Kamis, Januari 08, 2026

Menunggu Boarding, Menyantap Döner: Jejak Rasa Turki di Bandara Hyderabad

  Budiarto Eko Kusumo       Kamis, Januari 08, 2026
Selesai melewati pemeriksaan imigrasi di Rajiv Gandhi International Airport (RGIA) atau Bandara Hyderabad dengan antrean yang cukup panjang pada Sabtu (13/12/2025), rasa lelah perlahan terbayar ketika akhirnya Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB) tiba di area lobby keberangkatan internasional. 
Gate 25AB masih tertutup, sementara waktu boarding Singapore Airlines (SIA) dengan kode penerbangan SQ 523 menuju Singapura masih cukup lama. Penantian inilah yang kemudian kami manfaatkan untuk mengisi perut dan menjelajahi sudut-sudut bandara.

Outlet Döner & Gyros di Bandara Hyderabad, Telangana, India

Awalnya saya mengikuti langkah Pak Tatang - sapaan akrab Ismiarta Aknuranda, S.T., M.Sc., Ph.D - yang berjalan santai menyusuri deretan tenant makanan. Namun, arah tujuan saya kemudian berubah. Kali ini saya bergabung dengan Dr. Phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A. dan Fildzah Cindra Yunita, S.Kep., MPH, yang memutuskan makan siang di sebuah outlet bernama Döner & Gyros.
Outlet ini cukup mudah dikenali. Dominasi warna oranye yang mencolok membuatnya menonjol di antara tenant lain. Letaknya strategis, berhadapan dengan Pista House dan tepat di samping Hyderabad Duty Free Gar Aero Shop. Döner & Gyros sendiri merupakan jaringan restoran fast food yang lahir pada tahun 2014 dan telah memiliki gerai di Uni Emirat Arab serta Bandara Hyderabad, India.
Di sini, saya memesan DG Chicken Döner seharga ₹ 390 dan Serenity Water 1 Liter seharga ₹ 119,05. Total yang harus saya bayarkan adalah ₹ 535. Menu utama yang saya pilih ini terdiri dari daging ayam yang dipanggang dengan bumbu khas, disajikan dalam roti pita gandum utuh, dilengkapi salad sayuran dengan taburan sumac serta saus tahini racikan khas Döner & Gyros. Sajian ini terasa pas sebagai makan malam ringan namun mengenyangkan di tengah perjalanan panjang lintas negara.

Makan malam di Döner & Gyros. Bandara Hyderabad, India

Secara tradisional, döner dikenal sebagai produk olahan daging seperti kebab atau sandwich yang umumnya menggunakan daging sapi atau domba. Namun, pada santap malam kali ini, versi mini döner dibuat dari daging ayam, yang terasa lebih ringan dan cocok bagi banyak selera. Kata “döner” sendiri berasal dari bahasa Turki, yakni kata kerja dönmek yang berarti “membalik”. Nama ini merujuk pada teknik memasak daging yang diputar atau dibalik saat dipanggang dengan api besar [
1Kilic, B. (2009). Current trends in traditional Turkish meat products and cuisine. LWT - Food Science and Technology, 42(10), 1581–1589. https://doi.org/10.1016/j.lwt.2009.05.016
].
Döner juga dikenal dengan berbagai nama di belahan dunia lain, seperti gyro, donair, dona kebab, souvlaki, chawarma, atau shawirma. Meski penyebutannya beragam, akar kulinernya tetap merujuk pada tradisi daging panggang khas Timur Tengah, khususnya Turki [
2Vazgecer, B., Ulu, H., & Oztan, A. (2004). Microbiological and chemical qualities of chicken döner kebab retailed on the Turkish restaurants. Food Control, 15(4), 261–264. https://doi.org/10.1016/s0956-7135(03)00065-3
]. 
Mengutip laman Döner Point [
3Döner Point. (n.d.). The History of Döner. Döner Point. Retrieved January 08, 2026, from https://www.donerpoint.com/en/the-history-of-doner/
], dapat dipastikan bahwa döner adalah ciptaan orang Turki. Meski sulit menentukan secara pasti siapa dan kapan döner pertama kali dibuat, sejarahnya dapat ditelusuri hingga masa Kesultanan Seljuk.

Pesanan DG Chicken Döner dan Serenity Water disajikan dalam baki plastik bewarna hitam bersama tisu dan saus tomatnya

Salah satu catatan penting datang dari Evliya Çelebi, pengelana Ottoman abad ke-17. Dalam perjalanannya ke Krimea pada 1660-an, ia memuji cita rasa kebab yang mirip dengan cağ kebab, berupa daging yang ditumpuk dan dimasak secara horizontal di atas api. 
Namun, rujukan utama terkait teknologi döner modern mengarah pada Takiyüddin Efendi (1521–1585), astronom dan insinyur ternama Kekaisaran Ottoman sekaligus pendiri Observatorium Istanbul. Ia menciptakan mesin döner berputar vertikal bertenaga uap. Model alat pemutar döner yang terinspirasi dari desain Takiyüddin Efendi kini dipamerkan di Museum Sejarah Sains dan Teknologi Islam.
Setelah ditemukannya kamera, foto döner pertama diambil oleh James Robertson di Istanbul pada tahun 1855. Sosok dalam foto tersebut diyakini sebagai Hamdi Usta, seorang penjual döner asal Kastamonu, yang sering disebut sebagai penjual döner pertama yang terdokumentasi secara visual.

Take Away Invoice dari Döner & Gyros

Menyeruput Serenity Water sambil menyantap Chicken Döner yang hangat di Bandara Hyderabad, terasa seperti sebuah perayaan kecil atas pertemuan budaya. Di tengah lalu-lalang penumpang dari berbagai bangsa, sepotong döner ayam itu adalah pengingat manis bahwa dalam dunia yang terhubung, rasa memiliki bahasanya sendiri - universal dan menyenangkan. 
Perjalanan Tim NIHR UB yang panjang sejenak terasa ringan, diisi oleh percakapan ringan dan gigitan lezat yang menghangatkan. Sambil menunggu boarding time pukul 22.40 IST, pengalaman singkat ini membuktikan bahwa bandara bukan sekadar tempat transit, tetapi juga ruang di mana batas-batas geografis sedikit kabur, setidaknya di ujung lidah, dan Hyderabad, melalui Döner & Gyros-nya, telah menyajikan sebuah pengantar perjalanan yang cukup menggugah untuk dilanjutkan ke tujuan berikutnya, yaitu transit di Singapura. *** [080126]


logoblog

Thanks for reading Menunggu Boarding, Menyantap Döner: Jejak Rasa Turki di Bandara Hyderabad

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog