Rabu, Februari 11, 2026

Cosmodela aurulenta, Kumbang Harimau Berbintik Emas

  Budiarto Eko Kusumo       Rabu, Februari 11, 2026
Kumbang macan berbintik emas (Cosmodela aurulenta) di atas paving block halaman NIHR UB Site Office, Dusun Lemah Duwur RT 07 RW 01 Desa Dilem, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang

Siang itu usai Jumatan (06/02), ketika saya hendak memberi makan dua ekor anak kucing yang ditinggalkan induknya di halaman samping NIHR UB Site Office Kepanjen, perhatian saya sempat tertuju pada gerak kecil yang lincah di atas paving block
Seekor serangga mungil berkilau melintas cepat, berhenti sejenak, lalu berlari lagi dengan kecepatan yang nyaris sulit diikuti mata. Di bawah cahaya matahari, tubuhnya memantulkan warna biru kehitaman metalik, dihiasi bintik-bintik kuning keemasan yang tampak seperti taburan emas. Dialah Cosmodela aurulenta - kumbang harimau berbintik emas.
Di Indonesia, ia lebih akrab disebut kumbang harimau (tiger beetle) atau kumbang macan berbintik emas (golden-spotted tiger beetle). Sebutan itu bukan tanpa alasan. Meski panjang tubuhnya hanya sekitar 15–18 milimeter, auranya garang. 
Ia adalah pemburu diurnal - aktif di siang hari - yang mengandalkan penglihatan tajam dan kecepatan luar biasa untuk memburu arthropoda kecil. Dalam hitungan detik, ia mampu berlari beberapa kali panjang tubuhnya sendiri. Gerakannya terputus-putus, melesat, berhenti, mengamati, lalu menyergap. Seperti harimau dalam versi miniatur.
Kilau tubuhnya yang mencolok membuatnya mudah dikenali. Warna dasar biru kehijauan atau kadang cenderung gelap berkilau, dihiasi enam bercak putih kekuningan atau emas pada sayap kerasnya (elytra). 
Keindahan inilah yang membuatnya kerap disebut “menawan” dan “indah” dalam berbagai literatur populer. Di Tiongkok, kumbang ini dikenal sebagai jin ban hua jia, sementara di sejumlah wilayah Asia Tenggara orang cukup menyebutnya kumbang macan.
Nama ilmiahnya menyimpan kisah panjang. Cosmodela aurulenta pertama kali dideskripsikan oleh entomolog Denmark, Johan Christian Fabricius (1745-1808), pada 1801 dalam karya monumentalnya Systema Eleutheratorum [
1Fabricius, Johann Christian. (1801). Systema Eleutheratorum : secundum ordines, genera, species, adiectis synonymis, locis, observationibus, descriptionibus (Vol. 2, p. 1). Kiliae: Impensis Bibliopolii Academici Novi. https://www.biodiversitylibrary.org/page/63317854
]. 
Saat itu ia menamainya Cicindela aurulenta, dengan lokasi tipe “India orientali”, sebuah istilah lama yang mencakup Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Lebih dari satu setengah abad kemudian, pada 1961, ahli entomologi Prancis Édouard Rivalier mengangkat Cosmodela dari sekadar subgenus menjadi genus tersendiri, berdasarkan perbedaan morfologi, termasuk struktur alat kelamin jantan. Sejak itu, spesies ini lebih luas diterima sebagai Cosmodela aurulenta, meski sebagian peneliti masih menempatkannya di bawah Cicindela dengan subgenus Cosmodela [
2FUKUDA, Y., OGAWA, R., & HORI, M. (2019). The reclassification of Sophiodela and other tiger beetles (Coleoptera, Cicindelidae) based on the structure of the everted internal sac of the male genitalia. Zootaxa, 4661(2). https://doi.org/10.11646/zootaxa.4661.2.3
].
Secara etimologis, nama Cosmodela berasal dari bahasa Yunani dari gabungan kata "kosmos-" (tatanan, ornamen, atau dunia) dan “-dela” (jelas), yang menunjukkan sebuah penanda akan penampilannya yang ornamental dan khas [
3Argentinat. (n.d.). Beetle Mania 24 : The Fast and the Furious Tigers. Argentinat. Retrieved February 11, 2026, from https://www.argentinat.org/posts/98031-beetle-mania-24-the-fast-and-the-furious-tigers
]. 
Sementara itu, epitet “aurulenta” berasal dari bahasa Latin dari kombinasi kata “aurum” (emas) dengan akhiran “-ulentus” (berlimpah), menggambarkan semburat keemasan yang menonjol pada tubuhnya [
4Definify.com. (n.d.). aurulentus | Definition of aurulentus at Definify. Definify. Retrieved February 09, 2026, from https://www.definify.com/word/aurulentus
]. Nama yang terasa puitis untuk predator kecil yang gesit.
Berasal dari wilayah zoogeografis Oriental, kumbang ini menyukai habitat terbuka dan cerah, sperti tepian jalan tanah, lapangan berpasir, atau sela-sela paving block yang tersiram matahari. Di ruang-ruang terbuka itulah ia menjadi pemburu tangguh, memangsa serangga dan arthropoda kecil lain. Sifatnya agresif dan responsif; ia tak ragu mengejar mangsa yang bergerak.
Dalam beberapa tahun terakhir, perannya melampaui sekadar penghuni ekosistem lokal. Dikutip dari Entomology Today [
5Entomology Today. (n.d.). Cosmodela aurulenta tiger beetle. Entomology Today. Retrieved February 09, 2026, from https://entomologytoday.org/2025/06/20/tiger-beetles-biocontrol-red-imported-fire-ants/cosmodela-aurulenta-tiger-beetle/
], penelitian menunjukkan bahwa Cosmodela aurulenta mampu memangsa hampir 30 ekor semut api impor merah per hari. Di laboratorium, seekor kumbang terlihat sigap mencengkeram dan melahap semut dalam wadah uji. Temuan ini mendorong para peneliti menelaah kemungkinan pembiakan massal kumbang harimau sebagai agen pengendali hayati.
Namun, di luar laboratorium dan perdebatan taksonomi, perjumpaan singkat di halaman site office itu menghadirkan kesadaran sederhana, bahwa di antara sela-sela batu dan rutinitas manusia, ada dunia kecil yang riuh oleh perburuan dan kilau warna. 
Seekor kumbang harimau berbintik emas melintas cepat, menjalankan perannya dalam jejaring kehidupan. Dan sejenak, di antara urusan memberi makan anak kucing dan terik siang hari, saya menjadi saksi bagi kegesitan dan keindahan yang sering luput dari perhatian. *** [110226]


logoblog

Thanks for reading Cosmodela aurulenta, Kumbang Harimau Berbintik Emas

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog