Jumat, Januari 09, 2026

Menyimpan Sebuah Kota dalam Kaos: Kenang-Kenangan Hyderabad dari ArtPort

  Budiarto Eko Kusumo       Jumat, Januari 09, 2026
A brand is a voice and a product is a souvenir.” -- Lisa Gansky
Suasana Bandara Hyderabad yang ramai perlahan berubah menjadi riuh rendah perjalanan malam. Perut yang sudah terisi gyros dan döner yang gurih memberi sinyal kepuasan, namun mata masih ingin berkeliling. 
Bersama Pak Tatang – sapaan akrab Ismiarta Aknuranda, S.T., M.Sc., Ph.D – langkah kami terhenti di depan sebuah tenant yang memancarkan aura berbeda. Bukan sekadar toko suvenir, ArtPort lebih mirip galeri seni yang hangat.
Sebagai jantung dari dedikasi IRHPL (India Retails & Hospitality Private Limited) untuk melestarikan warisan budaya, ArtPort segera menyedot perhatian. Setiap barang yang dipajang, mulai dari kain, dekorasi, hingga aksesori, seakan bercerita. Mereka adalah hasil tangan-tangan pengrajin lokal berbakat dari penjuru India, dibalut dengan inspirasi tradisi namun dikemas dengan sentuhan kekinian.
 
Outlet ArtPort di Bandara Hyderabad bak galeri seni yang bernuansa etnik

Ini bukan sekadar tempat belanja; ini adalah jendela untuk memahami jiwa India yang dinamis dan kaya. Sejak 2017, ArtPort telah berkembang pesat menjadi sebuah ekosistem merek yang merayakan kerajinan, kuliner, wewangian, hingga mainan, dengan jejaknya tersebar di kota-kota besar India.
Di antara berbagai mahakarya kerajinan itu, saya mencari kaos yang bertuliskan “Hyderabad” yang didesain dengan elegan, menyelipkan motif etnik yang halus tanpa terkesan klise. Materialnya terasa lembut di kulit, menjanjikan kenyamanan tanpa gerah. Tepat sekali untuk oleh-oleh bagi kedua anak wedok di rumah.
Dua kaos lengan pendek itu pun dipilih. Label harga menunjukkan ₹2539. Namun, keberuntungan berpihak; potongan 30% menyapa di kasir. Akhirnya, hanya dengan ₹1777, dua potong kenang-kenangan dari Kota Nizam itu resmi menemani perjalanan pulang.

Tax Invoice dari ArtPort

Proses transaksi yang sederhana itu tiba-tiba terasa lebih dalam. Saya teringat pada ungkapan Lisa Gansky, seorang pengusaha, pembicara internasional, penulis buku terlaris, “The Mesh: Why the Future of Business is Sharing” (2010), dan pendiri serta penggagas utama Mesh Labs. [
1Chartwell Speakers. (n.d.). Lisa Gansky. Expert Keynote and Motivational Speakers | Chartwell Speakers. Retrieved January 09, 2026, from https://www.chartwellspeakers.com/speaker/lisa-gansky/
]: 
“Merek adalah sebuah suara dan produk adalah sebuah kenang-kenangan.” 
ArtPort adalah suara itu - suara yang lantang bercerita tentang keanggunan warisan India, tentang dedikasi pada pengrajin lokal. Dan dua kaos “Hyderabad” ini adalah kenang-kenangannya. 
Mereka bukan sekadar kain bertulisan kota tujuan, melainkan sebuah narasi. Narasi tentang seni yang hidup, tentang budaya yang dirajut dalam setiap jahitan, dan tentang malam di bandara di mana sebuah kota memberikan kesan terakhirnya bukan melalui monumennya, tetapi melalui selembar kain yang bisa dikenakan.
Kaos-kaos itu akhirnya menjadi lebih dari oleh-oleh. Mereka adalah penghubung. Sebuah cara bagi anak-anak di rumah untuk ‘menyentuh’ Hyderabad, untuk mengenang bahwa dari bandara yang sibuk, ayah mereka membawa pulang bukan hanya benda, tetapi sebuah cerita yang tertanam dalam desain etnik yang halus dan nyaman dipakai. Sebuah kenang-kenangan yang berbicara. *** [090126]


logoblog

Thanks for reading Menyimpan Sebuah Kota dalam Kaos: Kenang-Kenangan Hyderabad dari ArtPort

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog