“Then I remember what Mom said about eating bitter melon. If I keep eating this, will I get used to it? Will I learn to like it? Somehow I don't think so.” -- Cara Chow, Bitter Melon
Di depan rumah Ketua RT 03 RW 02 - di sudut Kp. Genting, Dusun Krajan, Desa Sepanjang, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang - terhampar sebuah kebun yang tidak begitu luas. Deretan rambatan bambu berbaris rapi, diselimuti oleh dedaunan hijau yang subur dan dihiasi buah-buah bergelombang berwarna hijau segar hingga kekuningan. Inilah kebun pare milik tetangga Ketua RT setempat, sebuah pemandangan umum sekaligus istimewa di banyak pekarangan yang ada di pedesaan.
Buah yang satu ini memang terkenal lekat dengan sensasi rasa pahitnya yang "getir". Bagi yang belum terbiasa, kepahitannya bisa jadi tantangan. Namun, di tangan yang tepat, pare justru menjelma jadi hidangan lezat, seperti ditumis, direbus untuk pelengkap siomay, atau diolah dengan bumbu rempah yang menggugah selera.
![]() |
| Buah pare (Momordica charantia) yang sudah siap dipanen untuk sayur |
Kepopulerannya di Indonesia tercermin dari beragam nama lokalnya, mulai dari kambeh di Minangkabau, paria di Sunda, pare di Jawa, pepareh di Madura, paya kuwuh di Bali, paya atau truwuk di Nusa Tenggara, poya atau pudu di Sulawesi hingga papari di Maluku. Setiap daerah punya sebutan sendiri, membuktikan betapa tanaman ini telah menyatu dengan budaya kuliner kita.
Lebih dari Sekadar Sayur: Sejarah dan Asal-Usul Nama
Di balik citarasa pahitnya, tersimpan cerita ilmiah yang menarik. Pare memiliki nama ilmiah Momordica charantia L., yang diberikan oleh bapak taksonomi dunia asal Swedia, Carolus Linnaeus (1707-1778), dan dipublikasikan dalam Species Plantarum pada tahun 1753 [
1Linnaei, Caroli. (1753). Species Plantarum, Exhibentes Plantas Rite Cognitas, Ad Genera Relatas, Cum Differentiis Specificis, Nominibus Trivialibus, Synonymis Selectis, Locis Natalibus, Secundum Systema Sexuale Digestas. (Tomus II). Holmiae: Impensis Laurentii Salvii. https://www.biodiversitylibrary.org/page/358580
].![]() |
| Bunga pare (Momordica charantia) |
Kata Momordica berasal dari bahasa Latin momordisse yang berarti "tergigit", merujuk pada bijinya yang terlihat seperti bekas gigitan [
2Merriam-Webster. (n.d.). Momordica. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved January 16, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/Momordica
]. Sedangkan, julukan khusus charantia tidak jelas juntrungnya. Ada yang bilang, berasal dari nama Italia kuno caranza karena tanaman ini mudah diatur untuk dijadikan tanaman pergola; istilah ini berasal dari bahasa Yunani χάραξ chárax yang berarti tiang penyangga, alang-alang [3ecosostenibile. (n.d.). Momordica charantia: Systematics, Etymology, Habitat, Cultivation. An Eco-Sustainable World. Retrieved January 17, 2026, from https://antropocene.it/en/2023/02/23/momordica-charantia-2/
]. Namun, ada juga yang mengaitkan dengan charan, yang berarti "pahit" dalam bahasa Sansekerta, menyoroti rasa khas tanaman tersebut, dengan nama lengkapnya berarti "pare" atau "melon pahit" (bitter melon).
![]() |
| Buah pare (Momordica charantia) yang sudah matang. Bijinya bisa dijadikan bibit |
Pare termasuk dalam keluarga labu-labuan (Cucurbitaceae) dan dipercaya berasal dari Afrika, Asia Barat, India, Indochina hingga Malesia, termasuk di dalam merupakan tanaman asli Indonesia. Kemudian diperkenalkan di China, Korea, AS, Meksiko, Amerika Tengah, Karibia, Amerika Selatan (kecuali wilayah selatan) [
4EPPO Global Database. (n.d.). Momordica charantia (MOMCH)[Overview]. EPPO. Retrieved January 17, 2026, from https://gd.eppo.int/taxon/MOMCH
], dan terus menyebar luas ke berbagai penjuru dunia. Tanaman merambat dengan sulur spiral ini mudah dikenali dari buahnya yang berbintil-bintil. Uniknya, rasa pahit itu justru dimiliki saat buah masih muda dan hijau. Saat matang dan berwarna oranye, buah akan terbuka dan daging serta bijinya yang diselimuti selubung merah justru terasa manis.
Inilah sisi paling menakjubkan dari si pare pahit. Selama ribuan tahun, hampir di seluruh belahan dunia, tanaman ini tidak hanya dikonsumsi sebagai makanan, tetapi juga sebagai obat. Penggunaannya dalam pengobatan tradisional sangat luas. Ayurveda di India, pare yang dikenal sebagai karela digunakan untuk mengatasi diabetes, penyakit kuning, masalah pencernaan, dan penyakit kulit. Jusnya dipercaya memiliki sifat diuretik dan pencahar.
Dalam Pengobatan Tradisional Turki, minyak dari buah matang yang direndam dalam minyak zaitun dan dicampur madu, digunakan untuk mencegah dan menyembuhkan tukak lambung.
Di Pengobatan Tradisional Afrika, rebusan daun dan buahnya digunakan untuk mengobati diabetes, cacingan, demam, rematik, hingga malaria.
![]() |
| Batang pare (Momordica charantia) |
Sedangkan, di Karibia dan Brasil, pare digunakan untuk mengelola diabetes, tekanan darah tinggi, serta mengobati berbagai gangguan kulit seperti luka, bisul, dan luka bakar.
Khasiat ini tidak datang tanpa alasan. Para peneliti seperti Bortolotti dkk. (2019) [
5Bortolotti, M., Mercatelli, D., & Polito, L. (2019). Momordica charantia, a Nutraceutical Approach for Inflammatory Related Diseases. Frontiers in pharmacology, 10, 486. https://doi.org/10.3389/fphar.2019.00486
] melaporkan bahwa buah dan daun pare kaya akan fitokimia seperti saponin, flavonoid, dan alkaloid. Senyawa-senyawa inilah yang diduga memberi efek antidiabetes, antivirus, antibakteri, dan antiperadangan.Pahit itu Pelajaran Hidup
Menerima rasa pahit pare memang butuh pembiasaan. Seperti yang tersirat dalam kutipan menyentuh dari Cara Chow [
6Goodreads. (n.d.). Cara Chow (Author of Bitter Melon). Goodreads. Retrieved January 17, 2026, from https://www.goodreads.com/author/show/3508723.Cara_Chow
], penulis novel kelahiran Hongkong yang sekarang tinggal di Amerika, dalam Bitter Melon (2011): “Lalu aku teringat apa yang Ibu katakan tentang makan pare. Jika aku terus memakannya, apakah aku akan terbiasa? Apakah aku akan belajar menyukainya? Entah kenapa aku rasa tidak.”
![]() |
| Deretan tanaman pare (Momordica charantia) di Kp. Genting RT 03 RW 02 Dusun Krajan, Desa Sepanjang, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang |
Kata-kata ini menggambarkan betapa kepahitan pare bukanlah hal yang mudah dilupakan atau disukai begitu saja. Namun, mungkin di situlah pelajarannya. Layaknya pare, hal-hal yang terasa "pahit" dalam hidup, seringkali menyimpan manfaat dan kekuatan tersembunyi. Si buah berwarna hijau dan berbintil ini mengajarkan kita bahwa terkadang, di balik rasa yang tidak disukai, tersimpan khasiat yang luar biasa untuk kesehatan dan kebijaksanaan hidup.
Jadi, lain kali Anda melihat pare di pasar atau kebun, ingatlah bahwa ia bukan sekadar sayur pahit. Ia adalah Momordica charantia, sebuah warisan alam yang telah merambat melalui zaman dan benua, menyajikan kepahitan yang menyehatkan serta cerita panjang tentang hubungan manusia dengan alam. *** [170126]







Tidak ada komentar:
Posting Komentar