Senin, April 20, 2026

Calotes versicolor, Bunglon Taman yang Berubah Warna Saat Birahi

  Budiarto Eko Kusumo       Senin, April 20, 2026
Bunglon taman (Calotes versicolor) yang sedang bertengger di atas tanaman teh-tehan (Acalypha siamensis)

Pagi itu, langkah saya bersama Field Supervisor dan dua enumerator COM-B mengarah ke Desa Sarimulyo. Agenda sederhana, bersilaturahmi dengan Kepala Desa Sarimulyo, Kamituwo Sempu, dan Kamituwo Rejomulyo pada Sabtu (04/04).
Namun, di ujung lorong berpaving block menuju basecamp Tim Enumerator COM-B Cluring di Jalan Pahlawan, Dusun Sumberwaru, Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, saya dikejutkan oleh kehadiran sosok hewan kecil yang nyaris luput dari pandangan.
Seekor bunglon bertengger tenang di atas pagar hidup tanaman teh-tehan (Acalypha siamensis). Diam, seolah menyatu dengan dedaunan. Warnanya tidak mencolok - cokelat keabu-abuan - membaur dengan lingkungan. Tapi justru di situlah pesonanya. Ia hadir tanpa banyak tuntutan untuk diperhatikan, namun menyimpan cerita yang tak sederhana.
Bunglon itu bukanlah bunglon hijau atau surai (Bronchocela jubata) yang kerap dikenal mampu berubah warna secara dramatis. Ia adalah kerabat dekatnya, namun dengan kemampuan yang lebih subtil. Spesies ini hanya mampu menggelapkan atau mencerahkan warna tubuhnya. Sesekali, terutama saat musim kawin, warna merah menyala muncul di sekitar leher pejantan yang sebuah sinyal biologis yang tegas, bahwa ia sedang birahi.
Di Indonesia, ia dikenal sebagai bunglon taman atau bunglon sisir. Nama ilmiahnya, Calotes versicolor (Daudin, 1802), mengandung makna yang tak kalah menarik. Kata Calotes berasal dari bahasa Yunani “kalós” (indah) dan “ōt-“ (telinga), yang merujuk pada penampilan yang berornamen atau mencolok, terutama selama musim kawin [
1The Center for North American Herpetology. (2026, April 19). Variable Bloodsucker: Calotes versicolor Daudin, 1802. Cnah.Org. https://cnah.org/taxon.aspx?taxon=Calotes_versicolor
].
Sedangkan, julukan khusus versicolor berasal dari bahasa Yunani dari gabungan kata “versi” (variabel, berputar, dapat berubah) dan “color” (warna), mengacu pada variabilitas spesies [
2The Reptile Database. (n.d.). Calotes versicolor. The Reptile Database. Retrieved April 19, 2026, from https://reptile-database.reptarium.cz/Calotes/versicolor
] Sebuah nama yang terasa pas untuk makhluk yang diam-diam menyimpan dinamika visual yang halus namun signifikan.
Secara historis, spesies ini telah lama menarik perhatian para ilmuwan. Pertama kali dideskripsikan oleh seorang ahli zoologi Prancis François Marie Daudin (1776-1803) sebagai Agama versicolor pada tahun 1802, lalu dikaji ulang pada tahun 1820 oleh Heinrich Kuhl (1797-1821), seorang naturalis dan ahli zoologi Jerman yang terkenal karena kontribusinya dalam studi fauna, khususnya di Hindia Belanda, dan dipertegas oleh André Marie Constant Duméril (1774 - 1860), seorang ahli zoologi Prancis bersama Gabriel Bibron (1806-1848), seorang zoologi dan herpetologis asal Prancis yang menjadi aide-naiuraliste (asisten naturalis) pada tahun 1837. Sejak itu, Calotes versicolor menjadi nama yang bertahan dalam literatur ilmiah hingga hari ini yang menandai konsistensi pengakuan terhadap identitasnya.
Selain nama ilmiah, Calotes versicolor mempunyai nama-nama umum: bloodsucker, common garden lizard, oriental garden lizard, variable agama (Inggris); Verschiedenfarbige Schönechse, Blutsaugeragame (Jerman); bunglon taman, bunglon sisir (Indonesia); biànsè shù xī (China).
Bunglon taman (Calotes versicolor) termasuk dalam famili Agamidae, kelompok kadal yang dikenal adaptif dan tangguh, yang tersebar luas di Asia Selatan dan Tenggara. Habitatnya luas, dari hutan, lahan pertanian, hingga pekarangan rumah di kawasan perkotaan [
3Gomontean, B., Pilap, W., Jaroenchaiwattanachote, C., Laotongsan, P., Pliankham, P., Saijuntha, J., Tawong, W., Tantrawatpan, C., & Saijuntha, W. (2025). Island vs. Mainland: Genetic Divergence of Calotes versicolor (Daudin, 1802) (Squamata: Agamidae) in Thailand. Animals, 15(20), 3028. https://doi.org/10.3390/ani15203028
]. 
Ia kerap ditemukan di semak-semak, rerumputan, atau memanjat batang pohon untuk menghindari predator. Tubuhnya ditandai jambul kecil di leher, duri halus di sekitar telinga, dan ketiadaan lipatan bahu yang menjadi ciri-ciri yang mungkin tak kasat mata bagi orang awam, namun penting dalam dunia herpetologi. Seperti kebanyakan agamid, ia bertelur di lubang di tanah [
4Suratman, S. A., Zahro, F. A., Fortuna, Z. A., Satriani, N., Mulyana, N. A. P., & Prakarsa, T. B. P. (2023). Diversitas Spesies Reptil (Squamata) pada Habitat Akuatik dan Terestrial di Magelang, Surakarta, dan Magetan. Jurnal Biologi UNAND, 11(1), 14–21. https://doi.org/10.25077/jbioua.11.1.14-21.2023
]
Meski tampak jinak, bunglon taman menyimpan sisi lain yang mengejutkan. Ia bukan sekadar pemakan serangga kecil. Dalam sebuah laporan terbaru [
5Eprilurahman, R., & Irwanjasmoro, S. (2025). The First Record of Snake Predation by an Invasive Species, Calotes versicolor (Daudin, 1802) in Indonesia: A Case Study on its Feeding Ecology. Journal of Tropical Biodiversity and Biotechnology, 10(3), jtbb19150. https://doi.org/10.22146/jtbb.19150
], spesies ini bahkan tercatat memangsa ular dewasa. Seekor pejantan terlihat menelan kepala ular terlebih dahulu, lalu melarikan diri dengan mangsa yang masih menggeliat di mulutnya. Sebuah pemandangan yang mengguncang persepsi umum tentang “kadal kecil yang tak berbahaya.”
Di balik tubuh mungilnya, tersimpan naluri predator yang efisien dan keberanian yang tak terduga. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa kehadirannya di suatu ekosistem bukan tanpa dampak. Ia bisa menjadi bagian dari keseimbangan, sekaligus berpotensi mengganggu, terutama di wilayah yang bukan habitat aslinya.
Pertemuan singkat di lorong kecil itu pun terasa lebih dari sekadar kebetulan. Bunglon taman, dengan segala kesederhanaan penampilannya, seolah mengingatkan bahwa alam selalu menyimpan lapisan cerita, yang hanya bisa terbaca jika kita bersedia berhenti sejenak dan mengamati.
Dan pagi itu, sebelum melanjutkan perjalanan ke Desa Sarimulyo, saya belajar satu hal, bahwa perubahan tak selalu mencolok, namun selalu bermakna, bahkan pada seekor bunglon yang tampak biasa saja. *** [200426]


logoblog

Thanks for reading Calotes versicolor, Bunglon Taman yang Berubah Warna Saat Birahi

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog