“He said that we belonged together because he was born with a flower and I was born with a butterfly and that flowers and butterflies need each other for survival.” -- Gemma Malley, The Declaration
November lalu, halaman Sekretariat SMARThealth Kepanjen - yang kini dikenal sebagai NIHR UB Site Office - tiba-tiba menjadi panggung kecil bagi kehidupan liar. Di antara tanaman gulma yang tumbuh tanpa diundang, kupu-kupu beterbangan, singgah sebentar, lalu pergi lagi.
Salah satunya yang menarik perhatian penghuni site office tersebut adalah kupu-kupu dengan garis-garis hitam tegas di sayapnya, yang sibuk mengunjungi bunga tanaman rondo mopol (Tridax procumbens). Ia berpindah dari satu bunga ke bunga lain, seolah menenun benang tak kasatmata antara kelopak dan cahaya pagi.
Menyaksikannya adalah satu hal, memotretnya perkara lain. Handphone di tangan, langkah pun ikut menari, ke kiri, ke kanan, maju, mundur. Inilah seni kecil yang dipahami para penggemar fauna, yaitu memotret serangga bergerak menuntut kesabaran dan ketelatenan. Ada kepuasan tersendiri ketika akhirnya sayap itu tertangkap dalam bingkai.
Dalam dunia entomologi, tamu lincah itu dikenal sebagai kupu-kupu albatros bergaris dari timur, atau Eastern striped albatross. Orang Prancis menyebutnya Piéride albatros striée. Nama ilmiahnya, Appias olferna Swinhoe, 1890, menyimpan jejak mitologi dan sejarah. Appias diambil dari nama nimfa pendamping Aphrodite (Venus) dalam mitologi Yunani, sebuah isyarat keindahan dan keterhubungan. Sementara olferna diyakini sebagai penanda pembeda spesies ini, bahkan ada yang menautkannya dengan Ulvern, sebuah kota di Distrik Krishna, Andhra Pradesh, India, tempat spesimen tipenya dikumpulkan.
![]() |
| Kupu-Kupu Albatros Bergaris dari Timur (Appias olferna) berkelamin jantan sedang menghisap saei bunga rondo mopol (Tridax procumbens) |
Spesies ini diperkenalkan ke dunia sains sebagai nova species oleh naturalis Inggris Charles Swinhoe (1838-1923) pada 1890, melalui publikasi di The Annals and Magazine of Natural History [
1Günther, A. C. L. G., Dallas, W. S., Carruthers, W., & Francis, W. (1890). The Annals and Magazine of Natural History, including Zoology, Botany, and Geology. 6(5), 358–359. London: Taylor and Francis. https://archive.org/details/annalsmagazineof651890lond/page/n6/mode/1up
]. Sejak itu, Appias olferna kerap disandingkan dengan kerabat dekatnya, yakni Appias libythea, yang begitu mirip hingga olferna sempat dianggap subspesiesnya. Namun alam selalu punya cara menegaskan identitasnya.Dengan rentang sayap sekitar 5,5 sentimeter, tubuh Appias olferna berwarna abu-putih. Jantannya tampil cerah, putih bersih dengan urat hitam yang kontras, terutama di sisi bawah yang lebih terang. Betinanya lebih gelap, abu-abu dengan garis-garis putih di bagian atas, dan cokelat kekuningan bergaris putih di bagian bawah [
2De Chabannes, P. (n.d.). Appias olferna olferna. Pierre Wildlife. https://www.pierrewildlife.com/searchspecies/otherinvert/butterflies/otherbutterflies/appiaslibythea/
]. Perbedaan ini bukan sekadar estetika, melainkan strategi yang merupakan hasil seleksi alam yang panjang.Wilayah jelajahnya luas, mulai dari India bagian timur hingga Vietnam, turun ke Semenanjung Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Ia menyukai hutan terbuka, belantara yang bernafas, hingga alam pedesaan.
Saat cuaca cerah, kupu-kupu ini terbang cepat dan aktif, rajin mengunjungi bunga demi seteguk nektar. Dalam kacamata sosiobiologi, perilaku ini adalah kontrak tak tertulis antara penyerbuk dan tanaman - pertukaran energi yang menopang ekosistem.
![]() |
| Appias olferna betina atau female Appias olferna yang sedang menghisap sari bunga tanaman rondo mopol (Tridax procumbens) |
Menariknya, Appias olferna justru berkembang baik di habitat terbuka dan terganggu, seperti taman kota, lahan terlantar, padang rumput. Kunci keberhasilannya terletak pada kemampuan beradaptasi, khususnya memanfaatkan gulma invasif Cleome rutidosperma sebagai tanaman inang larva.
Di sela beton dan perumahan, kehidupan menemukan celah. Kupu-kupu ini membuktikan bahwa kota bukan akhir dari alam, melainkan medan baru untuk bernegosiasi.
Kisahnya mengingatkan pada kalimat puitis Gemma Malley, penulis fiksi berkebangsaan Inggris dalam The Declaration (2007):
“Dia berkata bahwa kami ditakdirkan bersama karena dia lahir dengan bunga dan aku lahir dengan kupu-kupu, dan bahwa bunga dan kupu-kupu saling membutuhkan untuk bertahan hidup.”
Di halaman site office yang sederhana itu, kalimat tersebut terasa hidup. Bunga dan kupu-kupu, gulma dan sayap, kota dan alam - semuanya terikat dalam jejaring kebutuhan yang halus. Appias olferna bukan sekadar objek foto atau entri taksonomi; ia adalah penanda bahwa di tengah perubahan, hubungan-hubungan purba masih bekerja, setia menjaga keseimbangan. *** [250126]



Tidak ada komentar:
Posting Komentar