Minggu, Juni 03, 2012

JANGKA JAYABAYA

  Budiarto Eko Kusumo       Minggu, Juni 03, 2012
Prabu Jayabaya adalah raja Kediri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.
Pemerintahan Jayabaya dianggap sebagai masa kejayaan Kediri. Peninggalan sejarahnya berupa prasasti Hantang (1135), prasasti Talan (1136), dan prasasti Jepun (1144), serta Kakawin Bharatayuddha (1157).
Pada prasasti Hantang, atau biasa juga disebut prasasti Ngantang, terdapat semboyan Panjalu Jayati, yang artinya Kediri menang. Prasasti ini dikeluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk desa Ngantang yang setia pada Kediri selama perang melawan Jenggala.
Dari prasasti tersebut dapat diketahui kalau Jayabaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Jenggala dan mempersatukannya kembali dengan Kediri.
Kemenangan Jayabaya atas Jenggala disimbolkan sebagai kemenangan Pandawa atas Kurawa dalam Kakawin Bharatayuddha yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh tahun 1157.
Nama besar Jayabaya tercatat dalam ingatan masyarakat Jawa, sehingga namanya muncul dalam kesusastraan Jawa zaman Mataram Islam atau sesudahnya sebagai Prabu Jayabaya. Contoh naskah yang menyinggung tentang Jayabaya adalah Babad Tanah Jawi dan Serat Aji Pamasa.
Dikisahkan Jayabaya adalah titisan Wisnu. Negaranya bernama Widarba yang beribu kota di Mamenang. Ayahnya bernama Gendrayana, putra Yudayana, putra Parikesit, putra Abimanyu, putra Arjuna dari keluarga Pandawa.
Permaisuri Jayabaya bernama Dewi Sara. Lahir darinya Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Jayaamijaya menurunkan raja-raja tanah Jawa, bahkan sampai Majapahit dan Mataram Islam. Sedangkan Pramesti menikah dengan Astradarma raja Yawastina, melahirkan Anglingdarma raja Malawapati.
Jayabaya turun takhta pada usia tua. Ia dikisahkan moksha di desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Tempat petilasannya tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat dan masih ramai dikunjungi sampai sekarang.
Prabu Jayabaya adalah tokoh yang identik dengan ramalan masa depan Nusantara. Terdapat beberapa naskah yang berisi “Ramalan Jayabaya”, antara lain Serat Jayabaya Musarar, Serat Pranitiwakya, dan lain sebagainya.
Dikisahkan dalam Serat Jayabaya Musarar, pada suatu hari Jayabaya berguru pada seorang ulama bernama Maolana Ngali Samsujen. Dari ulama tersebut, Jayabaya mendapat gambaran tentang keadaan Pulau Jawa sejak zaman diisi oleh Aji Saka sampai datangnya hari Kiamat.
Sumber ramalan Prabu Jayabaya yang beredar di masyarakat tidak hanya satu, juga tidak langsung dari sumber primernya, yakni Prabu Jayabaya sendiri, maksudnya belum ada bukti yang menguatkan bahwa ramalan tersebut ditulis sendiri oleh Prabu Jayabaya. Para peneliti sepakat bahwa sumber terkuat ramalan ini adalah Kitab Asrar (musarar) karya Sunan Giri Perapen (Sunan Giri ke-3) yang dikumpulkannya pada tahun 1540 Saka = 1028 H = 1618 M. Kitab Asrar digubah dan dibentuk lagi dengan metode dan pola yang lain, yakni dengan jalan mengambil pokok permulaan cerita Raja Jayabaya dari Kediri, sebuah nama yang diketahui dari Kakawin Bharatayudha, yang ditulis oleh Mpu Sedah pada tahun 1079 Saka = 1157 M atas titah Prabu Sri Jayabaya di Daha (Kediri). Adalah seorang pujangga, yakni Pangeran Wijil dari Kadilangu (Pangeran Kadilangu II) yang kemudian setelah mendapat patokan data baru, lalu menuliskan kembali dalam bentuk gubahan “JANGKA JAYABAYA” dengan memadukan antara sumber Serat Bharatayudha dan Kitab Asrar serta gambaran pertumbuhan negara-negara yang ditulis sebelumnya berupa babad. Menurut masyarakat jawa, kenapa kemudian ia disebut Jangka, karena naskah tersebut tidak sekedar ramalan (yang kemungkinan bisa meleset), tetapi lebih dari itu Jangka Jayabaya adalah urutan kejadian yang sudah diketahui. Apakah memang dari suatu kajian ilmiah atau hanya kebetulan belaka, diakui atau tidak, urutan peristiwa (zaman-zaman) yang di-jangka-kan tersebut setelah ditafsirkan sedemikian rupa, akhirnya menjadi sesuai dengan sejarah, bahkan sampai saat ini. Padahal ia ditulis jauh sebelum sejarah berlangsung. Maka saya berasumsi bahwa jangka ini pasti mempunyai landasan ilahiyah, bisa jadi Al-Qur’an maupun hadits shahih, atau setidaknya ada seorang waliyullah kasyaf yang mengajarkannya. Oleh karenanya pada uraian selanjutnya saya tidak menggunakan kata ramalan tetapi jangka.
Di awal-awal kisah Jangka Jayabaya diceritakan tentang kehebatan Prabu Jayabaya sang penakluk yang tampan dan gagah, lalu sampai pada kisah tentang kedatangan tamu seorang muslim dari negeri Rum, yang akhirnya menjadi guru Prabu Jayabaya, berikut kisahnya:

Maksihe bapa anenggih
langkung suka ingkang rama
Sang Prabu Jayabayane
duk samana cinarita
pan arsa katamiyan raja pandita saking rum
nama sultan maolana, ngali samsujen kang nami,


(Hal tersebut menggembirakan hati Sang Prabu Jayabaya
Waktu itu diceritakan, Sang Prabu akan kedatangan tamu,
seorang raja pendeta dari Rum bernama, Sultan Maolana.
Lengkapnya bernama Ngali Samsujen (mungkin maksudnya Maulana Ali Syamsudin) dst.

Lajeng angguru sayekti Sang-a Prabu Jayabaya
Mring sang Prabu raja panditane
Rasane kitab musarar wus tunumplak sadaya
lan enget wewangenipun
yen kantun anitis ping tiga…


(Kemudian Sang Prabu Jayabaya berguru kepada sang pendeta
terasa kitab musarar sudah dipahaminya semua, dan diingat pesannya
bahwa tinggal tiga kali dia menitis..)

Siapakah Ali Syamsudin yang dimaksud? Belum ada yang bisa memberi keterangan dengan jelas siapa sebenarnya tokoh ini. Yang jelas, selanjutnya sang maulana memberi sebuah ajaran atau paham sebagai berikut:

Benjing pinernahken nenggih sang-a prabu Jayabaya
aneng sajrone tekene ing guru sang-a pandita
tinilar aneng kakbah
imam supingi kang nggadhuh kinarya nginggahken kutbah..


(Esok harinya dijelaskan kepada sang Prabu Jayabaya
bahwa di dalam tongkat sang guru pendeta
yang ditinggalkan di Ka’bah
seorang imam akan menggunakannya untuk berkhutbah)

Ecis wesi udharati
ing tembe ana molana pan cucu Rasul jatine
alunga mring tanah jawa
nggawa ecis punika
kinarya dhuwung punika
dadi pundhen bekel jawa..


(Senjata (pusaka) yang diberi nama Udharati
Kelak di kemudian hari ada seorang maulana yang sejatinya adalah cucu Rasul
pergi ke tanah jawa membawa senjata (pusaka) itu
dengannya dia akan jadi penguasa/pengayom (pundhen) jawa)

Dari nama guru Jayabaya di atas dapat diketahui kalau naskah serat tersebut ditulis pada zaman berkembangnya Islam di Pulau Jawa. Tidak diketahui dengan pasti siapa penulis ramalan-ramalan Jayabaya. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat saat itu untuk mematuhi ucapan tokoh besar. Maka, si penulis naskah pun mengatakan kalau ramalannya adalah ucapan langsung Prabu Jayabaya, seorang raja besar dari Kediri.
Tokoh pujangga besar yang juga ahli ramalan dari Surakarta bernama Ranggawarsita sering disebut sebagai penulis naskah-naskah Ramalan Jayabaya. Akan tetapi, Ranggawarsita biasa menyisipkan namanya dalam naskah-naskah tulisannya, sedangkan naskah-naskah Ramalan Jayabaya pada umumnya bersifat anonim.
Berikut Ramalan Jayabaya:

1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran (Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda);
2. Tanah Jawa kalungan wesi (Pulau Jawa berkalung besi);
3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang (Perahu berlayar di ruang angkasa);
4. Kali ilang kedhunge (Sungai kehilangan lubuk);
5. Pasar ilang kumandhange (Pasar kehilangan suara);
6. Ikut tandha yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak (Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat);
7. Bumi saya suwe saya mengkeret (Bumi semakin lama semakin mengerut);
8. Sekilan bumi dipajeki (Sejengkal tanah dikenai pajak);
9. Jaran doyang mangan sambel (Kuda suka makan sambal);
10. Wong wadon nganggo pakeyan lanang (Orang perempuan berpakaian lelaki);
11. Ikut tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman (Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik);
12. Akeh janji ora ditetepi (Banyak janji tidak ditepati);
13. Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe (Banyak orang berani melanggar sumpahnya sendiri);
14. Manungsa padha seneng nyalah (Orang-orang saling lempar kesalahan);
15. Ora ngendahake ukum Allah (Tak peduli akan hukum Allah);
16. Barang jahat diangkat-angkat (Yang jahat dijunjung-junjung);
17. Barang suci dibenci (Yang suci justru dibenci);
18. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit (Banyak orang hanya mementingkan uang);
19. Lali kamanungsan (Lupa kemanusiaan);
20. Lali kabecikan (Lupa hikmah kebaikan);
21. Lali sanak lali kadang (Lupa sanak lupa saudara);
22. Akeh bapa lali anak (Banyak ayah lupa anak);
23. Akeh anak wani nglawan ibu (Banyak anak berani melawan ibu);
24. Nantang bapa (Menantang ayah);
25. Sedulur padha cidra (Sesama saudara saling khianat);
26. Kulawarga padha curiga (Keluarga saling curiga);
27. Kanca dadi mungsuh (Kawan menjadi lawan);
28. Akeh manungsa lali asale (Banyak orang lupa asal-usul);
29. Ukuman ratu ora adil (Hukuman raja tidak adil);
30. Akeh pangkat sing jabat lan ganjil (Banyak pejabat jahat dan ganjil);
31. Akeh kelakuan sing ganjil (Banyak tabiat ganjil);
32. Wong apik-apik padha kapencil (Orang yang baik justru tersisih);
33. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin (Banyak orang kerja halal justru malu);
34. Luwih utama ngapusi (Lebih mengutamakan menipu);
35. Wegah nyambut gawe (Malas bekerja);
36. Kepingin urip mewah (Inginnya hidup mewah);
37. Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka (Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka);
38. Wong bener thenger-thenger (Yang benar termangu-mangu);
39. Wong salah bungah (Yang salah gembira ria);
40. Wong apik ditampik-tampik (Yang baik ditolak-tolak);
41. Wong jahat munggah pangkat (Yang jahat naik pangkat);
42. Wong agung kasinggung (Yang mulia dilecehkan);
43. Wong ala kapuja (Yang jahat dipuji-puji);
44. Wong lanang ilang kaprawirane (Laki-laki hilang kejantanan/harga diri);
45. Akeh wong lanang ora duwe bojo (Banyak laki-laki tak mau beristri);
46. Akeh wong wadon ora setya marang bojone (Banyak perempuan ingkar pada suami);
47. Akeh ibu padha ngedol anake (Banyak ibu menjual anaknya);
48. Akeh wong wadon ngedol awake (Banyak perempuan menjual diri);
49. Akeh wong ijol bebojo (Banyak orang tukar pasangan/selingkuh);
50. Wong wadon nunggang jaran (Perempuan menunggang kuda);
51. Wong lanang linggih plangki (Laki-laki naik tandu);
52. Randha seuang loro (Dua janda harga seuang (seuang = 8,5 sen));
53. Prawan seaga lima (Lima perawan lima picis);
54. Dhudha pincang laku Sembilan uang (Duda pincang laku Sembilan uang);
55. Akeh wong ngedol ngelmu (Banyak orang berdagang ilmu);
56. Akeh wong ngaku-aku (Banyak orang mengaku diri);
57. Njabane putih njerone dhadhu (Di luar putih di dalam jingga);
58. Ngakune suci, nanging sucine palsu (Mengaku suci, tapi palsu belaka);
59. Akeh bujuk akeh lojo (Banyak tipu banyak muslihat);
60. Akeh udan salah mangsa (Banyak hujan salah musim);
61. Akeh prawan tuwa (Banyak perawan tua);
62. Akeh randha nglairake anak (Banyak janda melahirkan anak);
63. Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne (Banyak anak lahir mencari bapaknya);
64. Agama akeh sing nantang (Agaman banyak ditentang);
65. Prikamanungsan saya ilang (Perikemanusiaan semakin hilang);
66. Omah suci dibenci (Rumah suci dijauhi);
67. Omah ala saya dipuja (Rumah maksiat makin dipuja);
68. Wong wadon lacur ing ngendi-endi (Pelacur di mana-mana);
69. Akeh laknat (Banyak kutukan);
70. Akeh pengkhianat (Banyak pengkhianat);
71. Anak mangan bapak (Anak makan bapak);
72. Sedulur mangan sedulur (Saudara makan saudara);
73. Kanca dadi mungsuh (Kawan menjadi lawan);
74. Guru disatru (Guru dimusuhi);
75. Tangga padha curiga (Tetangga saling curiga);
76. Kana-kene saya angkara murka (Angkara murka semakin menjadi-jadi);
77. Sing weruh kebubuhan (Barangsiapa tahu terkena beban);
78. Sing weruh ketutuh (Yang tahu disalahkan);
79. Besuk yen ana peperangan (kelak jika terjadi perang);
80. Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor (Datang dari timur, barat, selatan dan utara);
81. Akeh wong becik saya sengsara (Banyak orang baik makin sengsara);
82. Wong jahat saya seneng (Orang yang jahat makin bahagia);
83. Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul (Ketika itu burung gagak dibilang bangau);
84. Wong salah dianggep bener (orang salah dipandang benar);
85. Pengkianat nikmat (Pengkhianat merasa nikmat);
86. Durjana saya sempurna (Durjana semakin sempurna);
87. Wong jahat munggah pangkat (orang jahat naik pangkat);
88. Wong lugu keblenggu (orang yang lugu dibelenggu);
89. Wong mulya dikunjara (Orang mulia dipenjara);
90. Sing curang garang (Yang curang berkuasa);
91. Sing jujur kojur (Yang jujur sengsara);
92. Pedagang akeh sing keplarang (Pedagang banyak yang tenggelam);
93. Wong main akeh sing ndadi (Penjudi banyak merajalela);
94. Akeh barang haram (Banyak barang haram);
95. Akeh anak haram (Banyak anak haram);
96. Wong wadon nglamar wong lanang (Perempuan melamar laki-laki);
97. Wong lanang ngasorake drajate dhewe (Laki-laki merendahkan derajatnya sendiri);
98. Akeh barang-barang mlebu luang (Banyak barang terbuang-buang);
99. Akeh wong kaliren lan da wuda (Banyak orang lapar dan telanjang);
100. Wong tuku ngglenik sing dodol (Pembeli membujuk penjual);
101. Sing dodol akal okol (Si penjual bermain siasat);
102. Wong golek pangan kaya gabah diinteri (Mencari rezeki ibarat gabah ditampi);
103. Sing kebat kliwat (Siapa tangkas lepas);
104. Sing telah sambat (Siapa terlanjut menggerutu);
105. Sing gedhe kesasar (Yang besar tersasar);
106. Sing cilik kepleset (Yang kecil terpeleset);
107. Sing anggak ketunggak (Yang congkak terbentur);
108. Sing wedi mati (Yang takut mati);
109. Sing nekat mbrekat (Yang nekat mendapat berkat);
110. Sing jireh ketindhih (Yang penakut tertindih);
111. Sing ngawur makmur (Yang ngawur makmur);
112. Sing ngati-ati ngrintih (yang berhati-hati merintih);
113. Sing ngedan keduman (Yang main gila menerima bagian);
114. Sing waras nggagas (Yang sehat pikiran berpikir);
115. Wong tani ditaleni (Petani diikat);
116. Wong dora ura-ura (Pembohong menyanyi-nyanyi);
117. Ratu ora netepi janji, musna panguawasane (Raja ingkar janji, hilang wibawanya);
118. Bupati dadi rakyat (Pegawai tinggi menjadi rakyat);
119. Sing mendele dadi gedhe (Yang curang jadi besar);
120. Akeh omah ing dhuwur jaran (Banyak rumah di punggung kuda);
121. Wong mangan wong (Orang makan sesamanya);
122. Anak lali bapak (Anak lupa ayah);
123. Wong tuwa lali tuwane (Orang tua lupa ketuaan mereka);
124. Pedagang adol barang saya laris (Pedagang berjulan barang semakin laris);
125. Bandhane saya ludes (namun hartanya mereka makin habis);
126. Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan (Banyak orang mati lapar di samping makanan);
127. Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara (Banyak orang berharta tapi hidup sengsara);
128. Sing edan bisa dandan (Yang gila bisa bersolek);
129. Sing bengkong bisa nggalang gedhong (Yang bengkok membangun mahligai);
130. Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil (Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih);
131. Ana peperangan ing njero (Terjadi peperangan di dalam);
132. Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham (Terjadi karena para pembesar banyak salah paham);
133. Durjana saya ngambra-ambra (Kejahatan makin merajalela);
134. Penjahat saya tambah (Penjahat makin banyak);
135. Wong apik saya sengsara (Yang baik makin sengsara);
136. Akeh wong mati jalaran saka peperangan (Banyak orang mati karena perang);
137. Kebingungan lan kobongan (karena bingung dan kebakaran);
138. Wong bener saya thenger-thenger (Yang benar makin tertegun);
139. Wong salah saya bungah (Yang salah makin sorak-sorai);
140. Akeh bandha musna ora karuan lungane. Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe (Banyak harta hilang entah ke mana, banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa);
141. Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram (Banyak barang haram, banyak anak haram);
142. Bejane sing lali, bejane sing eling (Beruntunglah yang lupa, beruntunglah yang sadar);
143. Nanging sauntung-untunge sing lali, isih untung sing waspada (Tapi betapa pun beruntungnya yang lupa, masih lebih beruntung yang waspada);
144. Angkara murka saya ndadi (Angkara murka semakin menjadi);
145. Kana-kene saya bingung (Di sana sini makin bingung);
146. Pedagang akeh alangane (Pedagang banyak rintangannya);
147. Akeh buruh nantang juragan (Banyak buruh melawan majikan);
148. Juragan dadi umpan (Majikan menjadi umpan);
149. Sing suwarane seru oleh pengaruh (Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh);
150. Wong pinter diingar-ingar (Orang pandai diganggu);
151. Wong ala diuja (Orang yang jahat dimanjakan);
152. Wong ngerti mangan ati (Orang yang mengerti makan hati);
153. Bandha dadi memala (Harta benda menjadi penyakit);
154. Pangkat dadi pemikat (Pangkat menjadi daya tarik);
155. Sing sawenang-wenang rumangsa menang (Yang sewenang-wenang merasa menang);
156. Sing ngalah rumangsa kabeh salah (Yang mengalah merasa serba salah);
157. Ana Bupati saka wong sing asor imane (Ada raja berasa dari orang beriman rendah);
158. Patihe kepala judhi (Sang menteri pimpinan judi);
159. Wong sing atine suci dibenci (Yang berhati suci dibenci);
160. Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat (Yang jahat dan pandai menjilat makin berkuasa);
161. Pemerasan saya ndadra (Pemerasan merajalela);
162. Maling lungguh wetenge mblenduk (Pencuri duduk berperut gendut);
163. Pitik angrem saduwure pikulan (Ayam mengeram di atas pikulan);
164. Maling wani nantang sing duwe omah (Pencuri menantang si pemilik rumah);
165. Begal padha ndhugal (Penyamun semakin kurang ajar);
166. Rampok padha keplok-keplok (Perampok bersorak-sorai);
167. Wong momong mitenah sing diemong (Yang mengasuh memfitnah yang diasuh);
168. Wong jaga nyolong sing dijaga (Yang menjaga mencuri yang dijaga);
169. Wong njamin njaluk dijamin (Yang menjamin minta dijamin);
170. Akeh wong mendem donga (Banyak orang mabuk doa);
171. Kana-kene rebutan unggul (Di mana-mana berebut menang);
172. Angkara murka ngobro-ombro (Angkara murka menjadi-jadi);
173. Agama ditantang (Agama ditantang);
174. Akeh wong angkara murka (Banyak orang angkara murka);
175. Nggedhekake duraka (Membesar-besarkan durhaka);
176. Ukum agama dilanggar (Hukum agama dilanggar);
177. Prikamanungsan diiles-iles (Perikemanusiaan diinjak-injak);
178. Kasusilan ditinggal (Tata susila diabaikan);
179. Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi (Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi);
180. Wong cilik akeh sing kepencil amarga dadi korbane si jahat si jajil (Rakyat kecil banyak tersingkir);
181. Wong wadon ilang kawirangane (Perempuan hilang malu);
182. Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit. Negarane ambane saprawolon (Lalu dating raja berpengaruh dan berprajurit. Lebar negeri sepedelapan dunia);
183. Tukang mangan suap saya ndadra (Pemakan suap semakin merajalela);
184. Wong jahat ditampa (Orang jahat diterima);
185. Wong suci dibenci (Orang suci dibenci);
186. Timah dianggep perak (Timah dianggap perak);
187. Emas diarani tembaga (Emas dibilang tembaga);
188. Dandang dikandakake kuntul (Gagak disebut bangau);
189. Wong dosa sentosa (Orang berdosa sentosa);
190. Wong cilik disalahake (Rakyat jelata dipersalahkan);
191. Wong nganggur kesungkur (Yang menganggur tersungkur);
192. Wong sregep krungkep (Yang tekun terjerembab);
193. Wong nyengit kesengit (Orang busuk hati dibenci);
194. Buruh mangluh (Buruh menangis);
195. Wong sugih krasa wedi (Orang kaya ketakutan);
196. Wong wedi dadi priyayi (Orang takut jadi priyayi);
197. Senenge wong jahat (Senangnya orang jahat);
198. Susahe wong cilik (Susahnya orang kecil);
199. Akeh wong dakwa dinakwa (Banyak orang saling tuduh);
200. Tindake manungsa saya kuciwa (Ulah manusia semakin tercela);
201. Ratu karo Raja padha rembugan Negara endi sing dipilih lan disenengi (Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai);
202. Wong Jawa kari separo (Orang Jawa tinggal separuh);
203. Landa-Cina kari sejodho (Belanda dan Cina tinggal sepasang);
204. Akeh wong ijir, akeh wong cethil (Banyak orang kikir, banyak orang bakhil);
205. Sing eman ora keduman (Yang hemat tidak mendapat bagian);
206. Sing keduman ora eman (Yang mendapat bagian tidak berhemat);
207. Akeh wong mbambung (Banyak orang berulah dungu);
208. Akeh wong limbung (Banyak orang limbung);
209. Selot-selote mbesuk wolak-waliking jaman teka (Lambat-laut datanglah kelak terbaliknya zaman).

Referensi:
• Endik Koeswoyo dkk., 2009. Kisah Raja-Raja Legendaris Nusantara. Jogjakarta: Gara Ilmu
logoblog

Thanks for reading JANGKA JAYABAYA

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog