“Every little bean must be heard as well as seen!” --Erich Maria Remarque
Sapaan ringan dalam bahasa Jawa itu mengawali perjumpaan saya dengan buncis. Siang itu, saat bersilaturahmi ke rumah seorang kader SMARThealth di Desa Sepanjang, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, sang suami menyapa tetangganya yang melintas di depan rumah.
“Arep nangdi?” tanyanya.
“Arep njupuk ucet,” jawab lelaki paruh baya bernama Mujiyanto.
Kata ucet langsung menarik perhatian saya yang ikut mendengarnya. Dalam kebiasaan masyarakat Malang, ucet adalah sebutan untuk buncis. Mendengar itu, saya pun kemudian ikut menyusuri kebun Mujiyanto yang letaknya bersebelahan dengan kebun kader SMARThealth, atau tepatnya berada di Dusun Sonokembang RT 05 RW 04 Desa Sepanjang.
![]() |
| Polong buncis (Phaseolus vulgaris) |
Di sanalah, di antara sulur-sulur hijau yang merambat pada anjang-anjang bambu, tanaman buncis tumbuh berdampingan dengan kacang panjang (Vigna unguiculata subsp. sesquipedalis). Sekilas, kedua tanaman itu tampak serupa, yaitu sama-sama merambat, sama-sama hijau, sama-sama berpolong. Namun ketika didekati dengan saksama, perbedaannya segera terlihat. Bunga buncis lebih kecil, buahnya lebih pendek dan padat, dengan bentuk yang khas.
Di kebun sederhana itu, saya seolah diingatkan bahwa detail kecil kerap menyimpan cerita besar. Seperti kata Erich Maria Remarque (1898-1970), seorang novelis Jerman, “Setiap butir buncis harus didengar sekaligus dilihat!”
Dari Kebun ke Buku Botani
Buncis yang dipetik Mujiyanto siang itu bukan sekadar sayuran dapur. Ia adalah Phaseolus vulgaris L., anggota famili Fabaceae atau suku polong-polongan. Nama Phaseolus berasal dari bahasa Yunani phasēlos, yang berarti kacang dalam polong [
1Merriam-Webster. (n.d.). Phaseolus. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved January 14, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/Phaseolus
], sementara vulgaris dari bahasa Latin bermakna umum atau lazim yang secara harfiah, “kacang biasa” [2Merriam-Webster. (n.d.). Vulgar. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved January 14, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/vulgar
].![]() |
| Bunga buncis (Phaseolus vulgaris) |
Nama ilmiah ini pertama kali diperkenalkan oleh botanis Swedia, Carolus Linnaeus (1707-1778), pada 1753 dalam karya monumentalnya Species Plantarum [
3Linnaei, Caroli. (1753). Species Plantarum, Exhibentes Plantas Rite Cognitas, Ad Genera Relatas, Cum Differentiis Specificis, Nominibus Trivialibus, Synonymis Selectis, Locis Natalibus, Secundum Systema Sexuale Digestas (Tomus II). Holmiae: Impensis Laurentii Salvii. https://www.biodiversitylibrary.org/page/358580
]. Pada masa itu, buncis sudah begitu akrab di Dunia Lama hingga Linnaeus sempat menduga tanaman ini berasal dari India. Dugaan tersebut kelak memicu kebingungan panjang dalam sejarah klasifikasi kacang-kacangan.Faktanya, spesies kacang asli Dunia Lama berasal dari genus lain, seperti Vigna dan Vicia. Selama lebih dari dua abad, kekeliruan dan deskripsi yang kurang cermat membuat ratusan nama spesies bermunculan.
Baru kemudian disepakati bahwa genus Phaseolus merupakan penghuni asli Dunia Baru, terutama kawasan Neotropis - dari pegunungan barat Meksiko hingga Andes di Amerika Selatan. Hingga kini, tidak ada spesies Phaseolus yang tumbuh liar secara alami di luar wilayah tersebut [
4Lioi, L., & Piergiovanni, A. R. (2013). 2 - European Common Bean. In M. Singh, H. D. Upadhyaya, & I. S. Bisht (Eds.), Genetic and Genomic Resources of Grain Legume Improvement (pp. 11–40). Elsevier. https://www.sciencedirect.com/book/edited-volume/9780123979353/genetic-and-genomic-resources-of-grain-legume-improvement
].![]() |
| Daun buncis (Phaseolus vulgaris) |
Ragam Nama, Satu Tanaman
Kepopuleran buncis tercermin dari banyaknya nama yang disematkan kepadanya di berbagai belahan dunia. Dalam bahasa Inggris ia dikenal sebagai common bean atau kidney bean; di Prancis disebut haricot; di Jerman Gartenbohne; di Italia fagiolo; di Turki fasulye; di India rajma; di Malaysia kacang mera; dan di Indonesia, kita mengenalnya sebagai buncis. Nama boleh berbeda, tetapi polong hijau itu tetap menjadi bagian penting dari meja makan banyak budaya.
Wujud dan Khasiat
Secara morfologis, buncis memiliki akar tunggang dengan cabang serabut, batang yang bisa merambat atau tegak dengan bulu halus, serta daun majemuk tiga berbentuk jorong. Bunganya sempurna, sementara buahnya berupa polong ramping berisi 4 - 8 biji berbentuk ginjal. Warna bijinya pun beragam, seperti hijau, kuning, ungu, hingga cokelat saat kering.
Namun nilai buncis tidak berhenti pada tampilan fisik. Sejak lama, tanaman ini dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Kandungan fitokimia seperti flavonoid, asam fenolik, tanin, dan saponin menjadikannya bersifat antioksidan, antiinflamasi, antibakteri, hingga antidiabetes [
5Bhide, Y. S., Nehete, J. Y., & Bhambar, R. S. (2022). Botanical, chemical and pharmacological review of phaseolus vulgaris L. (common bean): An ayurvedic medicinal plant. International Journal of Health Sciences, 6(S5), 11527-11543. https://doi.org/10.53730/ijhs.v6nS5.11137
]. Dalam pengobatan tradisional, buncis digunakan untuk membantu mengatasi berbagai keluhan, mulai dari masalah kulit, gangguan pencernaan, rematik, hingga batu ginjal dan kolesterol tinggi.![]() |
| Tanaman buncis (Phaseolus vulgaris) di kebun Mujiyanto yang terletak di Dusun Sonokembang RT 05 RW 04 Desa Sepanjang, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang |
Penelitian mutakhir bahkan mencatat potensinya dalam membantu mengelola obesitas, diabetes, dan infeksi saluran kemih [
6Noorulla, K. M., Doyo Dalecha, D., Jemal Haji, M., S, R., Arumugam, M., Zafar, A., Gadisa Gobena, W., Mekit, S., Haji Negawo, H., Hussein, M., Fekadu Demessie, H., & Yasir, M. (2024). Syrupy herbal formulation of green bean pod extract of Phaseolus vulgaris L.: Formulation optimization by central composite design, and evaluation for anti-urolithiatic activity. Heliyon, 10(5), e27330. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2024.e27330
]. Sebuah bukti bahwa tanaman yang tampak sederhana ini menyimpan khasiat yang tak bisa diremehkan.Lebih dari Sekadar Sayur
Kembali ke kebun Mujiyanto, buncis yang dipetik itu mungkin akan segera berakhir di dapur, ditumis atau direbus untuk makan siang keluarga. Namun di balik kesederhanaannya, buncis adalah simpul antara kebun rakyat, sejarah botani dunia, dan pengetahuan pengobatan tradisional.
Barangkali itulah sebabnya buncis digemari banyak orang. Ia mudah tumbuh, mudah diolah, dan sarat manfaat. Dari anjang-anjang bambu di Malang hingga literatur ilmiah dunia, Phaseolus vulgaris membuktikan bahwa yang “biasa” sering kali justru yang paling bermakna. *** [150126]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar