Rabu, Februari 18, 2026

Rumput Gajah di Tepian Dusun: Dari Pagar Pekarangan hingga Energi Masa Depan

  Budiarto Eko Kusumo       Rabu, Februari 18, 2026
Di depan Gedung Posyandu Kartini IV, lokasi penyelenggaraan Pengabdian Masyarakat bertajuk The Impact of Air Pollution Due to Open Waste Burning on Cardiovascular Health in Rural Indonesia di Dusun Maron RT 14 RW 08, Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang pada Sabtu (14/02), hamparan rumput gajah tumbuh lebat memagari pekarangan. Di tengah wacana tentang polusi udara dan kesehatan jantung, tegakan hijau kebiruan itu berdiri tegap, seolah menjadi pengingat bahwa alam selalu menyediakan daya pulihnya sendiri.
Rumput gajah, bernama ilmiah Cenchrus purpureus, kerap ditanam sebagai pagar hidup. Ia berakar rimpang yang tumbuh bergerombol, batangnya tegak dengan ruas-ruas tebal, menyerupai tebu. Daunnya panjang dan linier, berwarna hijau kebiruan dengan tulang daun menonjol; pangkalnya diselimuti bulu halus. Pada ujung batang, perbungaan kaku berbentuk bulir memantulkan warna keemasan hingga keunguan saat tersentuh cahaya.

Rumput gajah (Cenchrus purpureus) tumbuh subur di Dusun Maron RT 14 RW 08 Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang

Nama genus Cenchrus berakar dari bahasa Yunani kenchros, berarti millet atau jemawut [
1Kumar, G., & Sunita, A. (2018). Comparative morphological screening of some species of Cenchrus L. (Poaceae) from Thar Desert of Rajasthan, India. Annals of Plant Sciences, 7(4), 2175. https://doi.org/10.21746/aps.2018.7.4.2
], merujuk pada bentuk bulirnya. Sementara epitet purpureus berasal dari bahasa Latin yang berarti ungu [
2American Dictionary of the English Language. (n.d.). Websters 1828 - Webster’s Dictionary 1828 - Purple. Websters Dictionary 1828. Retrieved February 18, 2026, from https://webstersdictionary1828.com/Dictionary/purple
], menggambarkan rona malai yang khas. 
Spesies ini pertama kali dideskripsikan pada 1827 oleh botanis Denmark Heinrich Christian Friedrich Schumacher (1757-1830) dengan nama Pennisetum purpureum [
3Schumacher, Christian Friedrich. (1827). Beskrivelse af Guineiske planter: som ere fundne af Danske botanikere, især af etatsraad Thonning. Kjöbenhavn: Frid. Popps. https://www.biodiversitylibrary.org/page/35195187
]. Lebih dari satu setengah abad kemudian, pada 2010, botanis Argentina Osvaldo Morrone (1957-2011) merevisinya dan menempatkannya dalam genus Cenchrus [
4Chemisquy, M. A., Giussani, L. M., Scataglini, M. A., Kellogg, E. A., & Morrone, O. (2010). Phylogenetic studies favour the unification of Pennisetum, Cenchrus and Odontelytrum (Poaceae): a combined nuclear, plastid and morphological analysis, and nomenclatural combinations in Cenchrus. Annals of Botany, 106(1), 107–130. https://doi.org/10.1093/aob/mcq090
], menegaskan identitasnya yang kini kita kenal.
Berasal dari Afrika tropis sub-Sahara [
5Weeds of Australia . (n.d.). Cenchrus purpureus. Lucidcentral. Retrieved February 18, 2026, from https://keyserver.lucidcentral.org/weeds/data/media/Html/cenchrus_purpureus.htm
], rumput gajah menjelajah lintas benua dan budaya. Ia dikenal dengan banyak nama: juncao grass (Inggris), Elefantengras (Jerman), herbe à éléphant (Prancis), hierba elefante (Spanyol), hingga Napier grass di Amerika dan Australia. Di Indonesia, sebutan “rumput gajah” merujuk pada posturnya yang tinggi dan kukuh, simbol ketahanan sekaligus kelimpahan pakan.

Daun rumput gajah (Cenchrus purpureus)

Dalam dunia peternakan tropis dan subtropis Asia, Afrika, hingga Amerika, rumput ini adalah tulang punggung hijauan pakan [
6Yan, Q., Wu, F., Xu, P., Sun, Z., Li, J., Gao, L., Lu, L., Chen, D., Muktar, M., Jones, C., Yi, X., & Zhang, J. (2021). The elephant grass (Cenchrus purpureus) genome provides insights into anthocyanidin accumulation and fast growth. Molecular ecology resources, 21(2), 526–542. https://doi.org/10.1111/1755-0998.13271
]. Dibanding banyak rumput lain, rasio daun terhadap batangnya lebih tinggi, nilai gizinya lebih baik, serta tahan terhadap pemotongan berulang. 
Produktivitasnya dapat mencapai 15–22 ton bahan kering per hektar. Di tengah peralihan sistem peternakan sapi perah skala kecil dari penggembalaan ekstensif menuju penggembalaan nol, rumput Napier bahkan dapat menyumbang hingga 80% kebutuhan pakan. Surplus panen kerap dijual, menjadikannya sumber pendapatan yang berarti bagi petani desa [
7Wafula, M. R., Muyekho, F. N., Muleke, E. M., Wamocho, L. S., Munyasi, J. W., & Hoka, A. I. (2025). Exploiting Polyploidy in Napier Grass (Cenchrus purpureus Schumach) for Increased Forage Yield. Grasses, 4(4), 39. https://doi.org/10.3390/grasses4040039
].
Namun kisahnya tak berhenti sebagai pakan. Sebagai tanaman lignoselulosa, rumput gajah menyimpan potensi bioenergi yang menjanjikan. Produksi alkoholnya dilaporkan tiga kali lipat lebih tinggi dibanding switchgrass, dengan nilai kalori yang juga melampaui beberapa sumber biomassa lain, mendekati bahkan melampaui batubara dalam perbandingan tertentu. Seratnya membuka peluang bagi industri kertas dan energi terbarukan, sebuah prospek penting di tengah krisis iklim dan kebutuhan transisi energi.

Batang rumput gajah (Cenchrus purpureus)

Di bawah tanah, sistem perakarannya yang kuat membantu memperbaiki struktur tanah dan menahan erosi. Anakan yang tumbuh rapat membentuk sabuk hijau penahan limpasan, meningkatkan kesuburan sekaligus menjaga kelembapan. Ia bukan sekadar tanaman pagar, melainkan penyangga ekologi di lanskap pedesaan.
Lebih jauh lagi, khazanah etnobotani mencatat beragam khasiatnya. Sejumlah studi menunjukkan aktivitas antivirus dari ekstraknya, yang mampu menghambat infeksi beberapa virus hewan, membuka kemungkinan sebagai disinfektan alami. Infus daun dan batang secara tradisional digunakan sebagai diuretik untuk membantu mengatasi anuria dan oliguria. 
Dalam praktik pengobatan tradisional Afrika, bijinya dimanfaatkan untuk penyembuhan umum dan gangguan mata maupun telinga, sementara getahnya dioleskan pada luka. Sifat antioksidannya melindungi biomolekul dari kerusakan oksidatif dan memodulasi enzim antioksidan [
8NMPPDB. (n.d.). Pennisetum purpureum. NMPPDB. Retrieved February 18, 2026, from https://nmppdb.com.ng/species-details?specy=%20pennisetum-purpureum
].
 
Rumput gajah (Cenchrus purpureus) yang habis dipotong batangnya

Laporan Ojo dkk. (2022) [
9Ojo, O. A., Oni, A. I., Grant, S., Amanze, J., Ojo, A. B., Taiwo, O. A., Maimako, R. F., Evbuomwan, I. O., Iyobhebhe, M., Nwonuma, C. O., Osemwegie, O., Agboola, A. O., Akintayo, C., Asogwa, N. T., Aljarba, N. H., Alkahtani, S., Mostafa-Hedeab, G., Batiha, G. E., & Adeyemi, O. S. (2022). Antidiabetic Activity of Elephant Grass (Cenchrus Purpureus (Schumach.) Morrone) via Activation of PI3K/AkT Signaling Pathway, Oxidative Stress Inhibition, and Apoptosis in Wistar Rats. Frontiers in pharmacology, 13, 845196. https://doi.org/10.3389/fphar.2022.845196
] menegaskan potensi diuretik dari infus pucuk dan batangnya. Komposisi fitokimianya pun kaya, seperti terpenoid, alkaloid, kalsium, hingga riboflavin, bahkan dalam proporsi yang melampaui sejumlah sayuran populer. Secara tradisional, ia juga dimanfaatkan sebagai penunjang terapi diabetes mellitus berkat aktivitas antioksidan dan hipoglikemiknya.
Di Dusun Maron, ketika isu pembakaran sampah terbuka dan dampaknya terhadap kesehatan kardiovaskular menjadi perhatian, rumput gajah berdiri sebagai metafora: tentang daya tahan, keberlanjutan, dan hubungan timbal balik manusia dengan alam. 
Di balik batangnya yang kukuh dan daun yang melambai, tersimpan kisah panjang ilmu pengetahuan, ekonomi desa, energi masa depan, hingga pengobatan tradisional. Sebilah rumput yang tampak sederhana, tetapi memanggul peran besar dalam lanskap kehidupan tropis. *** [180226]


logoblog

Thanks for reading Rumput Gajah di Tepian Dusun: Dari Pagar Pekarangan hingga Energi Masa Depan

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog