“A perfect dinner for me is being with people I really want to be with. It starts and stops with my company and my family.” -- Catherine Bach
Bulan Maret tahun ini terasa berbeda. Di tengah suasana syahdu Ramadhan 1447 H, keluarga kecil kami menemukan cara sederhana namun bermakna untuk merayakan dua kebahagiaan sekaligus, yakni ulang tahun (ultah) kedua anak wedok dan momen buka bersama (bukber).
Sebuah perayaan sederhana, tetapi justru hangat, karena hanya dihadiri oleh keluarga inti, unit terkecil dalam struktur sosial yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak yang belum menikah, yang hidup dalam satu atap dan berbagi kehidupan sehari-hari.
![]() |
| Fasad Warung Kuliner 69 di Lantai 2 Mall Solo Square |
Pilihan tempat jatuh pada Warung Kuliner 69 Solo Square, sebuah ruang makan yang nyaman di Lantai 2 Mall Solo Square, Surakarta. Tempat ini bukan sekadar lokasi kuliner; ia menjadi ruang temu rasa dan kasih.
Interiornya yang cozy dan aesthetic seolah dirancang untuk memperpanjang percakapan, menahan waktu agar tidak lekas berlalu. Dalam hati, saya bergumam pelan, “One table holds so much love.” Karena memang, keluarga bukan hanya sebuah kata. Ia adalah perasaan yang hidup, tumbuh, dan dirawat bersama.
Warung Kuliner 69, bagian dari NasGor 69 Group yang dikenal dengan sajian khas Nusantara, malam itu menjadi saksi pertemuan dua perayaan, yakni ulang tahun dan bukber. Di tengah lantunan adzan yang menandai waktu berbuka, gelak tawa anak-anak berpadu dengan suasana khidmat Ramadhan. Momen ini terasa langka, karena menggabungkan sukacita ulang tahun dengan ritual spiritual berbuka puasa dalam satu meja yang sama.
![]() |
| Buku Menu Makanan & Minuman Warung Kuliner 69 Solo Square |
Dari sudut pandang sosiologis, makan bersama keluarga memiliki peran penting dalam membangun kohesi sosial. Penelitian dari Journal of Marriage and Family menunjukkan bahwa rutinitas makan bersama meningkatkan kualitas komunikasi, memperkuat ikatan emosional, serta menciptakan rasa aman pada anak-anak.
Sementara itu, studi dalam Appetite Journal (Fiese et al., 2012) menegaskan bahwa makan bersama secara konsisten dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis anggota keluarga, terutama anak, melalui interaksi yang hangat dan penuh perhatian.
Secara psikologis, momen seperti ini bekerja sebagai “emotional anchor” - penanda kenangan yang memperkuat rasa memiliki. Dalam konteks ulang tahun anak, kehadiran keluarga inti tanpa distraksi eksternal memberi pesan implisit bahwa kebahagiaan tidak bergantung pada keramaian, melainkan pada kehadiran yang utuh.
![]() |
| Kebersamaan keluarga dalam bukber di Warung Kuliner 69 Solo Square |
Menu yang tersaji malam itu menjadi bagian dari narasi kebersamaan. Kedua anak wedok dengan antusias membuka daftar menu, memilih hidangan favorit mereka: Nasi Goreng Seafood, Empek-empek Kapal Selam, Nasi Ayam Bakar, Ayam Goreng, Urap, Tempe Mendoan, Pangsit, hingga minuman segar seperti Es Teler dan Es Dawet. Sementara saya memilih Nasi Hotplate Sapi Cabe dan Es Dawet, sebuah kombinasi yang sederhana namun menggugah selera.
Nasi Hotplate Sapi Cabe hadir dengan sensasi panas yang masih mengepul, aroma lada dan cabai yang tajam langsung menyentuh indera penciuman. Secara gastronomi, hidangan ini menciptakan pengalaman multisensorik dengan bunyi desisan dari hotplate, aroma rempah, hingga rasa pedas gurih yang memicu pelepasan endorfin, hormon yang berkaitan dengan rasa senang. Ini menjelaskan mengapa makanan panas dan berbumbu kuat sering diasosiasikan dengan kenyamanan emosional.
Sementara itu, Es Dawet menjadi penyeimbang yang menyegarkan. Perpaduan santan, gula merah, dan cendol menghadirkan rasa manis yang lembut, memberikan efek relaksasi setelah berbuka. Dalam perspektif budaya, es dawet juga merepresentasikan kearifan lokal, yaitu minuman tradisional yang tidak hanya menyegarkan tubuh, tetapi juga menghidupkan memori kolektif akan rumah dan tradisi.
![]() |
| Nasi Hotplate Sapi Cabe ala Warung Kuliner 69 Solo Square |
Di tengah percakapan yang mengalir dan tawa yang tak terhitung, saya teringat kutipan dari Catherine Bach, seorang aktris Amerika:
“Bagiku, makan malam yang sempurna adalah bersama orang-orang yang benar-benar ingin kutemui. Semuanya berawal dan berakhir dengan kebersamaan dan keluargaku.”
Kutipan ini terasa begitu relevan. Karena malam itu, kesempurnaan tidak datang dari kemewahan hidangan, melainkan dari kehadiran orang-orang yang saling mencintai.
Pada akhirnya, Warung Kuliner 69 bukan hanya tempat makan. Ia menjadi ruang di mana keluarga kami membangun kembali benteng kasih - melalui suapan demi suapan, melalui tawa yang mengalir, dan melalui keheningan yang penuh makna. Sebuah pengingat bahwa dalam kesederhanaan, selalu ada kehangatan yang tak tergantikan. *** [290326]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar