Minggu, Februari 22, 2026

Jamur Oranye Kemerahan dan Percakapan Sunyi dengan Kayu Lapuk

  Budiarto Eko Kusumo       Minggu, Februari 22, 2026
Ahad (14/02) pagi, saya menghadiri kegiatan Pengabdian Masyarakat (Pengmas) bertajuk The Impact of Air Pollution Due to Open Waste Burning on Cardiovascular Health di Gedung Posyandu Kartini IV, Dusun Maron RT 14 RW 08, Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. 
Di sela-sela kegiatan itu, sesekali saya berjalan menyusuri jalan desa yang ada di sekitar lokasi pelaksanaan Pengmas tersebut. Menghirup udara segar alam perbukitan dengan pemandangan yang menghijau nan asri.
Sekitar sepuluh meter ke arah timur laut dari Gedung Posyandu, pandangan saya tertuju pada sebuah balok kayu yang membentang di atas parit kecil. Kayu itu tampak tua dan lapuk, menjadi jembatan sederhana bagi siapa pun yang ingin memotong rumput gajah (Cenchrus purpureus). Namun yang membuatnya istimewa bukanlah fungsinya, melainkan warna menyala yang menempel di permukaannya.

Jamur Fabisporus sanguineus yang tumbuh di balok kayu lapuk di dusun Maron, Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang

Di atas kayu keras yang mulai rapuh itu, tumbuh jamur berwarna merah terang hingga oranye kemerahan. Semburatnya mengingatkan pada darah segar. Pada bagian tepinya, warna tersebut perlahan memudar menjadi oranye pucat. 
Tubuh jamur berbentuk menyerupai kipas kecil, kaku, melekat erat pada kayu mati yang menjadi sumber nutrisinya. Permukaannya halus, kadang tampak sedikit berserat. Ia tumbuh sebagai saprofit, pengurai setia yang mengembalikan kayu mati ke siklus kehidupan.
Jamur itu adalah Fabisporus sanguineus, spesies yang termasuk dalam famili Polyporaceae, kelompok jamur berpori yang lazim ditemukan menempel pada batang kayu. Nama genus Fabisporus berasal dari kata Latin faba (kacang) dan bahasa Yunani spora (biji atau spora), istilah yang dalam mikologi merujuk pada bentuk sporanya yang menyerupai kacang [
1Chuang, S.C.; Ho, H.M.; Benny, G.L.; Lee, C.-F. (2013). Two new Ramicandelaber species from Taiwan. Mycologia. 105(2):320-334 DOI 10.3852/11-219. https://www.mycobank.org/details/26/59281
]. Sementara epitet spesifik sanguineus berakar dari kata Latin sanguis, yang berarti darah [
2Merriam-Webster. (n.d.). Sanguineous. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved February 21, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/sanguineous
], sebuah penanda warna yang begitu kentara pada tubuh jamur.

Dua jamur Fabisporus sanguineus muncul di balok kayu

Jejak sejarah ilmiahnya cukup panjang. Spesies ini pertama kali dideskripsikan pada tahun 1763 oleh botanis Swedia Carolus Linnaeus (1707-1778) dengan nama Boletus sanguineus dalam karya monumentalnya, Species Plantarum [
3Linné, Carl von, & Salvius, Lars. (1762). Caroli Linnaei ... Species plantarum: exhibentes plantas rite cognitas, ad genera relatas, cum differentiis specificis, nominibus trivialibus, synonymis selectis, locis natalibus, secundum systema sexuale digestas (Tomus II). Holmiae: Impensis Direct. Laurentii Salvii. https://www.biodiversitylibrary.org/page/11834171
]. 
Dalam perjalanannya, nama tersebut mengalami beberapa perubahan. Pernah dikenal sebagai Pycnoporus sanguineus dan Trametes sanguineus, hingga akhirnya pada tahun 2001 direvisi oleh mikolog Rusia Ivan V. Zmitrovich dan ditempatkan dalam genus Fabisporus, menjadi Fabisporus sanguineus seperti yang kita kenal sekarang [
4Zmitrovich, I. V. (2001). Some new combinations in Polyporaceae: sapienti sat. Mycena, 1(1), 91–93. http://www.mycena.org/Vol.1,No.1/Mycena1(1)_91-93.pdf
].
Di berbagai belahan dunia, jamur ini memiliki sejumlah nama umum: tropical cinnabar bracket, orange polypore, atau blood red bracket dalam bahasa Inggris; bahkan dalam bahasa Wales dikenal sebagai ysgwydd waetgoch. Ia tersebar luas di wilayah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia, tumbuh setia pada kayu keras yang telah mati.

Balok kayu keras yang melintang di atas parit kecil, mulai lapuk ditumbuhi jamur Fabisporus sanguineus

Meski tidak tergolong jamur konsumsi, Fabisporus sanguineus menyimpan potensi yang menarik perhatian dunia ilmiah. Dalam literatur, ia dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri serta kemampuan mengikat logam berat tertentu. Jamur ini juga dimanfaatkan dalam industri untuk menguji produk pelindung kayu dan dalam proses bioremediasi tanah yang tercemar minyak [
5BOTANY.cz. (n.d.). FABISPORUS SANGUINEUS (L.) Zmitr. – blood clot. BOTANY.Cz. Retrieved February 22, 2026, from https://botany.cz/cs/fabisporus-sanguineus/
].
Penelitian mutakhir, seperti yang dilaporkan Huang dan kolega (2023) [
6Huang, X., Shi, L., Lin, Y., Zhang, C., Liu, P., Zhang, R., Chen, Q., Ouyang, X., Gao, Y., Wang, Y., & Sun, T. (2023). Pycnoporus sanguineus Polysaccharides as Reducing Agents: Self-Assembled Composite Nanoparticles for Integrative Diabetic Wound Therapy. International journal of nanomedicine, 18, 6021–6035. https://doi.org/10.2147/IJN.S427055
], menunjukkan bahwa tubuh buah jamur ini mengandung senyawa bioaktif berupa polisakarida dan enzim. Ekstraknya diketahui berpotensi meredakan peradangan pada kolitis ulseratif, kemungkinan melalui mekanisme penghambatan apoptosis sel T helper (Th) dan pemulihan fungsi penghalang epitel usus. Lebih jauh lagi, polisakarida yang diekstrak darinya menunjukkan aktivitas antioksidan yang sangat baik, yang mampu menangkal radikal bebas dan menekan stres oksidatif pada tingkat seluler.
Di balik tampilannya yang mencolok di atas kayu lapuk, Fabisporus sanguineus menghadirkan paradoks yang indah: lahir dari pembusukan, namun menyimpan harapan bagi pemulihan. Di parit kecil Dusun Maron itu, saya belajar bahwa bahkan pada sisa-sisa kayu yang terlupakan, alam menumbuhkan warna, pengetahuan, dan kemungkinan. *** [220226]


logoblog

Thanks for reading Jamur Oranye Kemerahan dan Percakapan Sunyi dengan Kayu Lapuk

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog