Rabu, November 12, 2025

Luwing, Si Kaki Seribu: Sang Pengurai Tanah dan Simbol Kesabaran Alam

  Budiarto Eko Kusumo       Rabu, November 12, 2025
The one-legged creature is envious of the millipede; the millipede is envious of the snake; the snake is envious of the wind; the wind is envious of the eye; the eye is envious of the heart.”  -- Zhuangzi
Senin (10/11) pagi, saat hendak mengisi bak mandi di Sekretariat SMARThealth Kepanjen, saya menjumpai sesuatu yang bergerak pelan di pintu luar bagian belakang, dekat sumur. Sebuah makhluk kecil dengan bentuk yang unik menempel diam di sana - tubuhnya silindris seperti tabung kecil berwarna cokelat kemerahan, memantulkan sedikit kilau lembab khas penghuni tanah.
Panjangnya kira-kira lima sentimeter, tersusun dari banyak segmen yang masing-masing memiliki dua pasang kaki mungil, kecuali bagian depan tubuhnya. Itulah luwing, hewan yang sering disebut si kaki seribu.
Bentuknya yang tampak “berlipat-lipat” dan gerakannya yang serempak membuat luwing kerap menjadi bahan teka-teki jenaka di masyarakat. “Hewan apa yang paling lama pakai sepatu?” Dan tentu saja, jawabannya: si kaki seribu, sebab ia harus mengenakan seribu pasang sepatu!

Luwing (Trigoniulus corallinus) sedang merayap ke atas di pintu belakang Sekretariat SMARThealth di Dusun Lemah Duwur, Desa Dilem, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang

Namun, sebagaimana banyak hal di dunia ini, realitas tak selalu seindah gurauan. Sesungguhnya, luwing tidak memiliki seribu kaki. Jumlahnya berkisar antara 80 hingga 400 kaki, tergantung pada spesies dan tahap pertumbuhannya. 
Tapi tetap saja, bagi mata yang memandang, tubuh bersegmen dan kaki-kaki kecil yang bergerak beriringan itu menjadi panorama kecil yang menakjubkan - sebuah simfoni alam yang lembut dan teratur.
Secara ilmiah, luwing dikenal dengan nama Trigoniulus corallinus (Gervais, 1847). Nama Trigoniulus berasal dari bahasa Yunani, gabungan kata “trigono” (segitiga) dan “-ulus” (kecil), merujuk pada bentuk segmen tubuhnya yang menyerupai segitiga kecil [
1Bantam.Earth. (n.d.). Flame Leg Millipede (Trigoniulus macropygus). Bantam.Earth. Retrieved November 12, 2025, from https://bantam.earth/flame-leg-millipede-trigoniulus-macropygus/
]. Sementara corallinus berasal dari bahasa Latin corallium, yang berarti “karang merah”, sesuai dengan warna tubuhnya yang mirip batu karang bata [
2The Reptile Database. (n.d.). Micrurus corallinus. The Reptile Database. Retrieved November 12, 2025, from https://reptile-database.reptarium.cz/Micrurus/corallinus
].
Awalnya, spesies ini dideskripsikan oleh ahli paleontologi dan entomologi Prancis Paul Gervais (1816-1879) pada tahun 1847 sebagai Julus corallinus. Namun, kemudian Karl Wilhelm Verhoeff (1867-1945), seorang myriapodolog dan entomolog asal Jerman, memindahkannya ke genus Trigoniulus pada tahun 1924, sehingga kini nama binomialnya diterima sebagai Trigoniulus corallinus (Gervais, 1847). Dalam bahasa Inggris, hewan ini dikenal sebagai rusty millipede - dari akar kata Latin "milli" (seribu) dan "ped" (kaki).

Luwing (Trigoniulus corallinus) sedang berjalan menyamping di pintu belakang Sekretariat SMARThealth Kepanjen

Makhluk Pengurai yang Setia pada Tanah
Luwing sering dijumpai di sekitar rumah, terutama di daerah lembap seperti di bawah tumpukan daun kering, kayu lapuk, atau dinding batu rendah. Di lingkungan Sekretariat SMARThealth sendiri, mereka tampak aktif setelah hujan turun, perlahan merayap di sela dedaunan kering.
Meski dianggap remeh, peran ekologis luwing sangat penting. Ia merupakan pengurai alami yang membantu memecah bahan organik - daun, ranting, dan kayu yang membusuk - menjadi humus yang kaya nutrisi. Tanah yang subur, yang menjadi tumpuan hidup banyak tanaman, sebagian merupakan hasil kerja tekun makhluk kecil ini.
Dalam tradisi masyarakat pedesaan di Indonesia, luwing juga dikenal memiliki khasiat obat. Minyak hasil pembakaran tubuh luwing kerap digunakan secara tradisional untuk meredakan sakit gigi. Sementara penelitian modern memperlihatkan potensi lebih jauh: ekstrak kaki seribu (EKS) mengandung senyawa benzoquinon, yang menunjukkan aktivitas penghambatan hingga 50% terhadap sel penyebab kanker payudara dalam uji laboratorium di Universitas Gadjah Mada (UGM) [
3Administrator. (2018, August 01). Kaki Seribu Potensial Untuk Obat Antikanker Payudara - Universitas Gadjah Mada. Universitas Gadjah Mada. https://ugm.ac.id/id/berita/16728-kaki-seribu-potensial-untuk-obat-antikanker-payudara/
].
Menariknya lagi, sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal Primates mencatat bahwa lemur - primata dari Madagaskar - memiliki kebiasaan unik: mengunyah atau menggosokkan luwing ke tubuhnya. Perilaku ini bukan tanpa alasan. Kandungan kimia dari luwing membantu lemur mengatasi gatal akibat parasit serta mengontrol berat badan yang dipengaruhi oleh infeksi usus [
4Peckre, L. R., Defolie, C., Kappeler, P. M., & Fichtel, C. (2018). Potential self-medication using millipede secretions in red-fronted lemurs: combining anointment and ingestion for a joint action against gastrointestinal parasites? Primates, 59(5), 483–494. https://doi.org/10.1007/s10329-018-0674-7
].

Luwing (Trigoniulus corallinus) sedang berjalan menuju ke bawah di pintu belakang Sekretariat SMARThealth Kepanjen

Dari Teka-Teki ke Filsafat Alam
Melihat luwing yang bergerak lambat di balik pintu belakang pagi itu, saya tiba-tiba teringat pada petuah filsuf Tiongkok kuno, Zhūangzi (sekitar 369 SM - sekitar 286 SM):
“Makhluk berkaki satu iri pada kaki seribu; kaki seribu iri pada ular; ular iri pada angin; angin iri pada mata; mata iri pada hati.”
Kutipan ini seolah mengingatkan bahwa setiap makhluk memiliki keunikan dan keterbatasannya sendiri. Luwing, dengan ribuan kakinya, tampak sempurna bagi makhluk berkaki satu. Namun dalam pandangan alam, ia sama rapuhnya - bergantung pada kelembapan tanah dan keseimbangan ekosistem di sekitarnya.
Di balik tubuh kecil dan gerakannya yang lambat, luwing mengajarkan kesabaran, keteraturan, dan kerendahan hati. Ia tidak menaklukkan tanah dengan kekuatan, melainkan merawatnya lewat proses sunyi yang tak pernah terlihat. Seperti filsafat yang diam-diam bekerja di balik kehidupan sehari-hari, luwing adalah simbol bahwa kebermanfaatan sejati sering lahir dari keheningan dan ketekunan. *** [121125]


logoblog

Thanks for reading Luwing, Si Kaki Seribu: Sang Pengurai Tanah dan Simbol Kesabaran Alam

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog