Minggu, Februari 08, 2026

Bakso dan Es Gunung: Cita Rasa Kebersamaan di Tengah Kota Kepanjen

  Budiarto Eko Kusumo       Minggu, Februari 08, 2026
I think that lunch is one of the most enjoyable and important things in the day. But you need to create the space and the time to do just that.” – Lidia Bastianich
Siang itu, Kepanjen terasa sedikit lebih hangat dari biasanya. Bukan semata karena mentari di hari Ahad (08/02) yang tepat di atas kepala, melainkan karena rasa lega dan syukur setelah satu rangkaian aktivitas akhirnya tuntas. 
Usai kegiatan Pengabdian Masyarakat bertajuk The Impact of Air Pollution Due to Open Waste Burning on Cardiovascular Health in Rural Indonesia di Pendopo Balai Desa Sumberejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, rombongan tim kolaborasi NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) dan British Heart Foundation (BHF) diajak sejenak menepi dari dunia riset dan data. Tujuannya sederhana, namun penuh makna, yakni makan bakso bersama.
Ajakan itu datang dari dr. Holipah, Ph.D., Ketua Rombongan Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas). Destinasinya pun bukan tempat asing bagi warga Malang Selatan, yaitu Depot Es Gunung Kepanjen. Beralamat di Jalan Ahmad Yani No. 35, Kelurahan Kepanjen, tepat di depan Pasar Kepanjen, depot ini menyatu dengan deretan toko yang selalu hidup sejak pagi hingga petang.
Sebelas orang dari tim, duduk memanjang di satu meja panjang di bagian tengah lantai satu, sebuah posisi strategis, di antara area pengambilan bakso dan kasir. Suasana langsung terasa cair. Tawa ringan, obrolan santai, dan aroma kuah bakso yang mengepul perlahan mengisi ruang.

Kebersamaan makan bakso di Depot Es Gunung Kepanjen (Foto: diambil dari sisi barat dekat meja kasir)

Bagi warga Kepanjen dan sekitarnya, nama Depot Es Gunung bukan sekadar tempat makan. Berdiri sejak 1995, depot ini telah menjelma ikon kuliner Kabupaten Malang. Bahkan, almarhum Peni Suparto - mantan Wali Kota Malang - menyebut Es Gunung sebagai salah satu jujugan wajib bagi para pecinta kuliner dalam pengantar buku 25 Kuliner Khas Malang. Reputasi itu terasa wajar, mengingat konsistensi rasa yang dipertahankan puluhan tahun.
Menu andalannya tentu saja bakso. Dibuat dari daging sapi pilihan, bakso di sini dikenal bertekstur kenyal dengan cita rasa gurih yang bersih. Variasinya pun beragam: bakso urat, bakso goreng, hingga bakso bakar. Semua seolah punya penggemarnya sendiri.
Siang itu, pilihan saya jatuh pada satu pentol tetelan pedas berukuran besar. Disajikan bersama kecambah segar dan daun selada, lalu disiram kuah bakso panas yang aromanya menggoda. Gigitan pertama langsung memberi kesan: gurih, mantap, dan menghangatkan. Kaldu terasa ringan namun kaya rasa. Jenis kuah yang tidak sekadar menemani bakso, tapi justru menjadi jiwa dari semangkuk hidangan.
Sebagai pasangan setia bakso, saya memesan Es Gunung, minuman khas yang telah menjadi legenda di tempat ini. Segarnya es berpadu manisnya sirup terasa pas, menjadi penyeimbang sempurna setelah menyantap bakso pedas.

Kebersamaan dalam makan bakso di Depot Es Gunung Kepanjen (Foto: diambil dari sisi timur, dekat pengambilan bakso)

Namun, makan siang itu bukan hanya soal rasa. Lebih dari sekadar mengisi perut atau petualangan kuliner, momen tersebut adalah perayaan kecil atas kebersamaan. Duduk satu meja setelah bekerja bersama di lapangan menghadirkan rasa dekat yang tak selalu lahir dari ruang rapat atau presentasi formal.
Konon, makan bersama rekan kerja bukan hanya waktu istirahat semata. Ia adalah sarana membangun keakraban, meredam stres, bahkan meningkatkan produktivitas. Seorang peneliti pernah mencatat, “Tim yang makan bersama, akan tetap solid,” dan riset menunjukkan perilaku kooperatif bisa meningkat hingga dua kali lipat pada tim yang rutin berbagi meja makan.
Pemikiran itu sejalan dengan ungkapan Lidia Giuliana Matticchio Bastianich, koki sekaligus penulis kuliner ternama:
“Menurut saya, makan siang adalah salah satu hal yang paling menyenangkan dan penting dalam sehari. Tetapi Anda perlu menciptakan ruang dan waktu untuk melakukan hal itu.”
Di Depot Es Gunung Kepanjen, ruang dan waktu itu tercipta secara alami. Di antara semangkuk bakso, segelas es, dan percakapan yang mengalir, siang itu meninggalkan kesan sederhana namun membekas, bahwa kerja Pengmas akan selalu lebih bermakna ketika dirayakan bersama. *** [080226]


logoblog

Thanks for reading Bakso dan Es Gunung: Cita Rasa Kebersamaan di Tengah Kota Kepanjen

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog