“I like trains. I like their rhythm, and I like the freedom of being suspended between two places, all anxieties of purpose taken care of: for this moment I know where I am going.” -- Anna Funder, Stasiland: Stories from Behind the Berlin Wall
Pagi itu di Malang belum benar-benar sibuk ketika langkah saya tiba di Stasiun Malang Pintu Timur. Usai menuntaskan urusan perpanjangan izin penelitian NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) di delapan desa yang ada di Kabupaten Malang, perjalanan berikutnya sudah menunggu, yakni Banyuwangi. Tanpa banyak jeda, saya memilih melanjutkan tugas dengan satu cara yang selalu punya cerita yaitu naik kereta api.
Kamis (02/04), menjadi awal perjalanan itu. Pukul 06.10 WIB saya sudah berdiri di depan loket, membeli tiket langsung, dan mendapatkan kursi EKS-2 nomor 12D. Kelas eksekutif, tapi cukup untuk sebuah perjalanan panjang yang saya tahu akan lebih dari sekadar perpindahan tempat.
Tepat pukul 07.52 WIB, KA Ijen Ekspres meluncur dari jalur 4. Delapan menit berselang, suara train attendant Kenan, menyapa penumpang secara langsung dalam gebong eksekutif 2 dengan informasi perjalanan, seperti rute, durasi, hingga pilihan kuliner di dalam kereta. Sebuah pembuka yang terasa akrab bagi para penikmat perjalanan rel.
![]() |
| Fasad Stasiun Malang bagian Pintu Timur |
Rute yang akan ditempuh bukanlah rute pendek. Ijen Ekspres berhenti di 15 stasiun, dari Lawang hingga Banyuwangi, melewati simpul-simpul penting seperti Bangil, Pasuruan, Probolinggo, Klakah, Tanggul, Rambipuji, Jember, Kalisat, Kalibaru, Kalisetail, Temuguruh, dan Rogojampi. Sebuah perjalanan yang bukan hanya soal tujuan, tetapi tentang apa saja yang dilalui di antaranya.
Perjalanan mulai terasa dinamis saat kereta berhenti di Bangil. Di sana terjadi perputaran lokomotif, sebuah proses teknis yang mengubah posisi rangkaian. Dua gerbong eksekutif yang semula di depan kini berada di belakang. Seolah memberi perspektif baru, bahkan bagi arah perjalanan itu sendiri.
Beberapa kali kereta harus menepi sejenak. Di Rejoso, perjalanan tertahan karena persimpangan dengan kereta lain. Di Bayeman, Ijen Ekspres menunggu KA Logawa lewat. Lalu di Jatiroto, giliran KA Mutiara Utara melintas. Momen-momen ini justru memberi jeda yang unik di mana kesempatan untuk benar-benar merasakan ritme perjalanan, bukan sekadar kecepatannya.
![]() |
| Rangkaian KA Ijen Ekspres di Jalur 4 Stasiun Malang |
Namun, yang paling membuat perjalanan ini hidup adalah pemandangan di sepanjang jalur. Dari Malang hingga Lawang, rel membelah perkampungan yang masih terjaga ritme paginya. Selepas itu, lanskap berubah menjadi hamparan hijau berupa sawah luas dan kebun mangga yang berjajar hingga mendekati Bangil.
Di beberapa titik, jalur kereta seakan berdampingan dengan jalan raya, menghadirkan pemandangan kendaraan yang melaju sejajar, seolah ikut dalam perjalanan yang sama.
Memasuki wilayah Probolinggo hingga Klakah, bentangan sawah kembali mendominasi, luas dan tenang. Mendekati Jember, lanskap mulai berbaur antara permukiman dan lahan pertanian, sebuah tanda kehidupan yang semakin padat.
Namun kejutan sebenarnya datang setelah Jember. Jalur mulai berkelok melewati lembah perbukitan, membelah perkebunan kopi yang rimbun, sebelum akhirnya masuk ke Terowongan Mrawan yang gelap sejenak, lalu terang kembali dengan lanskap yang berbeda. Perjalanan seperti ini bukan sekadar visual, tapi juga rasa, antara tenang, kagum, dan sedikit takjub.
![]() |
| Interior gerbong Eksekutif 2 dalam rangkaian KA Ijen Ekspres |
Sepanjang perjalanan, saya sama sekali tidak mengantuk. Bukan karena kopi, tapi karena setiap jendela menawarkan cerita. Rasanya sayang untuk terlewat dalam perjalanan dengan KA Ijen Ekspres di pagi hingga siang hari tersebut.
Akhirnya, pukul 14.15 WIB, kereta tiba di Stasiun Rogojampi. Namun jemputan dari teman di Tim NIHR UB, Andhika Krinaloka, S.Sos. sedikit terlambat lantaran ada perbaikan jalan ketika hendak menuju ke stasiun.
Begitu jemputan datang, perjalanan pun berlanjut ke fase berikutnya, namun pengalaman di atas rel itu masih tertinggal kuat. Ada sesuatu tentang perjalanan kereta yang sulit dijelaskan. Ia bukan hanya alat transportasi, melainkan ruang refleksi. Di antara keberangkatan dan tujuan, ada jeda yang memberi kesempatan untuk melihat, merasakan, dan mengingat.
![]() |
| Peta Rute Perjalanan KA Ijen Ekspres |
Seperti sebuah kutipan dari penulis Australia Anna Funder dalam Stasiland: Stories from Behind the Berlin Wall (2003), yang terasa begitu pas menggambarkan perjalanan ini:
"Aku suka kereta api. Aku suka ritmenya, dan aku suka kebebasan berada di antara dua tempat, semua kecemasan akan tujuan teratasi: untuk saat ini aku tahu ke mana aku akan pergi."
Dan mungkin, di situlah letak pesonanya. Di antara Malang dan Banyuwangi, bukan hanya jarak yang ditempuh, tetapi juga pengalaman yang diam-diam membentuk cara kita memandang perjalanan itu sendiri. *** [090426]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar