Kamis, Februari 12, 2026

Kaempferia galanga, Tanaman Kencur yang Aromatik

  Budiarto Eko Kusumo       Kamis, Februari 12, 2026
Deretan daun hijau itu menyapa kami begitu memasuki Dusun Bandarangin, RT 13 RW 03, Desa Sumberejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang. Di depan pagar rumah Bapak Sirin dan Ibu Saimah - sejoli lansia - tanaman kencur tumbuh rapi di pinggir jalan, seolah menjadi pagar hidup yang sederhana namun penuh makna. 
Saat mengikuti rombongan Tim Pengabdian Masyarakat NIHR UB pada Ahad (08/02), saya tak menyangka akan menemukan kisah panjang dunia botani bermula dari hamparan tanaman yang tampak bersahaja itu.
Kencur menampakkan ciri khasnya yang mudah dikenali. Rimpangnya berwarna cokelat keputihan, tersembunyi di balik tanah yang gembur. Dari pangkalnya muncul dua hingga empat helai daun tunggal, berbentuk lonjong hingga membulat, dengan semburat kemerahan di tepinya. Ia tidak menjulang tinggi, tetapi aromanya kuat dan khas, harum yang mengingatkan pada dapur tradisional dan ramuan nenek moyang.
Di Nusantara, tanaman ini menjelma dalam beragam nama. Orang Aceh menyebutnya ceuko, ceuku, atau tekur; masyarakat Lampung mengenalnya sebagai cokur; di tanah Sunda ia dipanggil cukur; orang Jawa menyebutnya kencur; di Bali cekuh; di Minahasa watan atau batako; di Ambon asauli; di Ternate bataka; dan di Papua dikenal sebagai ukap. Banyaknya nama lokal itu menjadi penanda betapa akrabnya tanaman ini dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Tanaman kencur (Kaempferia galanga) di Dusun Bandarangin RT 13 RW 03 Desa Sumberejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang

Dalam dunia ilmiah, kencur dikenal sebagai Kaempferia galanga L. Nama genus Kaempferia diberikan oleh Carolus Linnaeus (1707–1778), seorang botanis, zoolog, sekaligus dokter asal Swedia. Penamaan itu merupakan penghormatan kepada Engelbert Kaempfer (1651–1716), naturalis dan dokter Jerman yang melakukan penjelajahan ilmiah ke Rusia, Persia, India, Asia Tenggara, hingga Jepang pada akhir abad ke-17 [
1Graham York Rare Books. (n.d.). Engelbert Kaempfer. Graham York Rare Books. Retrieved February 11, 2026, from https://www.gyork.co.uk/kaempfer.htm
]. 
Kaempfer mencatat hasil pengamatannya dalam karya penting, termasuk Amoenitatum Exoticarum (1712) yang memuat deskripsi awal flora Jepang, serta The History of Japan (1727) yang lama menjadi rujukan utama Barat tentang negeri tersebut. 
Adapun epitet spesifik galanga berakar dari kata Inggris “galingate”, merujuk pada sifat aromatik rimpangnya [
2Bandyopadhyay, S. (n.d.). (PDF) Kaempferia galanga L.– A negative listed plant with promising aromatic and medicinal values. Academia. Retrieved February 11, 2026, from https://www.academia.edu/25105912/Kaempferia_galanga_L_A_negative_listed_plant_with_promising_aromatic_and_medicinal_values
]. Spesies ini resmi dideskripsikan Linnaeus pada 1753 dalam Species Plantarum [
3Linné, Carl von, & Salvius, Lars. (1753). Caroli Linnaei ... Species plantarum: exhibentes plantas rite cognitas, ad genera relatas, cum differentiis specificis, nominibus trivialibus, synonymis selectis, locis natalibus, secundum systema sexuale digestas... (Tomus I). Holmiae: Impensis Laurentii Salvii. https://www.biodiversitylibrary.org/page/358012
].
Selain nama ilmiah, Kaempferia galanga mempunyai nama-nama umum: aromatic ginger, resurrection lily, sand ginger, galanga (Inggris); kentjur (Swedia); indische Gewürzlilie (Jerman); kentjoer (Belanda); cananga-do-japão, galanga (Portugis); kachori (Sansekerta); chekur (Malaysia); kencur (Indonesia); duso, dusog, dusol (Tagalog); shān nài (China).

Daun kencur (Kaempferia galanga)

Kencur (Kaempferia galanga) termasuk famili Zingiberaceae, suku temu-temuan yang juga menaungi jahe, lengkuas, dan kunyit. Meski galanga disebut berasal dari India, tanaman ini tumbuh subur dan beradaptasi baik di Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia, Thailand hingga ke wilayah selatan Cina [
4Wang, S.-Y., Zhao, H., Xu, H.-T., Han, X.-D., Wu, Y.-S., Xu, F.-F., Yang, X.-B., Göransson, U., & Liu, B. (2021). Kaempferia galanga L.: Progresses in Phytochemistry, Pharmacology, Toxicology and Ethnomedicinal Uses. Frontiers in Pharmacology, 12. https://doi.org/10.3389/fphar.2021.675350
]. Ia menyebar bersama tradisi, rasa, dan pengobatan.
Di Indonesia, rimpang kencur ditumbuk halus untuk memberi sentuhan khas pada pecel, sambal tempe, nasi goreng, hingga aneka jamu tradisional. Daunnya yang segar kerap diikat lalu dicelupkan dalam kuah gulai ikan atau daging, menghadirkan aroma lembut yang menghangatkan. 
Di Malaysia, daun kencur dicincang dan ditambahkan ke dalam salad; di Thailand, rimpang dan daunnya memperkaya cita rasa kari ikan. Bahkan daun mudanya dinikmati mentah bersama pasta udang pedas yang dikenal sebagai kapi kua [
5NParks. (n.d.). Kaempferia galanga. NParks. Retrieved February 12, 2026, from https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/2/1/2164
].
Namun kencur bukan sekadar bumbu penyedap. Dalam khazanah etnobotani Asia, ia dihargai sebagai tanaman obat. Khairullah et. al. (2021) [
6Khairullah, A. R., Solikhah, T. I., Ansori, A. N. M., Hanisia, R. H., Puspitarani, G. A., Fadholly, A., & Ramandinianto, S. C. (2021). Medicinal importance of Kaempferia galanga L. (Zingiberaceae): A comprehensive review. Journal of Herbmed Pharmacology, 10(3), 281–288. https://doi.org/10.34172/jhp.2021.32
] melaporkan bahwa praktisi pengobatan tradisional memanfaatkan kencur untuk membantu meredakan asma, hipertensi, sakit perut, sakit kepala, rematik, sakit gigi, gangguan pencernaan, hingga infeksi bakteri. Rimpang keringnya dikenal sebagai kardiotonik dan sedatif alami. Ekstraknya dilaporkan memiliki aktivitas penghambatan monoamine oksidase, sementara secara tradisional rimpang dipercaya membantu memulihkan panas dalam dan melancarkan peredaran darah.

Deretan tanaman kencur (Kaempferia galanga)

Bubuk kencur digunakan sebagai ekspektoran untuk batuk berdahak dan nyeri dada. Minyak esensialnya dioleskan di sekitar hidung untuk meredakan pilek dan hidung tersumbat. Pasta rimpang yang diolah menjadi balsem lazim dipakai untuk mengatasi rematik dan luka. 
Penelitian modern pun mengidentifikasi berbagai senyawa bioaktif dengan potensi farmakologis: antimikroba, antiinflamasi, antioksidan, antidiare, analgesik, hingga aktivitas adaptogenik dan penyembuhan luka.
Melihat kembali deretan kencur di depan rumah sederhana di Bandarangin, saya menyadari bahwa tanaman kecil itu menyimpan perjalanan panjang, mulai dari pekarangan desa hingga lembaran buku botani dunia. Ia menghubungkan dapur tradisional dengan laboratorium ilmiah, tradisi lisan dengan literatur klasik Eropa, serta pengalaman empiris masyarakat dengan kajian farmakologi modern.
Kencur adalah contoh bagaimana flora Nusantara tidak hanya tumbuh di tanah, tetapi juga berakar dalam sejarah, budaya, dan pengetahuan. Aromanya yang tajam mungkin berasal dari rimpang kecil di bawah permukaan, tetapi kisahnya menjalar jauh melampaui batas pekarangan. *** [120226]


logoblog

Thanks for reading Kaempferia galanga, Tanaman Kencur yang Aromatik

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog