“You haven't until you've come in and tried one of our coffees.” -- Anthony T. Hincks
Libur Lebaran selalu punya cara sendiri untuk menghadirkan cerita. Bukan sekadar jeda dari rutinitas, tetapi juga kesempatan untuk merajut kembali kedekatan. Kadang lewat hal sederhana seperti segelas minuman dan sepiring kudapan hangat.
Begitulah awal langkah kami menuju Little Tiam Coffee, sebuah kedai mungil yang berada di sebelah selatan Tugu Lilin dan tak jauh dari Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta, pada Selasa (17/03). Ajakan datang dari anak wedok ragil yang tampaknya ingin tahu menu kuliner yang ada di Little Tiam Coffee tersebut.
Dari luar, Little Tiam Coffee tampil sederhana. Namun begitu melangkah masuk, suasana berubah. Konsep kopitiam yang diusung terasa kental. Interior bernuansa vintage dengan sentuhan modern yang hangat, seperti membawa pengunjung melintasi waktu antara nostalgia dan kenyamanan masa kini.
![]() |
| Fasad Little Tiam Coffee Solo di malam hari di bulan Ramadhan 1447 H |
Kata “Tiam” (εΊ) sendiri, yang berasal dari bahasa Hokkien atau Hakka, berarti kedai atau warung. Maka tak heran jika tempat ini terasa akrab, seolah-olah bukan tempat baru, melainkan ruang lama yang selalu menunggu untuk disinggahi kembali.
Meski mengusung gaya klasik, fasilitasnya jauh dari kesan usang. Pendingin ruangan, area merokok, mushola, wifi gratis, hingga ruang VIP tersedia rapi. Bahkan colokan listrik tersebar di beberapa sudut - detail kecil yang diam-diam penting bagi pengunjung masa kini. Namun, inti dari perjalanan ini tentu saja ada pada rasa.
Anak wedok ragil memilih toast greentea dan segelas es milo. Pilihan yang terdengar sederhana, tetapi menghadirkan kejutan pada gigitan pertama. Roti panggangnya renyah di luar namun lembut di dalam, dengan lelehan ice cream yang manisnya tidak berlebihan. Taburan dan teksturnya menciptakan harmoni antara gurih, manis, dan hangat, yang perlahan memanjakan lidah. Es milo yang menyertainya menghadirkan sensasi dingin yang menyeimbangkan, seperti jeda yang tepat di tengah alur rasa.
![]() |
| Menemani anak wedok ragil mencicipi menu kuliner di Little Tiam Coffee Solo |
Sementara itu, pilihan saya jatuh pada telur rebus dan lumpia. Kombinasi yang mungkin terdengar sangat sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Telur rebus hadir dengan tekstur yang pas - tidak terlalu matang, tidak pula setengah matang - memberikan rasa alami yang bersih. Lumpianya, di sisi lain, menghadirkan kontras: kulit yang renyah dengan isian yang lembut dan gurih. Setiap gigitan terasa ringan, namun cukup untuk mengundang gigitan berikutnya.
Petualangan rasa di meja kecil kami tidak menghadirkan ledakan rasa yang berlebihan. Justru sebaliknya, ia berjalan perlahan, seperti percakapan santai yang tidak terburu-buru. Setiap menu membawa karakter masing-masing, tetapi tetap menyatu dalam suasana yang sama: hangat, sederhana, dan jujur.
Mungkin di situlah letak daya tarik Little Tiam Coffee. Kedai kopi ini tidak mencoba menjadi sesuatu yang terlalu mewah. Ini hanyalah kedai kecil yang tahu bagaimana menyambut tamu, menyajikan cita rasa, dan menjaga suasana yang nyaman.
![]() |
| Toast Greentea ala Little Tiam Coffee Solo |
Terlebih lagi, kedai ini buka 24 jam. Dari pagi yang tenang, malam yang panjang, hingga sahur bersama keluarga, yang selalu ada waktu untuk kembali.
Seperti kata Anthony T. Hincks, penulis kutipan dan penulis buku yang dikenal karena karya-karya reflektifnya tentang kehidupan, cinta, dan kemanusiaan:
“Anda belum benar-benar tahu sampai Anda datang dan mencoba salah satu kopi kami.”
Dan mungkin, bukan hanya kopinya yang perlu dicoba, tetapi juga pengalaman kecil yang diam-diam meninggalkan kesan besar. *** [280326]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar