Perjalanan bolak-balik menyeberang Waduk Karangkates dengan perahu kayu sudah menjadi rutinitas sejak digulirkannya penelitian NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) dari Universitas Brawijaya (UB).
Namun, ketika perjalanan menghadiri Koordinasi terkait Kegiatan Baseline Survey NIHR UB di Desa Tlogorejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, pada Jumat (17/10), membawa pemandangan yang sama sekali baru.
Untuk pertama kalinya, saya menyaksikan air waduk surut begitu drastis. Tubuh raksasa penampung air itu kini lebih menyerupai lembah luas, dengan alur Sungai Brantas yang keruh berkelok seperti ular raksasa di dasarnya.
![]() |
| Buah Xanthium strumarium |
Rute penyeberangan pun berubah. Penumpang tidak lagi berlabuh di dermaga yang biasa. Baik dari Dermaga Rajut Indah di Kecopokan maupun dari Dermaga Dadapan di Desa Tlogorejo, para penumpang harus turun ke bawah, menuruni tebing lumpur yang curam untuk mencapai perahu yang kini terparkir jauh di bawah.
Di tengah pemandangan daratan lumpur yang retak-retak itu, sebuah kehidupan baru muncul dengan suburnya. Ribuan tanaman perintis, dengan buah berduri yang sepintas mirip jarak kepyar (Ricinus communis), menutupi endapan lumpur yang mulai mengering. Seorang perangkat Desa Tlogorejo yang saya tanya, menyebutnya dengan nama lokal: grêndhêl.
Dalam literatur botani, tumbuhan yang dijuluki grêndhêl oleh warga setempat ini bernama ilmiah Xanthium strumarium. Simanjuntak dkk (2025) dalam “Keanekaragaman Vegetasi Penutup Tanah pada Kebun Sawit Rakyat di Kecamatan Bandar Pulau” menyebutnya jojero atau jojera [
1Simanjuntak, A. P., Astuti, Y. T. M., & Yuniasih, B. (2025). Keanekaragaman Vegetasi Penutup Tanah pada Kebun Sawit Rakyat di Kecamatan Bandar Pulau. Agroforetech, 3(2), 928–934. https://share.google/SiPHaI93nnBZbQcMT
].Nama genusnya, Xanthium, berasal dari bahasa Yunani "xanthion", yang merujuk pada tanaman yang digunakan untuk mewarnai rambut menjadi kuning, dari kata "xanthos" (kuning) [
2Merriam-Webster. (n.d.). Xanthium. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved October 19, 2025, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/Xanthium
]. Sedangkan, julukan spesifiknya, strumarium, berasal dari bahasa Latin "strumosus" yang berarti "bengkak", menggambarkan bentuk buahnya yang bengkak dan penuh duri [3Mifsud, S. (2005). Online Flora of the Maltese Islands (2002-2025): Xanthium strumarium - datasheet published on Sep-2005. Retrieved on 19-Oct-2025 from https://www.MaltaWildPlants.com/ASTR/#ASTR
].Spesies ini pertama kali dideskripsikan secara resmi oleh bapak taksonomi modern, Carolus Linnaeus dari Swedia, dalam mahakaryanya Species Plantarum pada tahun 1753. Asal-usulnya masih diperdebatkan, apakah dari Asia Utara atau Amerika Utara.
Namun, bukti arkeologis menunjukkan tanaman ini sudah ada di situs-situs Zaman Perunggu di Eropa, menunjukkan usianya yang tua sebagai tumbuhan pendatang [
4EPPO Global Database. (n.d.). Xanthium strumarium (XANST)[Overview. EPPO. Retrieved October 20, 2025, from https://gd.eppo.int/taxon/XANST
]. Kini, ia telah menjadi warga dunia, tersebar hampir di semua benua yang tidak tertutup es permanen, tak terkecuali sebagai gulma di Indonesia.Xanthium strumarium atau yang biasa disebut cocklebur di dunia internasional, adalah tanaman herba tahunan dengan batang kokoh dan daun lebar berlobus. Ciri khasnya adalah buah (bur) yang lonjong, berduri, dan memiliki dua paruh bengkok yang mudah menempel pada bulu hewan atau pakaian manusia untuk menyebar.
Di balik penampilannya yang sederhana, tersimpan sejarah panjang pemanfaatan dalam pengobatan tradisional [
5Bhimrao, K. P., Khedkar, A. N., Veer, S. U., & Garje, S. B. (2024). A Review on the Herbal Xanthium Strumarium. International Journal for Research Trends and Innovation, 9(10), 140–148. https://www.ijrti.org/papers/IJRTI2410012.pdf
]. Dalam sistem Ayurveda India, seluruh bagian tanaman, terutama akar dan buahnya, digunakan sebagai obat. Tanaman ini diyakini memiliki sifat mendinginkan, pencahar, anthelmintik (pembasmi cacing), tonik, dan antipiretik (penurun demam). Ia digunakan untuk mengobati leukoderma (vitiligo), gigitan serangga beracun, epilepsi, dan demam.Di Tiongkok, catatan penggunaannya bahkan sudah ada sejak Dinasti Han Timur dalam teks klasik Shen Nong Ben Cao Jing. Buahnya, yang harus dipanggang terlebih dahulu untuk mengurangi toksisitasnya, terutama digunakan untuk mengobati rinitis (radang hidung) dan sakit kepala. Suku-suku asli Amerika memanfaatkannya untuk meredakan gangguan pencernaan seperti sembelit dan diare.
![]() |
| Tanaman Xanthium strumarium yang tumbuh liar di Waduk Karangkates, Sumberpucung, Kabupaten Malang |
Daunnya yang lembut bahkan dapat dimasak dalam sup dan rebusan di beberapa budaya, atau diseduh menjadi teh herbal. Namun, ada peringatan besar yang menyertai potensi manfaatnya.
Tanaman ini dikenal sangat beracun bagi hewan ternak, terutama sapi. Racunnya dapat berakibat fatal jika termakan dalam jumlah tertentu. Literatur Barat mencatatnya sebagai tanaman berbahaya bagi hewan penggembala. Zat racunnya, bagaimanapun, dapat dihilangkan dengan pencucian dan pemasakan yang tepat, sehingga membuatnya aman untuk konsumsi dalam praktik kuliner tradisional tertentu.
Grêndhêl atau Xanthium strumarium adalah simbol dari paradigma alam. Kehadirannya yang subur di atas lumpur Waduk Karangkates yang mengering adalah pertanda resilience, kemampuan hidup di kondisi ekstrem. Ia adalah penjelajah ulung yang bijinya berkelana dengan mengait pada apa pun yang lewat.
Namun, ia juga mengingatkan kita pada kearifan kuno: bahwa di dalam yang tampak liar dan bahkan beracun, seringkali tersimpan khasiat penyembuh yang potensial. Seperti halnya waduk yang surut membuka lanskap baru dan cerita lama, kehadiran si grêndhêl ini membuka jendela tentang hubungan kompleks antara manusia, tumbuhan, dan lingkungan - sebuah hubungan yang penuh dengan ketergantungan, pemanfaatan, dan kehati-hatian. Ia adalah gulma yang mengganggu, sekaligus apotek berjalan yang menyimpan rahasia pengobatan tradisional lintas benua. *** [201025]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar