“Sitting there, in the coffee house, I saw so many stories behind the lips of people who had left them untold.” -- Lidia Longorio, Hey Humanity
Usai Salat Jumat, Jumat (13/02) siang itu, saya bersiap-siap menuju ke sebuah kafe yang berada di Pakisaji. Ajakan coffee meeting dari dr. Arief Alamsyah, MARS, Sp.KKLP - seorang peneliti dan akademisi dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) - membawa saya menuju Kedai Madam Flow Kopitiam, yang beralamat di Jalan Raya Pakisaji No. 156, Dusun Jatirejo, Desa Pakisaji, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Letaknya berdampingan dengan Warung Kopi Markatam, namun atmosfer yang ditawarkan terasa berbeda sejak pertama kali menjejakkan kaki.
Kedai ini tergolong anyar. Grand opening-nya baru digelar pada Kamis (18/09/2025). Belum genap empat bulan beroperasi, tetapi karakter dan identitasnya sudah terasa matang. Mengusung konsep kopitiam, istilah yang berasal dari perpaduan kata “kopi” (Melayu) dan “tiam” (Hokkien, berarti kedai), Madam Flow menghadirkan jejak panjang warisan kuliner Tionghoa-Melayu Asia Tenggara dalam balutan kafe modern.
![]() |
| Kedai Mama Flow Kopitiam Pakisaji |
Secara fisik, ruangannya memang tidak terlalu luas. Namun justru di situlah letak daya pikatnya, desain estetik yang bersih, tata cahaya hangat, serta komitmen tegas pada kenyamanan melalui kebijakan No Smoking, No Vaping dan No Pork, No Lard.
Sebuah tulisan di pojok depan ruangan juga mencuri perhatian, “Our Story Begins.” Seolah menjadi penanda bahwa setiap pertemuan di sana menyimpan kisahnya sendiri.
Menu yang ditawarkan menjadi perjumpaan rasa lintas batas. Dari hidangan Indonesia hingga sajian yang akrab dijumpai di Singapura seperti laksa, nasi lemak, mie pok, kwetiaw, dimsum, hingga gyoza. Semuanya tersaji dalam semangat kopitiam yang egaliter. Tempat ini tidak sekadar menjual makanan, melainkan menghadirkan pengalaman.
Diskusi kami siang itu mengalir serius namun santai. Topiknya bukan perkara remeh, yakni penelitian doktoral tentang Pengembangan Model Health Coaching untuk Pengendalian Hipertensi di Layanan Primer.
![]() |
| Diajak lunch dan diskusi sama peneliti dan akademisi FKUB di Kedai Mama Flow Kopitiam Pakisaji |
Di sela pembahasan temuan hasil dari analisa data dan model intervensi serta kekhasan yang muncul di enumeration area, kami memesan makan siang sesuai selera. Pilihan saya jatuh pada Es Cendol Durian dan Nasi Goreng Hongkong.
Es Cendol Durian tampil menggoda sejak seruputan pertama. Manis gula aren berpadu dengan gurih santan, sementara legitnya durian menghadirkan sensasi yang pekat namun lembut. Minuman ini bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan penutup jeda diskusi yang menyegarkan.
Adapun Nasi Goreng Hongkong ala Madam Flow menjadi bintang utama di meja kami. Berbeda dari nasi goreng khas Jawa Timur yang cenderung merah saus, versi ini tampil dengan warna lebih pucat, mengandalkan kecap asin dan minyak wijen untuk menciptakan rasa gurih elegan.
![]() |
| Es Cendol Durian ala Kedai Mama Flow Kopitiam Pakisaji |
Butiran nasi pera - biasanya dari nasi dingin - ditumis bersama telur, potongan ayam, udang, sosis, serta sayuran kecil seperti wortel, kacang polong, dan daun bawang. Aromanya halus namun mengundang, rasanya ringan tetapi kaya. Setiap sendokannya terasa seimbang, seperti diskusi yang kami rajut, yakni terukur, terstruktur, dan penuh gagasan.
Fenomena makan di kafe sambil berdiskusi, yang kini populer disebut working from café atau coffee meeting, telah menjadi bagian dari lanskap gaya hidup urban kontemporer. Di ruang-ruang seperti inilah ide bertumbuh, jejaring terbentuk, dan gagasan akademik menemukan napas sosialnya. Bagi kalangan peneliti dan akademisi, termasuk dari FKUB, kafe bukan lagi sekadar tempat minum kopi, melainkan ruang produktivitas alternatif.
Dalam perspektif fenomenologi, makna kafe tidaklah statis. Ia dibentuk oleh pengalaman, percakapan, dan interaksi yang terjadi di dalamnya. Teori interaksi simbolik pun menegaskan bahwa makna suatu ruang lahir dari proses sosial yang dinamis. Maka, kopitiam seperti Madam Flow menjelma menjadi ruang publik multifungsi, tempat konsumsi sekaligus kontemplasi, santap siang sekaligus pertukaran ide.
![]() |
| Nasi Goreng Hongkong ala Kedai Mama Flow Kopitiam Pakisaji |
Seperti pernah ditulis Lidia Longorio, seorang seniman multimedia, penulis, penyair asal Meksiko dalam buku yang berisi berisi kumpulan puisi yang merangkum renungannya sebagai pengamat umat manusia, dengan judul "Hey Humanity" (2019):
“Duduk di sana, di kedai kopi, saya melihat begitu banyak kisah di balik bibir orang-orang yang telah memendamnya.”
Siang itu, di antara aroma nasi goreng dan manisnya cendol durian, saya menyaksikan sendiri bagaimana sebuah kedai kopi atau kafe di Pakisaji menjadi tempat diskusi ilmiah yang nyaman.
Cerita kami mungkin hanya satu dari sekian banyak kisah yang bertumbuh di sana. Namun di meja kecil itu, di sudut kedai yang hangat, “Our Story Begins” bukan sekadar tulisan dinding - ia benar-benar menjadi kenyataan. *** [160226]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar