Rabu, Oktober 22, 2025

Tulus yang Terluka dan Senyum yang Terlupakan: Saat Cinta untuk Orang Lain Menenggelamkan Dirimu Sendiri

  Budiarto Eko Kusumo       Rabu, Oktober 22, 2025
Kala berkunjung ke TB Gramedia Kayutangan, Malang, pada Selasa (16/09/2025)

Ada sebuah ruang sunyi di antara dua buku yang ditulis oleh dua penulis dengan latar belakang berbeda, namun berbicara tentang luka yang serupa. Di satu sisi, Boy Candra, lewat Tulus untuk Orang yang Salah (2022), mengukir narasi tentang betapa tulusnya seseorang bisa mencintai, hingga rela mengorbankan segalanya untuk sang kekasih, meski akhirnya hanya berujung pada pengkhianatan. 
Di sisi lain, Sabrina Ara, dalam Sayangi Dirimu, Berhentilah Menyenangkan Semua Orang (2021), mengetuk kesadaran kita tentang bahaya dari kebiasaan mengubur perasaan sendiri hanya untuk mendapatkan validasi dan senyum persetujuan dari orang lain.
Kedua buku ini, bagai dua sisi mata uang yang sama, menggambarkan sebuah siklus kepedihan yang berawal dari satu hal: kehilangan diri sendiri demi orang lain.

Boy Candra: Tulus yang Dibuang Percuma
Dalam Tulus untuk Orang yang Salah, Boy Candra dengan piawai menggambarkan karakter yang begitu dalam mencintai, hingga menganggap pengorbanan adalah bukti cinta tertinggi. Sinopsisnya seringkali berkisah tentang seseorang yang memberikan semua yang dimiliki - waktu, perhatian, kasih sayang, bahkan masa depannya - kepada pasangan yang ternyata tidak pernah sungguh-sungguh menghargainya.
Bayangkan tokoh Alya dalam cerita Boy Candra. Dia selalu mengalah pada keinginan sang kekasih, membatalkan rencana kuliahnya demi menemani, dan selalu meminta maaf meski bukan dia yang salah. Alya percaya bahwa dengan menjadi "baik" dan "tulus" seperti ini, cinta mereka akan abadi. Namun, pada akhirnya, sang kekasih justru pergi dengan alasan merasa "tertekan" oleh kebaikan Alya yang berlebihan. Tulus Alya dibalas dengan luka, karena dia mencintai dengan cara yang melukai dirinya sendiri.

Sabrina Ara: Senyum yang Menenggelamkan
Beralih ke Sayangi Dirimu, Berhentilah Menyenangkan Semua Orang, Sabrina Ara tidak hanya fokus pada hubungan romantis, tetapi lebih luas: hubungan dengan keluarga, teman, dan lingkungan sosial. 
Buku ini adalah seruan untuk berhenti menjadi "people pleaser" - orang yang hidupnya dikendalikan oleh keinginan untuk disukai semua orang. Kebiasaan mengatakan "ya" padahal hati ingin bilang "tidak", memendam amarah, dan selalu merasa bersalah jika tidak bisa memenuhi ekspektasi orang lain, adalah racun yang perlahan merusak kesehatan mental.
Misalnya Rara, seorang karyawan yang selalu dikerjai teman-temannya karena tidak pernah berani menolak. Dia mengambil alih pekerjaan orang lain, menghadiri acara yang tidak dia sukai, dan selalu tersenyum meski hatinya menangis. Dia merasa dirinya "baik", tetapi dalam diam, dia merasa hampa, lelah, dan bertanya-tanya, "Di mana 'aku' yang sebenarnya?"

Kolaborasi dengan Kebijaksanaan Paulo Coelho
Di titik inilah words of wisdom Paulo Coelho - novelis Brasil - menyatukan kedua narasi tersebut dengan sempurna: 
If you live to please others, everyone will love you, except yourself” (Jika Anda hidup untuk menyenangkan orang lain, semua orang akan mencintai Anda kecuali diri Anda sendiri).
Kutipan ini bagai kunci yang membuka makna terdalam dari kedua buku tersebut. Tokoh dalam cerita Boy Candra adalah manifestasi dari orang yang "hidup untuk menyenangkan" satu orang khusus (kekasih). Hasilnya? Sang kekasih mungkin akan betah untuk sementara, mencintainya karena kenyamanan yang diberikan, tetapi pada akhirnya, sang tokoh kehilangan identitasnya. Dia tidak lagi mengenali dirinya sendiri di balik tumpukan pengorbanan.
Sementara, pesan Sabrina Ara adalah antidot (penawar) dari kutipan Coelho tersebut. "Berhentilah Menyenangkan Semua Orang" adalah perintah untuk mulai mencintai diri sendiri. Sebab, jika Anda tidak mencintai diri sendiri, bagaimana mungkin Anda bisa mencintai orang lain dengan sehat? Bagaimana mungkin Anda bisa membedakan antara tulus yang diberikan dengan tulus, dan tulus yang diberikan karena takut ditinggalkan?

Satu Benang Merah: Dari Luka Menuju Pemulihan
Kedua buku ini, meski dengan pendekatan berbeda, mengajak pembaca untuk melakukan refleksi yang sama, yaitu:
Mengenali Pola: Apakah Anda selama ini mencintai dengan cara yang merugikan diri sendiri? Apakah Anda terlalu sering mengorbankan kebahagiaan Anda untuk kebahagiaan orang lain?
Berdiri di Atas Kaki Sendiri: Baik Boy Candra maupun Sabrina Ara, pada akhirnya, ingin melihat pembacanya bangkit. Setelah luka karena "tulus yang salah", datanglah kesadaran untuk memilih dan belajar mencintai dengan lebih bijak. Setelah lelah "menyenangkan semua orang", muncullah keberanian untuk berkata "tidak" dan menetapkan batasan.

Sebuah Renungan
Tulus untuk Orang yang Salah dan Sayangi Dirimu, Berhentilah Menyenangkan Semua Orang adalah dua sahabat dalam perjalanan penyembuhan. Yang satu menunjukkan lukanya, yang lain memberikan obatnya. 
Dan di atas segalanya, mereka bersama-sama menggemakan kebenaran abadi dari Paulo Coelho: Cinta sejati - baik untuk orang lain maupun untuk diri sendiri - tidak akan pernah lahir dari pengorbanan identitas diri
Karena pada akhirnya, cinta yang paling pertama dan utama harus Anda berikan adalah cinta untuk diri Anda sendiri. Barulah setelah itu, cinta yang Anda berikan kepada orang lain akan menjadi sebuah pilihan, bukan sebuah keharusan yang menyiksa. *** [211025]


logoblog

Thanks for reading Tulus yang Terluka dan Senyum yang Terlupakan: Saat Cinta untuk Orang Lain Menenggelamkan Dirimu Sendiri

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog