Senin, Februari 09, 2026

Chrysopogon zizanioides, Tanaman Akar Wangi yang Sepintas Mirip Serai dan Akarnya Berbau Harum

  Budiarto Eko Kusumo       Senin, Februari 09, 2026
Jika suatu hari Anda singgah makan di Warung Nayamul, yang berada di sisi timur Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, sempatkanlah menengok halaman depannya. Di sepanjang pagar barat, berjajar rapi tanaman berdaun panjang yang sekilas mudah disangka serai. Daunnya ramping, hijau, tumbuh tegak berumpun dari utara ke selatan. Namun, jangan keliru. Menurut juru parkir warung itu, tanaman tersebut bukanlah serai, melainkan akar wangi.
Akar wangi memang kerap mengecoh mata. Ia tumbuh berumpun, dengan beberapa anak rumpun yang saling berdekatan. Dari bawah tanah, keluar akar-akar halus berwarna kuning pucat hingga keabu-abuan, kadang bersemu kemerahan. Akar inilah sumber keistimewaannya. Ketika diendus, tercium aroma khas yang hangat dan menenangkan.
Dari kumpulan akar itu menjulur tangkai daun yang memanjang, agak kaku, berbentuk pita, berwarna hijau, dan berbeda dengan serai dalam ukurannya. Pada waktu tertentu, di pucuk tangkainya muncul bunga kecil berwarna hijau atau ungu.

Deretan tanman akar wangi (Chrysopogon zizanioides) di halaman depan Warung Nayamul, Dusun Nggadiluwih, Desa Kedungpedaringan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang

Di berbagai daerah di Indonesia, tanaman ini dikenal dengan banyak nama. Orang Gayo menyebutnya useur, masyarakat Batak mengenalnya sebagai usar atau hapias, orang Minangkabau menyebutnya urek usa, sementara di tanah Sunda dikenal sebagai usar atau narwastu. Di Jawa Tengah, ia disebut larasetu atau larawastu
Nama ilmiahnya adalah Chrysopogon zizanioides (L.) Roberty, sebuah nama yang menyimpan jejak panjang sejarah botani. Kata Chrysopogon berasal dari bahasa Yunani, gabungan chrysós yang berarti emas dan pogon yang berarti janggut, merujuk pada bulu halus keemasan di bagian pangkal bunganya [
1Ecosostenibile. (2023, March 15). Chrysopogon zizanioides. An Eco-Sustainable World. https://antropocene.it/en/2023/03/15/chrysopogon-zizanioides-2/
]. Sementara itu, sebutan zizanioides menunjukkan kemiripan bentuk dan kebiasaan tumbuhnya dengan genus Zizania, sejenis rumput air [
2Grokipedia. (n.d.). Chrysopogon zizanioides. Grokipedia. Retrieved February 09, 2026, from https://grokipedia.com/page/Chrysopogon_zizanioides
]. 
Tanaman ini pertama kali dideskripsikan oleh botanis Swedia Carolus Linnaeus (1707-1778) pada tahun 1771 dengan nama Phalaris zizanioides [
3Linné, Carl von. (1771). Car. a Linné Mantissa Plantarum Altera Generum editionis VI. et specierum editionis II. Holmiae: Impensis Direct. Laurentii Salvii. https://www.biodiversitylibrary.org/page/42945322
]. Dalam perjalanannya, ia sempat berpindah “nama” menjadi Andropogon zizanioides dan Vetiveria zizanioides, hingga akhirnya pada 1960 ahli botani Prancis, Guy Edouard Roberty (1907-1971), menempatkannya secara mantap dalam genus Chrysopogon [
4San Marcos Growers. (n.d.). Chrysopogon zizanioides “Sunshine” - Vetiver. San Marcos Growers. Retrieved February 08, 2026, from https://www.smgrowers.com/products/plants/plantdisplay.asp?plant_id=3690
]. Penelitian filogenetik modern kemudian menguatkan keputusan tersebut.

Daun tanaman akar wangi (Chrysopogon zizanioides)

Di tingkat global, akar wangi dikenal dengan beragam sebutan: vetivergrass atau khuskhusgrass dalam bahasa Inggris, vétiver dalam bahasa Prancis, ushira dalam bahasa Sansekerta, dan akar wangi di Indonesia. Tanaman anggota famili Poaceae ini memiliki sebaran alami yang luas, dari India bagian timur hingga Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Lebih dari sekadar tanaman pekarangan, akar wangi menyimpan banyak manfaat. Dalam kajian etnobotani, ia dikenal sebagai tanaman multifungsi. Sistem perakarannya yang rapat dan dalam membuatnya efektif mencegah erosi tanah dan membantu penyaringan air di wilayah tropis. Bahkan, akar wangi memiliki kemampuan fitoremediasi, yakni menyerap polutan berbahaya seperti timbal, arsenik, seng, tembaga, hingga hidrokarbon minyak bumi dari lingkungan.
Aroma khas akarnya menjadikannya komoditas penting dalam industri parfum dunia. Tak kurang dari 90 persen parfum Barat memanfaatkan minyak atsiri akar wangi sebagai bahan dasar penetap aroma. Di tingkat tradisional, akarnya dianyam menjadi tikar, keranjang, atau tirai. Ketika dibasahi, anyaman itu menguarkan wangi yang lembut dan menyejukkan [
5NParks. (n.d.). Chrysopogon zizanioides. NParks. Retrieved February 09, 2026, from https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/3/6/3668
].

Pelepah batang tanaman akar wangi (Chrysopogon zizanioides)

Dalam dunia pengobatan tradisional, jejak akar wangi telah tercatat selama berabad-abad. Sistem pengobatan India seperti Ayurveda, Unani, dan Siddha memanfaatkannya untuk meredakan demam, gangguan pencernaan, peradangan, hingga masalah kulit. Naskah-naskah medis kuno dan literatur Tamil juga menyebut penggunaannya untuk rematik, infeksi saluran kemih, dan penyembuhan luka.
Penelitian modern yang dilakukan oleh Gunasekar et. al. (2025) [
6Gunasekar, C. J., Majdalawieh, A. F., Abu-Yousef, I. A., & Al Refaai, S. A. (2025). Pharmacological and Therapeutic Potential of Chrysopogon zizanioides (Vetiver): A Comprehensive Review of Its Medicinal Applications and Future Prospects. Biomolecules, 15(9), 1312. https://doi.org/10.3390/biom15091312
] kemudian datang memberi pembenaran ilmiah. Studi farmakologi terkini menunjukkan bahwa ekstrak akar dan minyak atsiri Chrysopogon zizanioides memiliki aktivitas biologis yang luas, seperti antimikroba, antioksidan, antiinflamasi, analgesik, bahkan antikanker. 
Kompleksitas minyak atsirinya mencengangkan. Lebih dari 300 senyawa telah diidentifikasi, dengan seskuiterpena, flavonoid, dan senyawa fenolik sebagai komponen utama yang paling aktif. Beberapa di antaranya terbukti efektif melawan bakteri dan jamur, meredakan peradangan, serta berpotensi membantu pengelolaan penyakit metabolik seperti diabetes dan hipertensi.
Kemiripan akar wangi dengan serai mungkin membuatnya kerap terabaikan, namun riset demi riset justru menempatkannya sebagai spesies bernilai tinggi. Perpaduan antara manfaat ekologis, potensi farmakologis, dan nilai ekonominya menjadikan Chrysopogon zizanioides bukan sekadar rumput liar, melainkan sumber daya hayati strategis yang patut dijaga dan dikembangkan. *** [090226]


logoblog

Thanks for reading Chrysopogon zizanioides, Tanaman Akar Wangi yang Sepintas Mirip Serai dan Akarnya Berbau Harum

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog