Ada kalanya cinta tidak benar-benar selesai; ia hanya berubah bentuk menjadi kenangan yang terus mengetuk dari dalam kepala. Dalam novel Amor Fati: Kita adalah Sepasang Salah yang Menolak Pasrah (Penerbit: Gradien Mediatama, 2017) [
1Google Buku. (n.d.). Amor Fati: Kita adalah Sepasang Salah yang Menolak Pasrah - Stefani Bella (hujanmimpi) , Syahid Muhammad (eleftheriawords) - Google Buku. Google Books. https://books.google.co.id/books/about/Amor_Fati.html?id=aydNDwAAQBAJ
], Saka dan Lara dipertemukan bukan sebagai dua manusia yang sempurna, melainkan sebagai dua pribadi yang sama-sama menyimpan luka. Mereka pernah saling menggenggam, lalu perlahan melepaskan karena ego, jarak batin, dan keadaan yang tak selalu memberi ruang bagi cinta untuk tumbuh dengan tenang. Hubungan mereka bergerak seperti ombak, yakni datang, menjauh, kembali, lalu saling menghantam. Bahkan ketika keduanya mencoba membuka hati kepada orang lain, ada sesuatu yang tetap tinggal di mana perasaan lama yang tidak benar-benar selesai.
Novel karya Stefani Bella dan Syahid Muhammad ini tidak sekadar menawarkan kisah romansa patah hati. Ia menghadirkan pergulatan batin tentang bagaimana manusia menghadapi takdir yang tidak sesuai harapan. Melalui sudut pandang Saka dan Lara, pembaca diajak menyusuri ruang-ruang emosional yang dipenuhi penyesalan, kerinduan, dan ketidakmampuan untuk benar-benar melupakan.
Di titik inilah gagasan amor fati menemukan relevansinya, bukan tentang menyerah pada nasib, melainkan belajar mencintai segala yang telah terjadi, termasuk rasa sakit yang membentuk diri kita.
Konsep amor fati pertama kali dipopulerkan oleh Friedrich Nietzsche sebagai sikap afirmatif terhadap kehidupan. Nietzsche memandang manusia ideal bukan sebagai sosok yang bebas dari penderitaan, tetapi mereka yang mampu berkata “ya” terhadap seluruh pengalaman hidup, termasuk kehilangan, kegagalan, dan luka [
2Hambali, Radea Juli. (2026, May 12). Amor Fati. Scientiasacra. https://scientiasacra.com/2026/05/amor-fati-2/
]. Baginya, seseorang tidak cukup hanya menanggung nasib; ia harus mampu mencintainya.![]() | ||
|
Nietzsche menyebut bahwa manusia sering terjebak dalam hasrat untuk mengubah masa lalu dengan mengutuk keputusan, menyesali kehilangan, atau berharap waktu berjalan berbeda. Akan tetapi, amor fati menuntut keberanian yang lebih sulit, yaitu menerima bahwa semua yang telah terjadi adalah bagian penting dari proses menjadi diri sendiri. Saka dan Lara tampak terus bergulat di wilayah ini.
Mereka berkali-kali mencoba melawan kenyataan, tetapi pada akhirnya dipaksa memahami bahwa cinta tidak selalu hadir untuk dimiliki; terkadang ia hadir untuk mengajarkan sesuatu. Hubungan mereka yang penuh tarik-ulur mencerminkan gagasan Nietzsche tentang “eternal recurrence”, yakni bayangan bahwa manusia terus kembali pada pengalaman emosional yang sama sampai ia benar-benar mampu menerimanya.
Pandangan tersebut sejalan dengan artikel penelitian Examining hedonic and eudaimonic well-being in emerging adults from Hong Kong: Does amor Fati account for well-being beyond the role of affectivity? (2025) [
3Chan, S. C. Y., Huang, Q. L., & Chang, E. C. (2025). Examining hedonic and eudaimonic well-being in emerging adults from Hong Kong: Does amor Fati account for well-being beyond the role of affectivity? Acta Psychologica, 258, 105242. https://doi.org/10.1016/j.actpsy.2025.105242
] yang menunjukkan bahwa amor fati berkontribusi signifikan terhadap kesejahteraan psikologis, baik secara hedonik maupun eudaimonik. Penelitian terhadap dewasa muda di Hong Kong itu menemukan bahwa individu yang mampu menerima dan mengafirmasi hidup secara utuh - termasuk pengalaman pahit - cenderung memiliki tingkat kebahagiaan dan kebermaknaan hidup yang lebih tinggi.
Dalam novel ini, perjalanan emosional Saka dan Lara memperlihatkan bagaimana penerimaan terhadap luka perlahan mengubah penderitaan menjadi kedewasaan emosional. Mereka mungkin tidak memperoleh akhir yang sepenuhnya bahagia, tetapi pengalaman itu membentuk cara mereka memahami cinta, kehilangan, dan diri sendiri.
Sementara itu, artikel The psychoanalytic art of living; or: learning to love one’s fate (2025) karya Amy Allen [
4Allen, A. (2025). The psychoanalytic art of living; or: learning to love one’s fate. Psychoanalysis, Culture & Society. https://doi.org/10.1057/s41282-025-00532-1
] menjelaskan bahwa amor fati bukan sekadar menerima nasib secara pasif, melainkan mengubah luka menjadi kreativitas dan makna hidup. Artikel tersebut menekankan bahwa manusia adalah makhluk yang terus mengulang pengalaman emosionalnya, dan proses menjadi dewasa terjadi ketika seseorang mampu mengolah kehilangan menjadi sesuatu yang memberi arti baru bagi hidupnya.
Gagasan ini terasa kuat dalam dinamika Saka dan Lara. Mereka tidak benar-benar sembuh dari masa lalu, tetapi perlahan belajar hidup bersamanya. Luka yang awalnya terasa menghancurkan berubah menjadi ruang refleksi menyangkut tentang ego, tentang waktu, dan tentang betapa rapuhnya manusia saat berhadapan dengan cinta.
Pada akhirnya, Amor Fati: Kita adalah Sepasang Salah yang Menolak Pasrah berbicara mengenai keberanian menerima hidup secara utuh. Tidak semua kehilangan harus ditebus dengan kepemilikan, dan tidak semua cinta ditakdirkan untuk tinggal. Ada kalanya seseorang hadir hanya untuk membentuk kita menjadi pribadi yang berbeda.
Dalam dunia yang terus memaksa manusia mengejar kesempurnaan dan akhir bahagia, amor fati mengajarkan sesuatu yang lebih sunyi namun mendalam, yakni bahwa hidup bukan tentang menghindari luka, melainkan belajar memeluknya sebagai bagian dari perjalanan. Sebab mungkin, manusia tidak pernah benar-benar tumbuh dari kebahagiaan semata, melainkan dari kemampuan untuk tetap mencintai hidup - bahkan ketika hidup tidak berjalan seperti yang diharapkan. *** [210526]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar