Selasa, Januari 13, 2026

Semangkuk Timlo dan Es Gempol Pleret di Warung Makan Es Masuk Solo

  Budiarto Eko Kusumo       Selasa, Januari 13, 2026
All happiness depends on a leisurely breakfast.” -- John Gunther
Menjelang pergantian tahun kemarin, saya menyempatkan diri mengambil cuti dan pulang ke Solo. Perjalanan dimulai dari Stasiun Blitar dengan Kereta Api Kertanegara pada Sabtu, 27 Desember 2025. Pilihan itu terpaksa diambil karena tiket keberangkatan dari Kepanjen telah ludes, menyisakan kelas prioritas yang harganya cukup menguras kantong. Namun, semua rasa lelah seolah terbayar begitu kembali menginjakkan kaki di kota yang selalu menghadirkan rindu.
Keesokan paginya, saya mengajak istri untuk menikmati sarapan di sebuah tempat yang telah lama menjadi legenda kuliner Solo, yakni Warung Makan Es Masuk. Terletak di kawasan Gajahan, Pasar Kliwon, tepatnya di Jalan Reksoniten No. 43B, warung ini telah berdiri sejak 1952. 
Dari luar, bangunannya tampak seperti dinding tembok biasa. Tak heran jika dulu banyak orang tak menyangka bahwa di balik tampilan sederhana itu tersimpan sebuah warung makan. Dari keunikan itulah nama “Es Masuk” lahir yang seolah mengajak orang untuk berani masuk dan menemukan kejutan di dalamnya.

Warung Makan Es Masuk di Solo berbentuk joglo

Warung Es Masuk dikenal menyajikan ragam masakan tradisional Jawa yang lengkap. Selat Solo, Timlo, Sosis Solo, hingga aneka minuman es tradisional menjadi menu andalan. Meski jam operasionalnya dimulai sekitar pukul 10.00 WIB, suasana pagi itu terasa istimewa. Ada ketenangan, ada keakraban, dan ada rasa pulang yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Begitu pramusaji menyodorkan daftar menu, pilihan kami pun mantap. Saya memesan dua porsi nasi Timlo Komplit. Untuk minuman, kami memilih jalan berbeda. Istri menjatuhkan pilihan pada Es Leci yang segar, sementara saya tak ragu memesan Es Gempol Pleret, sebuah minuman tradisional yang selalu membawa kenangan masa kecil.
Timlo Solo sendiri merupakan salah satu ikon kuliner kota ini. Sajian berkuah bening dengan isian sosis solo, telur pindang, ati ampela ayam, bihun, wortel, jamur kuping, kapri, kentang goreng, dan siraman kaldu ayam panas itu terasa sederhana, namun kaya rasa. Disantap bersama nasi putih hangat, timlo kerap menjadi menu sarapan atau makan siang favorit warga Solo.
 
Sarapan Nasi Timlo Komplit di Warung Makan Es Masuk Solo bersama istri

Lebih dari sekadar makanan, timlo menyimpan jejak sejarah panjang. Konon, hidangan ini terinspirasi dari kimlo, sup khas Tiongkok yang telah dikenal sejak abad ke-19. Jauh sebelum Indonesia merdeka, masyarakat di Surakarta sudah akrab dengan kimlo, yang kemudian bertransformasi menjadi timlo.
Dalam buku Indrukken van een Totok: Indische typen en schetsen (1897) karya Justus van Maurik, disebutkan bahwa semangkuk kimlo kala itu hanya dihargai beberapa sen. Para pedagang Tionghoa menjajakan makanan ini dengan pikulan, berkeliling di wilayah Surakarta, atau yang beken disebut Kota Solo itu [
1Budaya Kita. (n.d.). Timlo Solo - Warisan Budaya. Pusdatin Kemendikbudristek. Retrieved January 13, 2026, from https://referensi.data.kemendikdasmen.go.id/budayakita/wbtb/objek/AA001262
]. Pembelinya menikmati hidangan sambil berjongkok, berbincang santai dengan sang penjual. Hingga kini, timlo tetap bertahan, membuktikan dirinya sebagai masakan yang melampaui zaman.
Sementara itu, Es Gempol Pleret yang saya pesan hadir sebagai penyeimbang rasa. Minuman tradisional khas Solo ini terbuat dari adonan tepung beras yang dibentuk menjadi bola-bola gempol dan lembaran pleret, lalu disajikan dengan santan dan gula merah cair. Rasanya manis, gurih, dan menyegarkan.
 
Semangkuk Nasi Timlo Komplit dan Es Gempol Pleret

Nama gempol berasal dari kata “jempol”, karena adonannya dibentuk dengan tekanan ibu jari. Adapun pleret diambil dari proses memipihkan adonan, yang dalam bahasa Jawa disebut “dipleret” [
2Javanologi. (2021, December 16). [Javanologi Explore] Kuliner Solo: Es Gempol Pleret. PUI JAVANOLOGI UNS. https://javanologi.uns.ac.id/2021/12/16/javanologi-explore-es-gempol-pleret/
]. Minuman ini banyak dijumpai di pasar dan warung tradisional Solo, serta menjadi favorit wisatawan yang ingin mencicipi rasa nostalgia kota budaya.
Sarapan pagi itu terasa begitu lengkap. Bukan hanya karena kelezatan Nasi Timlo dan segarnya Es Gempol Pleret, tetapi juga karena kebersamaan yang terjalin sederhana. Seperti ujaran (quote) John Gunther (1901-1970), jurnalis Amerika yang terkenal dengan serial “Inside”-nya [
3Goodreads. (n.d.). John Gunther Quotes (Author of Death Be Not Proud). Goodreads. Retrieved January 13, 2026, from https://www.goodreads.com/author/quotes/68809.John_Gunther
]: 
“Segala kebahagiaan bergantung pada sarapan yang santai.” 
Di Warung Makan Es Masuk, bersama istri dan seporsi kuliner legendaris, saya merasakan betul makna kalimat tersebut, bahwa kebahagiaan kadang hadir dalam bentuk yang paling sederhana, yakni sepiring makanan hangat, segelas minuman manis, dan waktu pagi yang berjalan tanpa tergesa. *** [130126]


logoblog

Thanks for reading Semangkuk Timlo dan Es Gempol Pleret di Warung Makan Es Masuk Solo

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog