Selasa, April 21, 2026

Di Antara Warna dan Gelombang: Sejenak Menyimak Kehidupan di Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar

  Budiarto Eko Kusumo       Selasa, April 21, 2026
When you leave a port, ask yourself two questions: What mark you have made on that port and what have you learned from that port?” --  Mehmet Murat ildan
Udara di Banyuwangi terasa ringan di Ahad (05/04) pagi, seolah memberi izin untuk berhenti sejenak dari rutinitas. Tiga enumerator COM-B yang berbasecamp di Desa Tamanagung - Amanda Dewanata Puteri, Ervina Putri Rahayu, dan Reivaldi Adrian - mengajak saya menyisipkan jeda kecil untuk menuju Muncar, melihat denyut kehidupan di pelabuhan.
Kami berempat berangkat dengan sepeda motor, menempuh sekitar 17 kilometer. Angin pagi menemani perjalanan selama kurang lebih 40 menit, cukup untuk mengendapkan lelah, tapi juga membangkitkan rasa ingin tahu. Jalanan mengantar kami ke tepi Selat Bali, tepatnya di Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, tempat berdirinya Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar.

Deretan kapal slerek kecil bersandar di Dermaga Pelabuhan Muncar, Banyuwangi

Pukul 09.07 WIB, pelabuhan itu sudah hidup sepenuhnya. Riuhnya bukan sekadar suara mesin kapal atau teriakan buruh angkut, melainkan simfoni keseharian yang terjalin dari laut dan manusia. 
Ratusan kapal slerek berjajar, mencolok dengan warna-warna cerah dan ornamen artistik. Setiap lekuknya seperti kanvas yang bercerita, tentang keyakinan, tradisi, dan identitas pemiliknya. Simbol-simbol religius dan adat terpahat di badan kapal, menjadikannya lebih dari sekadar alat tangkap, melainkan ekspresi budaya.
Kapal slerek, yang beroperasi berpasangan layaknya “suami-istri”, tampak bersiap melaut atau justru baru saja kembali dengan tangkapan. Jaring purse seine terlipat rapi di geladak terbuka tanpa atap. 
Di sisi lain, aktivitas bongkar muat berlangsung tanpa jeda. Beberapa orang memancing di sudut pelabuhan, seolah tak ingin melewatkan peluang sekecil apa pun dari laut yang murah hati.

Bongkar muat di dermaga Pelabuhan Muncar, Banyuwangi

Di balik keramaian itu, tersimpan sejarah panjang. Dahulu, kawasan ini dikenal sebagai Ulupapang pada masa Kerajaan Blambangan, dekat dengan Teluk Pangpang yang membentang sekitar 13 kilometer. 
Hingga kini, perairan itu tetap menjadi nadi kehidupan yang menghadirkan limpahan ikan, terutama lemuru (Sardinella lemuru), yang oleh nelayan setempat disebut sempenit atau protolan.
Tak heran jika pelabuhan seluas sekitar 30 hektar ini berkembang menjadi pusat ekonomi. Industri pengolahan ikan tumbuh di sekitarnya: dari ikan kaleng seperti sarden dan tuna, hingga minyak ikan dan produk beku. Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Muncar bukan hanya tempat kapal berlabuh, tetapi juga simpul yang menghidupkan banyak mata pencaharian.
Bahkan, pelabuhan ini kerap disebut sebagai salah satu yang tersibuk di Indonesia, bersanding dengan Bagansiapiapi di Riau. Namun, lebih dari angka dan peringkat, yang terasa di sini adalah energi kolektif dalam bentuk kerja keras yang berpadu dengan tradisi.

Pembuatan galangan kapal slerek berukuran besar di dermaga Pelabuhan Muncar, Banyuwangi

Di sela hiruk-pikuk itu, Muncar juga menyimpan sisi lain sebagai ruang wisata bahari dan budaya. Tradisi Petik Laut menjadi penanda hubungan spiritual masyarakat dengan laut, sebuah ritual syukur yang diwariskan lintas generasi.
Kami berdiri cukup lama, membiarkan diri larut dalam suasana. Tidak ada yang benar-benar terburu-buru. Bahkan waktu terasa berjalan dengan ritme berbeda, mengikuti gelombang, bukan jam.
Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Sembulungan dalam rangka Ekspedisi Gandrung, satu kalimat terasa menggema, seolah lahir dari pengalaman singkat namun penuh makna itu. Seperti kata Mehmet Murat Ildan, penulis drama Turki:

Sepasang kapal slerek besar bersandar agak menjauh dari pelabuhan 


“Saat Anda meninggalkan sebuah pelabuhan, tanyakan pada diri Anda dua pertanyaan: Jejak apa yang telah Anda tinggalkan di pelabuhan itu dan apa yang telah Anda pelajari dari pelabuhan itu?”
Barangkali Pelabuhan Muncar memang bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang belajar tentang pulang dan berangkat, tentang harapan yang dilempar ke laut dan ketidakpastian yang selalu menyertainya. 
Dan di antara warna-warna kapal slerek yang perlahan menjauh dari pandangan, terlintas sebuah tanya yang tak perlu segera dijawab, seperti yang diingatkan Mehmet Murat Ildan: apa yang kita tinggalkan, dan apa yang diam-diam kita bawa pulang dari sebuah pelabuhan? *** [210426]


logoblog

Thanks for reading Di Antara Warna dan Gelombang: Sejenak Menyimak Kehidupan di Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog