Minggu, September 07, 2025

Detak Ekosistem di Ujung Kelopak: Ketika Lebah Alur Menyingkap Harmoni antara Lingkungan dan Kesehatan Manusia

  Budiarto Eko Kusumo       Minggu, September 07, 2025
Lebah alur (Lasioglossum urbanum) yang sedang hinggap di atas bunga rumput Israel di halaman Puskesmas Pakisaji, Desa Karangduren, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang

Belum selesai mengagumi mungilnya bunga rumput Israel (Asytasia gangetica subsp. micrantha) yang tumbuh liar namun anggun di halaman Puskesmas Pakisaji, pada Kamis (04/09), tiba-tiba hadir satu momen yang mengubah kesunyian pagi menjadi renungan ekologis. Seekor lebah bertubuh ramping, nyaris tak terdengar suara kepak sayapnya, hinggap perlahan di atas kelopak bunga yang indah itu.
Lebah itu dikenal sebagai lebah alur. Nama ilmiahnya adalah Lasioglossum urbanum (Smith, 1879). Nama genus Lasioglossum berasal dari bahasa Yunani dari gabungan kata “lasios” (berbulu) dan “glossa” (lidah), yang merujuk pada tubuh dan lidah lebah yang berbulu [
1BuzzAboutBees.Net. (n.d.). Bloomed Furrow Bee - Lasioglossum albipes . BuzzAboutBees.Net. https://www.buzzaboutbees.net/Bloomed-Furrow-Bee-Lasioglossum-albipes.html
].
Sedangkan, julukan khusus urbanum berasal dari bahasa Latin “urbanus, -a, -um” (kota, urban, penghuni kota) [
2Mahoney, K. D. (n.d.). Latin Definition for: urbanus, urbana, urbanum (ID: 38160) - Latin Dictionary and Grammar Resources - Latdict. Latin-Dictionary. https://latin-dictionary.net/definition/38160/urbanus-urbana-urbanum
], yang merujuk pada cara ia mengikuti manusia. Ia dapat bertahan terhadap aktivitas manusia dan memanfaatkan berbagai perubahan, seperti pengayaan hutan [
3NatureGate. (n.d.). Geum urbanum - Flores - NatureGate. Luontoportti. https://luontoportti.com/es/t/1061/herb-bennet
].
Spesies lebah ini pertama kali dideskripsikan oleh Frederick Smith (1805-1879), seorang ahli entomologi Inggris yang bekerja di British Museum (sekarang Natural History Museum, London), pada tahun 1879 dengan nama Halictus urbanus
Berdasarkan studi taksonomi modern, spesies ini kemudian dipindahkan ke dalam genus Lasioglossum, sehingga nama penemunya ditempatkan dalam tanda kurung. Nama yang valid dan digunakan sekarang adalah Lasioglossum urbanum.
Para ahli menyebutnya juga sebagai furrow bee, dan dalam komunitas pemerhati lingkungan, ia dijuluki "lebah asli mungil" (tiny native bee), sebuah julukan yang bukan sekadar soal ukuran, tetapi juga tentang perannya yang penting dalam jantung ekosistem lokal.
Tubuhnya kecil, hanya sekitar 6 hingga 10 milimeter, namun memancarkan kilau logam lembut - entah kuning keemasan atau hijau zaitun, tergantung dari sudut cahaya. Abdomen-nya bersegmen rapi, dihiasi pita-pita halus berwarna pucat. 
Antenanya menjulur lembut, seperti jarum penunjuk arah pada kompas kehidupan liar yang lebih luas. Tak seperti lebah madu yang kita kenal dalam sarang-sarangnya, furrow bee (lebah alur) ini hadir sebagai pengingat bahwa banyak kehidupan penyerbuk lain yang bekerja diam-diam menjaga kesuburan bumi.
Lebah ini bukan hanya penyerbuk bunga. Ia adalah simbol detak kecil dari ekosistem yang sehat - ia hanya muncul jika lingkungan mendukung, jika tanaman lokal dibiarkan tumbuh, jika udara bersih dan tanah tak tercemar. Kehadirannya di halaman sebuah pusat kesehatan menjadi metafora yang kuat: bahwa kesehatan manusia dan kesehatan lingkungan saling terkait, saling menjaga.
Di tempat yang sehari-harinya menjadi saksi perjuangan melawan penyakit, lebah ini datang seperti pesan halus dari alam. Bahwa pemulihan tak selalu datang dari obat-obatan sintetis, tapi juga dari keseimbangan yang kita jaga bersama - antara aspal dan tanah, antara klinik dan taman, antara manusia dan makhluk kecil bersayap yang tak pernah menuntut perhatian, hanya ruang untuk hidup berdampingan.
Di ujung kelopak bunga rumput Israel itu, seekor lebah mungil telah menyampaikan pesannya. Dan pagi itu, di halaman Puskesmas Pakisaji, Kabupaten Malang, terlihat jelas: alam masih berdetak, dan selama kita mendengarkan, kita pun bisa ikut sehat bersama. *** [070925]


logoblog

Thanks for reading Detak Ekosistem di Ujung Kelopak: Ketika Lebah Alur Menyingkap Harmoni antara Lingkungan dan Kesehatan Manusia

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog