Senin, April 27, 2026

Nongki di Warung Dalam Negeri Banyuwangi, Asyik Sekali!

  Budiarto Eko Kusumo       Senin, April 27, 2026
"Architecture is basically a container of something. I hope they will enjoy not so much the teacup, but the tea." -- Yoshio Taniguchi
Nama “Warung Dalam Negeri” sempat memancing asumsi saya. Pasti pemiliknya punya semangat nasionalisme yang kuat. Nama itu terasa akrab dengan jargon yang pernah digaungkan untuk mencintai produk lokal yang menjadi sebuah gema kecil tentang kebanggaan pada negeri sendiri. Namun siang itu, semua tafsir ideologis itu pelan-pelan bergeser menjadi pengalaman yang jauh lebih sederhana, hangat, dan membumi: nongki.
Kunjungan kedua ke Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyuwangi untuk mengurus perpanjangan izin penelitian UB-CHC (Universitas Brawijaya-Climate and Health Centre) pada Rabu (08/04) berakhir dengan sebuah ajakan santai.
 
Fasad Warung Dalam Negeri Banyuwangi

Seorang Field Supervisor COM-B yang masih muda dan lajang, tampaknya tahu benar seluk-beluk tempat asyik di kota ini dari googling, mengusulkan satu destinasi, yakni Warung Dalam Negeri, atau yang akrab disebut W Dagri.
Lokasinya tak mencolok. Bersembunyi di Perum Griya Permata Husada, Kelurahan Pengantigan, sekitar 900 meter dari Dinkes lewat Jalan Gentengan Baru. Dari Jalan Mohammad Husni Thamrin, hanya sekitar 100 meter ke arah sebuah jembatan kecil di atas anakan Kali Klampok, di situlah warung ini berdiri, seolah menunggu ditemukan.

Jembatan ikonik menuju Perum Griya Permata Husada, Banyuwangi

Istilah “nongki” yang saya pakai di sini terasa pas untuk nongkrongnya kawula muda. Bukan sekadar makan atau minum, melainkan sebuah jeda yang menjadi ruang untuk berbincang tanpa terburu-buru, menikmati waktu tanpa agenda yang kaku. Dan Warung Dalam Negeri, dengan segala kesederhanaannya, menyediakan panggung yang tepat untuk itu.
Warung bernuansa kafe ini tergolong baru, dibuka pada Desember 2021. Meski tersembunyi, daftar menunya cukup menggoda. Masakan rumahan khas Banyuwangi seperti nasi sayur daun kelor, nasi tempong ayam, pempek campur hingga nasi babat tersedia bagi yang ingin makan berat. Sementara untuk yang sekadar ingin ngemil santai, pilihan kudapannya tak kalah menarik.

Nongki di Warung Dalam Negeri Banyuwangi

Karena sebelumnya saya sudah makan di basecamp Tim Enumerator COM-B Cluring di Tamanagung, pilihan saya jatuh pada camilan ringan, seperti risoles, pisang goreng original, dan tahu jadul, dengan ditemani segelas es cincau. Sederhana, tapi justru di situlah letak kenikmatannya.
Risolesnya renyah di luar, lembut di dalam. Isian sayurnya terasa gurih tanpa berlebihan, seolah mengingatkan pada bekal rumahan masa sekolah. Pisang goreng original hadir dengan kematangan yang pas, manis alami pisangnya berpadu dengan balutan tepung yang tipis dan tidak berminyak.
 
Kudapan yang menjadi teman nongki di Warung Dalam Negeri Banyuwangi

Sementara tahu jadul menawarkan rasa klasik, sederhana, sedikit asin, dengan tekstur yang padat namun empuk. Semua terasa akrab di lidah, seperti nostalgia yang bisa dimakan.
Es cincau yang saya pesan menjadi penutup yang menyegarkan. Tekstur cincaunya lembut dan dinginnya pas, tidak menusuk, justru menenangkan. Manisnya ringan, cukup untuk menyegarkan tanpa membuat enek. Di sisi lain, kopi gula aren ice yang dipesan Field Supervisor COM-B menguar aroma karamel yang hangat, kontras yang menyenangkan dengan suasana siang itu.

Es cincau ala Warung Dalam Negeri Banyuwangi

Namun, Warung Dalam Negeri bukan hanya soal rasa maupun menunya. Ia juga soal ruang. Dari seberang jembatan, bangunan menaranya langsung mencuri perhatian, seperti penanda diam bahwa ada sesuatu yang layak disinggahi. Struktur utamanya didominasi kayu dengan atap pelana (gable roof) yang meruncing ke atas, memberi kesan hangat sekaligus artistik. Bangunan dua lantai ini terasa hidup, bukan sekadar tempat makan.
Lantai dua menawarkan ruang lesehan ber-AC yang luas, cocok untuk pertemuan atau sekadar berkumpul ramai-ramai. Sementara di lantai satu, dua set sofa bergaya Scandinavian menghadirkan suasana ruang tamu yang akrab, tempat percakapan bisa mengalir tanpa canggung.

Interior Lantai 1 bangunan utama

Di luar, pohon pule (Alstonia scholaris) menaungi halaman, menciptakan teduh yang alami. Interiornya dipenuhi sentuhan masa lalu, seperti perabot jadul dan foto-foto lama Banyuwangi yang seolah bercerita tanpa suara. Tangga kayunya pun tak hanya fungsional, tapi juga estetis yang mengundang langkah untuk melihat sambil menikmati detailnya.
Di depan warung, terdapat perpustakaan kecil. Sebuah tambahan yang tak biasa, tapi justru memperkaya pengalaman. Fasilitas lainnya pun lengkap, di antaranya area parkir tanpa biaya, mushola, ruang indoor, hingga gazebo untuk yang ingin menikmati udara luar.

Koleski foto jadul milik Warung Dalam Negeri Banyuwangi

Semua itu membuat nongki di sini terasa utuh. Bukan hanya soal makanan atau minuman, tapi juga suasana yang menjadi perpaduan antara rasa, ruang, dan waktu yang berjalan lebih pelan.
Seperti kata Yoshio Taniguchi, seorang arsitek Jepang ternama yang dikenal karena merancang ruang-ruang minimalis dan fungsional yang berfungsi sebagai "wadah" untuk aktivitas manusia dan seni:

Meja dan kursi jadul di dekat meja kasir


“Arsitektur pada dasarnya adalah wadah untuk sesuatu. Saya harap mereka akan menikmati bukan hanya cangkir tehnya, tetapi juga tehnya.” 
Di Warung Dalam Negeri, kutipan itu terasa hidup. Kita tidak hanya menikmati hidangan yang tersaji, tetapi juga ruang yang membungkusnya di mana arsitektur yang memanjakan mata, taman yang menenangkan, dan suasana yang membuat betah berlama-lama.
Dan pada akhirnya, nongki di sini memang sesederhana itu - asyik sekali. *** [270426]


logoblog

Thanks for reading Nongki di Warung Dalam Negeri Banyuwangi, Asyik Sekali!

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog