Senin, Januari 26, 2026

Menangkap Momen Kuning di Kepanjen

  Budiarto Eko Kusumo       Senin, Januari 26, 2026
Sepasang kupu-kupu kuning (Eurema andersonii) bertengger di dahan pohon dewandaru

The butterfly counts not months but moments, and has time enough.” —Rabindranath Tagore
September lalu, di sudut yang kerap luput dari perhatian - tepat di belakang NIHR UB Site Office Kepanjen - alam menghadirkan sebuah peristiwa kecil namun sarat makna. Di sela batang-batang mungil pohon dewandaru (Eugenia uniflora), dua ekor kupu-kupu kuning tampak diam bertengger, seolah lupa pada dunia di sekitarnya. Mereka bukan sekadar beristirahat; di sanalah proses keberlanjutan hidup tengah berlangsung, yaitu reproduksi, dalam wujud paling sunyi dan jujur.
Sayap mereka memancarkan warna kuning lemon cerah di bagian atas, kontras dengan garis hitam yang tegas di tepi sayap depan dan garis tipis di sayap belakang. Jika diperhatikan lebih dekat, bagian bawah sayapnya berwarna kuning lembut dengan bintik-bintik cokelat yang tersusun membentuk pola khas. Pada individu jantan, terdapat tanda memanjang di vena kubital sayap depan, sebuah detail kecil yang menjadi pembeda dalam dunia yang serba kuning ini.
Di Indonesia, serangga anggun ini akrab disebut kupu-kupu kuning atau kupu-kupu belerang. Di belahan dunia lain, namanya beragam: orang Inggris mengenalnya sebagai one-spot grass yellow atau one-spot yellow grass, masyarakat Tiongkok menyebutnya ãn dí huáng fěndié, di Benggala, India, ia dikenal sebagai ōẏāna-spaṭa grāsa iẏālō, sementara di Thailand disebut phīs̄eụ̄̂x ṇer xæ nde xr̒ s̄ạn. Banyak nama, satu wujud yang sama, yakni kecil, ringan, dan penuh makna.
Nama ilmiahnya, Eurema andersonii (Moore, 1886), menyimpan kisah panjang ilmu pengetahuan. Genus Eurema diperkenalkan oleh entomolog Jerman Jacob Hübner pada tahun 1819, berasal dari bahasa Yunani Kuno heúrēma yang berarti “penemuan” atau “temuan” [
1Grokipedia. (n.d.). Eurema. Grokipedia. Retrieved January 26, 2026, from https://grokipedia.com/page/eurema
]. Sebuah nama yang terasa tepat, mengingat setiap perjumpaan dengan kupu-kupu ini memang selalu terasa seperti menemukan sesuatu yang baru.
Sementara itu, epitet andersonii merupakan bentuk penghormatan. Akhiran “-ii” lazim digunakan dalam taksonomi untuk menandai nama seseorang, dan dalam hal ini merujuk pada Charles Lewis Anderson (1827–1910), seorang dokter sekaligus naturalis yang berjasa menyediakan spesimen dan memperkaya koleksi sejarah alam [
2The Center for North American Herpetology. (n.d.). Pine Barrens Treefrog: Dryophytes andersonii (Baird, 1854). Cnah.org. Retrieved January 26, 2026, from https://cnah.org/taxon.aspx?taxon=Dryophytes_andersonii
]. 
Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh entomolog dan ilustrator Inggris Frederic Moore (1830-1907) pada tahun 1886 dengan nama Terias andersonii, sebelum akhirnya direvisi dan ditempatkan dalam genus Eurema seiring perkembangan klasifikasi dalam famili Pieridae.
Secara geografis, Eurema andersonii tersebar luas, mulai dari India dan Bangladesh hingga Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di balik tubuhnya yang rapuh, kupu-kupu kuning memegang peran penting dalam ekosistem, yakni sebagai penyerbuk tanaman, indikator kualitas lingkungan, sekaligus bagian dari rantai makanan. Mereka menghisap nektar, membantu tumbuhan bereproduksi, dan kerap bermigrasi mencari habitat baru atau bergerak mengikuti ritme alam yang tak pernah tergesa.
Mungkin itulah sebabnya momen dua kupu-kupu kuning – jantan dan betina - di Kepanjen, Kabupaten Malang itu, terasa begitu utuh. Seperti yang pernah ditulis oleh seorang penyair dan filsuf India, Rabindranath Tagore (1861-1941): 
“Kupu-kupu tidak menghitung bulan tetapi momen, dan memiliki waktu yang cukup.”
Di sela batang dewandaru itu, waktu seakan melambat, memberi ruang bagi kehidupan untuk berlangsung sebagaimana mestinya, tanpa hitungan, tanpa kecemasan, hanya momen. *** [260126]


logoblog

Thanks for reading Menangkap Momen Kuning di Kepanjen

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog