Rabu, April 22, 2026

Ekspedisi Gandrung: Menyusuri Laut Muncar Menuju Jejak Sakral Tanjung Sembulungan

  Budiarto Eko Kusumo       Rabu, April 22, 2026
You can’t see new places by staying in the port!” -- Mehmet Murat ildan
Angin asin Pelabuhan Muncar di Kabupaten Banyuwangi menyapa pelan siang itu di hari Ahad (05/04), ketika langkah saya bersama Tim Enumerator COM-B Cluring - Amanda Dewanata Puteri, Ervina Putri Rahayu, dan Reivaldi Adrian - menyusuri dermaga yang riuh oleh aktivitas nelayan. 
Perahu-perahu kayu berderet, sebagian baru kembali dari laut, sebagian lain bersiap menjemput rezeki. Dari riuh itu, lahir sebuah keinginan sederhana, yaitu ingin menyeberang, meninggalkan daratan, dan melihat laut dari sudut yang berbeda.

Berpose dengan tiga personil Tim Enumerator COM-B Cluring di Dermaga Sembulungan, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi

Keinginan itu menemukan jalannya di ujung dermaga, saat kami berjumpa dengan Pak Slamet Kaloke, seorang tukang ojek laut kawakan yang wajahnya dipahat oleh pengalaman panjang bersama ombak. 
Tanpa banyak basa-basi, kesepakatan tercapai. Mesin perahu dinyalakan, dan dalam hitungan menit, kami sudah melaju, meninggalkan Pelabuhan Muncar yang perlahan mengecil di kejauhan.

Pelayaran laut sebagai pencarian yang penuh petualangan bernama Ekspedisi Gandrung

“Anda tidak bisa melihat tempat-tempat baru hanya dengan berdiam di pelabuhan!” — Mehmet Murat Ildan.
Kalimat itu terasa hidup di tengah laut. Ombak yang berkejaran, angin yang memukul wajah, dan garis cakrawala membiru menjadikan pelayaran ini lebih dari sekadar perjalanan singkat. Kami menamainya: Ekspedisi Gandrung - sebuah perjalanan kecil dengan rasa petualangan yang besar.

Dermaga Sembulungan

Tujuan kami adalah Tanjung Sembulungan, sebuah daratan yang tampak hijau dari kejauhan, hanya sekitar dua kilometer dari pelabuhan, namun terasa seperti dunia yang berbeda. 
Setibanya di sana, lanskapnya langsung menyambut dengan kontras yang memikat, berupa pasir putih yang membentang luas, berpadu dengan tebing karang yang kokoh berdiri menantang laut.

Bungker peninggalan Jepang dalam Perang Dunia II di Resort Sembulungan Taman Nasional Alas Purwo

Tanjung ini bukan sekadar tempat singgah. Ia adalah bagian dari bentang alam Taman Nasional Alas Purwo, rumah bagi ekosistem yang masih terjaga. Di sepanjang pesisir, hutan mangrove tumbuh rimbun, menjadi habitat berbagai satwa, mulai dari burung-burung langka hingga biota laut yang bersembunyi di perairan jernihnya. Di sini, waktu berjalan lebih lambat, memberi ruang bagi siapa saja untuk benar-benar menikmati alam.
Namun, daya tarik Sembulungan tidak berhenti pada keindahan visual. Ada cerita yang berlapis di setiap sudutnya. Dari bunker peninggalan Jepang yang masih berdiri sunyi, hingga museum kecil yang menyimpan fragmen sejarah, semuanya menyiratkan bahwa tempat ini pernah menjadi saksi banyak peristiwa.

Museum Semulungan yang mungil di antara pepohonan langka di Sembulungan

Yang paling kuat terasa justru adalah aura sakral di kawasan Makam Gandrung. Di sinilah sejarah, mitos, dan kepercayaan masyarakat bertemu. Makam Sayid Yusuf - orang yang pertama kali membuka lokasi di Tanjung Sembulungan - menjadi pusat dari tradisi Petik Laut yang masih dijaga hingga kini. Bersama dua makam penari gandrung, tempat ini menjadi simbol hubungan antara manusia, laut, dan budaya.
Konon, ketika laut enggan memberi hasil dan ombak menjadi ancaman, Sayid Yusuf mengajak masyarakat menggelar ritual dengan iringan kesenian gandrung. Dari sana, harapan kembali tumbuh. Sejak saat itu, laut bukan hanya ruang mencari nafkah, tetapi juga ruang spiritual yang dihormati.

Kompleks Makam Gandrung yang melegenda di Banyuwangi

Kini, Tanjung Sembulungan hidup dalam dua dunia, yakni sebagai destinasi wisata alam yang memikat dan sebagai ruang budaya yang sarat makna. Pengunjung bisa berjalan santai di pantai, snorkeling menikmati bawah laut, memancing di spot-spot favorit, atau sekadar duduk menikmati matahari terbit dan terbenam dari sudut yang nyaris sempurna.
Perjalanan singkat kami berakhir saat perahu kembali mengarah ke Pelabuhan Muncar. Namun, Ekspedisi Gandrung bukan sekadar tentang pergi dan kembali. Ia adalah pengingat bahwa di balik perjalanan sederhana, selalu ada cerita yang menunggu untuk ditemukan, asal kita berani meninggalkan “pelabuhan” kita sendiri. *** [220426]


logoblog

Thanks for reading Ekspedisi Gandrung: Menyusuri Laut Muncar Menuju Jejak Sakral Tanjung Sembulungan

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog