar belakangnya.
Anehnya, nama Wedi Ireng secara harfiah dalam bahasa Jawa berarti pasir hitam. Namun, pantai yang kami saksikan justru didominasi pasir putih. Menurut cerita yang disampaikan pemandu, sebelum tsunami menerjang kawasan ini pada 1994, warna pasirnya berbeda dan lebih gelap. Kisah tersebut menambah lapisan cerita pada pantai yang kini tampak begitu damai.
Di sinilah kami menghabiskan waktu lebih lama dibandingkan di lokasi-lokasi sebelumnya. Petualangan yang sejak pagi diisi perpindahan dari satu tempat ke tempat lain akhirnya memberi kami kesempatan untuk benar-benar berhenti.
![]() |
| Pantai Wedi Ireng |
Kami menikmati kelapa muda yang segar dan semangkuk bakso di Warung Pak Bajil. Makanan sederhana itu terasa istimewa setelah perjalanan laut yang panjang. Di bawah naungan pohon, kami bercengkerama, bertukar cerita, dan membiarkan angin pantai menyapu wajah. Suara ombak datang berulang-ulang, sesekali diselingi tawa dan percakapan ringan.
Tak ada tuntutan untuk segera beranjak. Tak ada formulir yang harus diisi, hasil pemeriksaan yang perlu ditinjau, atau jadwal kegiatan yang harus dikejar. Untuk sementara, waktu seolah berjalan lebih lambat.
Saya sendiri kemudian berpencar dari teman-teman setelah makan. Rasa penasaran membawa saya berjalan menyusuri tepian hutan di dekat pantai. Saya bahkan sempat masuk sebentar ke area vegetasi untuk melihat lebih dekat sebuah pohon yang menjulang dengan bunga berwarna merah. Menurut sebutan masyarakat setempat yang saya dengar, pohon itu dikenal sebagai sriwil kuntil.
Bagi sebagian orang, perjalanan ke pantai mungkin cukup dengan bermain air atau berfoto. Namun, bagi saya, menyusuri tepian hutan dan memperhatikan tanaman yang tumbuh di sekitarnya menghadirkan kesenangan tersendiri. Ada hal-hal kecil yang mudah terlewat ketika kita terlalu sibuk mengejar tujuan, yaitu bentuk bunga, tekstur daun, bayangan pepohonan, dan suara alam yang terasa berbeda ketika kita berhenti sejenak untuk mendengarkannya.
Pantai Wedi Ireng bukan hanya tempat beristirahat setelah perjalanan laut yang melelahkan. Ia juga menjadi ruang untuk memulihkan perhatian - kembali menyadari apa yang ada di sekitar, menikmati hal-hal sederhana, dan memberi kesempatan kepada pikiran untuk beristirahat dari rutinitas.
![]() |
| Minum Es Degan di Warung Pak Bajil di Pantai Wedi Ireng |
Laut sebagai Ruang Pemulihan: Lebih dari Sekadar Liburan
Apa yang kami rasakan di Wedi Ireng ternyata memiliki penjelasan yang sejalan dengan temuan penelitian tentang kesehatan mental dan lingkungan alam. Dalam kajian kesehatan lingkungan, pengalaman berada di alam terbuka kerap dikaitkan dengan berkurangnya stres, membaiknya suasana hati, serta pulihnya kemampuan memusatkan perhatian setelah menghadapi tuntutan mental.
Dua kerangka teori yang sering digunakan untuk menjelaskannya adalah Stress Recovery Theory dan Attention Restoration Theory. Teori pertama, yang dikembangkan antara lain melalui penelitian Roger Ulrich, menjelaskan bagaimana paparan lingkungan alam dapat membantu meredakan respons stres.
Sementara itu, teori pemulihan perhatian yang dikembangkan Rachel dan Stephen Kaplan menerangkan bagaimana lingkungan alam dapat memberi jeda bagi perhatian terarah yang terus-menerus digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Penelitian yang lebih baru juga terus mengeksplorasi hubungan antara paparan alam, aktivitas fisik di ruang terbuka, suasana hati, dan kesejahteraan psikologis. Namun, manfaatnya tidak dapat dianggap sebagai jaminan bahwa setiap perjalanan ke alam otomatis menyembuhkan stres atau gangguan kesehatan mental. Pengalaman setiap orang berbeda, dan penelitian masih terus mengkaji mekanisme serta kondisi yang membuat manfaat tersebut lebih kuat.
![]() |
| Vegetasi hutan di Pantai Wedi Ireng |
Dalam konteks perjalanan kami, penjelasan itu terasa dekat dengan pengalaman nyata. Setelah berhari-hari berkutat dengan kegiatan baseline survey, koordinasi lapangan, dan pemeriksaan spirometri, kami mendapatkan ruang untuk mengalihkan perhatian dari pekerjaan. Kami bergerak aktif, menikmati panorama laut, menghirup udara terbuka, tertawa bersama, dan menjalin percakapan tanpa tekanan target.
Kombinasi itulah yang membuat perjalanan ini terasa menyegarkan. Bukan semata-mata karena kami mengunjungi tempat yang indah, tetapi juga karena kami melakukannya bersama orang-orang yang memahami tantangan pekerjaan yang kami jalani.
Ada satu hal yang patut diingat, bahwa healing tidak selalu harus mahal, jauh, atau dikemas dalam perjalanan yang mewah. Terkadang, ia hadir ketika kita memberi diri sendiri waktu untuk berhenti, menikmati alam, berbagi cerita, dan tertawa bersama rekan kerja. Bagi kami, kelapa muda, bakso, angin pantai, dan suara ombak di Wedi Ireng menjadi bagian dari pengalaman sederhana yang bermakna itu.
Tentu, petualangan kami juga bukan perjalanan tanpa tantangan. Ombak yang membuat jantung berdebar, tangga yang menguras napas, dan akses gua yang tertutup air pasang mengingatkan kami untuk tetap waspada. Menikmati alam dan menjaga keselamatan harus berjalan beriringan. Justru dengan menghormati batas-batas alam, pengalaman menyenangkan itu dapat menjadi kenangan yang baik untuk semua.
![]() |
| Perahu jemputan ke Pantai Wedi Ireng |
Our NIHR, Our Adventures: Perpisahan yang Menjadi Kenangan
Setelah cukup lama menikmati Pantai Wedi Ireng dan menjelajahi vegetasi di sekitarnya, tibalah saatnya kami kembali. Penjemputnya bukan perahu Lion Air lagi, tapi perahu Shellad membawa kami menuju Pantai Mustika, tempat perjalanan laut pagi itu bermula.
Di sepanjang perjalanan pulang, saya kembali teringat pada gugusan pulau dari puncak Green Island, gazebo di Stone Beach, ombak yang menghantam karang Pulau Bedil, kejernihan perairan Spot T, hingga teluk tenang di Wedi Ireng. Setiap tempat memiliki karakter dan ceritanya sendiri. Ada yang menguji tenaga, ada yang memacu adrenalin, dan ada pula yang mengajak kami memperlambat langkah.
Namun, hal paling berharga dari perjalanan itu bukan hanya pemandangan yang kami temukan. Lebih dari itu, perjalanan ini memberi kami kesempatan untuk melihat rekan kerja dari sisi yang berbeda. Di lapangan, kami terbiasa berbagi tugas, mengikuti prosedur, berkoordinasi, dan memastikan kegiatan penelitian berjalan sesuai rencana. Di laut, kami belajar menikmati kebersamaan tanpa harus selalu membicarakan pekerjaan.
Bagi enumerator, petualangan ini menjadi cara yang tidak biasa untuk menandai perpisahan. Bagi kami yang ikut serta, perjalanan ini menjadi kesempatan untuk mengumpulkan cerita yang akan terus hidup meski kelak tugas membawa kami ke tempat dan kesibukan yang berbeda.
Mungkin, beberapa waktu mendatang, ketika kembali bertemu dalam kegiatan penelitian, kami akan mengenang perjalanan ini sambil tertawa. Akan ada cerita tentang 380 anak tangga yang menguras napas, instruksi spirometri yang seolah terdengar di gazebo, ombak yang membuat jantung berdebar, hingga pohon berbunga merah yang membuat saya menyimpang sebentar dari rombongan.
![]() |
| Saat perjalanan balik ke meeting point Pantai Mustika berpapasan dengan perahu nelayan yang sedang berangkat melaut |
Pada akhirnya, kami pulang bukan hanya membawa foto-foto indah, tetapi juga pengalaman tentang keberanian, kebersamaan, dan pentingnya menyediakan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat.
Robert Wyland, seniman kelautan dan konservasionis Amerika, pernah mengungkapkan sebuah kalimat yang terasa tepat untuk menggambarkan pengalaman kami:
“Lautan menggerakkan hati, menginspirasi imajinasi, dan menghadirkan sukacita abadi bagi jiwa.”
Di tengah deburan Samudra Indonesia yang kadang lembut, kadang menggelegar menghantam karang, kami menemukan makna kalimat itu. Laut mengajarkan bahwa keindahan dan kekuatan bisa hadir bersamaan. Ia membuat kami takjub sekaligus waspada, berani sekaligus rendah hati, dan lelah sekaligus bahagia.
Our NIHR, Our Adventures at the “Mini Raja Ampat” in Banyuwangi akhirnya menjadi lebih dari sekadar perjalanan wisata. Ia adalah perayaan atas kerja yang telah dituntaskan, persahabatan yang tumbuh di tengah tugas, dan kenangan yang dirajut bersama sebelum masing-masing melanjutkan perjalanan.
Sebab, di antara data yang dikumpulkan, pemeriksaan yang diselesaikan, dan tanggung jawab yang ditunaikan, selalu ada ruang bagi manusia untuk tertawa, bernapas lega, dan menikmati hidup.
Hari itu, di pesisir selatan Banyuwangi, kami menemukan ruang tersebut - di antara birunya laut, hijaunya pulau, dan ombak Samudra Indonesia yang tak pernah benar-benar diam. *** [231026]














Tidak ada komentar:
Posting Komentar