“I wanted to be a skinny little ballerina but I was a voluptuous little Italian girl whose dad had meatballs on the table every night.” -- Lady Gaga
Empat hari setelah kembali dari hiruk-pikuk forum ilmiah Third Annual Symposium NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change di Hyderabad, India, saya ditanyai buah tangan dari sana oleh sejumlah ibu-ibu kader SMARThealth Kelurahan Kepanjen.
Namun karena situasi yang tidak memungkinkan bawa oleh-oleh banyak, saya pun “ditodong” untuk traktiran yang lainnya. Tepat pada Kamis (18/12), saya dijemput di Sekretariat SMARThealth Kepanjen untuk diajak menuju ke Warung Bakso Tetelan, yang beralamat di Jalan Ahmad Yani No. 45, Desa Ardirejo, Kecamatan Kepanjen.
Lokasinya cukup strategis, yaitu berhadapan dengan SDN Ardirejo 1 yang bersebelah dengan SMAN 1 Kepanjen. Tempatnya bukan warung megah dengan interior Instagramable, tetapi justru itulah daya tariknya. Di tempat-tempat seperti inilah, kejujuran rasa biasanya bersemayam.
![]() |
| Warung Bakso Tetelan Kepanjen, Kabupaten Malang |
Kami berenam - lima kader SMARThealth Kepanjen dan saya - langsung memesan menu andalan, yakni bakso tetelan. Bakso jenis ini bukan sekadar bola daging biasa. Ia diperkaya tetelan, yakni sisa daging yang masih melekat pada tulang, seperti campuran daging, urat, dan lemak, yang dalam banyak masakan Nusantara justru menjadi sumber kenikmatan utama. Tetelan memberi kaldu rasa gurih yang dalam, sedikit “liar”, dan tidak bisa dipalsukan.
Suasana makan siang itu terasa hangat, apalagi ketika diketahui bahwa ibu-ibu kader SMARThealth kerap terlibat dalam penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB), dan suami penjual bakso kebetulan bekerja di bagian tata usaha fakultas yang sama. Relasi sosial, pengetahuan, dan semangkuk bakso bertemu dalam satu meja. Gayung pun bersambut, baik secara harfiah maupun kiasan.
Soal rasa, bakso tetelan Kepanjen ini memang pantas diperbincangkan. Baksonya kenyal, tidak berlebihan tepung, sementara kaldunya terasa “hidup” sebagai sebuah hasil rebusan tetelan yang sabar dan jujur.
Tak heran jika ibu-ibu kader SMARThealth dikenal sebagai pemburu bakso ulung. Di mana ada bakso enak, di situ mereka hadir. Konsekuensinya pun terlihat jelas, yaitu tubuh mulai tambun, pipi kian berisi, dan lingkar pinggang yang perlahan bertambah.
![]() |
| Ibu-ibu Kader SMARThealth Kepanjen sedang menikmati bakso tetelan di depan SDN Ardirejo 1 Kepanjen |
Memang, belum ada penelitian di Scopus yang secara khusus meneliti hubungan langsung antara konsumsi bakso dan obesitas. Namun, berbagai studi tentang konsumsi daging merah dan daging olahan menunjukkan korelasi yang tak bisa diabaikan.
Wang & Beydoun (2009) [
1Wang, Y., & Beydoun, M. A. (2009). Meat consumption is associated with obesity and central obesity among US adults. International journal of obesity (2005), 33(6), 621–628. https://doi.org/10.1038/ijo.2009.45
], misalnya, mencatat bahwa konsumsi daging berkaitan dengan asupan energi harian yang jauh lebih tinggi, bahkan bisa mencapai 700 kkal lebih banyak per hari pada kelompok konsumsi tertinggi. Model regresi mereka menunjukkan hubungan positif antara konsumsi daging dengan indeks massa tubuh (BMI), lingkar pinggang, obesitas, hingga obesitas sentral.Pandangan serupa juga disampaikan dr. Janese Laster, gastroenterolog di Washington, D.C. [
2Laster, J. (2020, January 05). Processed Foods Highly Correlated with Obesity Epidemic in the U.S. School of Medicine and Health Sciences. https://smhs.gwu.edu/news/processed-foods-highly-correlated-obesity-epidemic-us
], yang mengaitkan epidemi obesitas dengan meningkatnya konsumsi makanan ultra-olahan, termasuk daging merah dan daging olahan. Bakso, betapapun membahagiakannya, tetap berada di wilayah abu-abu antara kebutuhan budaya dan risiko kesehatan.Namun, bakso bukan sekadar soal gizi dan kalori. Ia adalah denyut ekonomi rakyat. Di Indonesia, jumlah pedagang bakso diperkirakan mencapai 12 juta orang atau sekitar 20 persen dari total UMKM nasional [
3Al Wakhidah, H. (2024, February 05). Kembali ke Filosofi Bakso. Espos Indonesia. https://kolom.espos.id/kembali-ke-filosofi-bakso-1856432
]. Para penjual bakso ini mungkin bergerak di sektor informal, tetapi kontribusinya nyata dengan menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal, dan menjaga dapur tetap mengepul.![]() |
| Semangkuk bakso tetelan khas Kepanjen |
Barangkali, seperti pengakuan Lady Gaga, seorang penyanyi, penulis lagu, dan aktris berkebangsaan Amerika Serikat yang terkenal itu:
“Aku ingin menjadi balerina kurus kecil, tetapi aku malah menjadi gadis Italia montok yang ayahnya selalu menyajikan bakso di meja setiap malam.”
Kutipan ini terasa relevan. Bakso boleh dinikmati, bahkan dirayakan, tetapi seperti banyak hal dalam hidup, kenikmatan yang berulang tanpa jeda kerap datang bersama konsekuensi.
Bakso Tetelan Kepanjen mengajarkan satu hal, bahwa semangkuk bakso bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal relasi sosial, ekonomi rakyat, dan refleksi diri. Makanlah bakso, nikmati kaldunya, rayakan kebersamaan - asal jangan lupa, timbangan di rumah juga punya pendapat. *** [120126]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar