“La opera nos toca en lo mas profundo de nuestros seres y nos educa a entendernos como seres humanos.” -- Mario Rojas, tenor
Pulang dari mengikuti Third Annual Symposium di Hyderabad (India) pada Ahad (14/12/2025), personel Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB) yang diberangkatkan itu, transit 10 jam di Bandara Changi Singapura. Dalam penantian yang lama itu, mereka mencoba ikut Free Singapore Tour, dan berkesempatan singgah di Chinatown Heritage Centre (CHC).
Terletak di deretan ruko yang direstorasi di Pagoda Street yang merupakan kawasan Chinatown Singapura, CHC ini menawarkan pengalaman imersif tentang denyut kehidupan awal para imigran Tionghoa di Singapura.
Memasuki ruang-ruang pameran, pengunjung seolah ditarik mundur ke masa lampau. Replika hunian sempit, toko tradisional, hingga lorong-lorong padat menghadirkan realitas keras sekaligus penuh harapan para perantau yang membangun hidup dari nol. Namun, di antara narasi perjuangan itu, terdapat satu sudut yang menghadirkan warna berbeda, yakni ruang display street wayang di zona 2 museum.
Di ruang inilah, suasana berubah menjadi lebih hidup. Visual panggung sederhana, properti simbolik, serta ilustrasi kostum mencolok membawa imajinasi pengunjung pada keramaian pertunjukan opera jalanan yang dahulu menjadi hiburan rakyat.
Mengacu pada catatan National Library Singapore [
1Cai, S. (n.d.). Wayang (Chinese Street Opera). National Library Singapore. Retrieved May 03, 2026, from https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=a07c0ef0-d87f-49bf-a624-d09a1c3a4b52
], wayang di Singapura merupakan bentuk opera jalanan Tionghoa yang telah hadir sejak abad ke-19, dibawa oleh para imigran sebagai bagian dari praktik budaya dan ritual keagamaan.Awalnya, pertunjukan ini digelar di ruang terbuka, terutama di halaman kuil, untuk menghormati dewa-dewa dalam perayaan ulang tahun atau festival tertentu. Sponsornya beragam, mulai dari pengurus kuil, asosiasi komunitas, hingga pengusaha lokal.
Keramaian yang ditimbulkan bahkan sempat membuat otoritas kolonial mencoba membatasi pertunjukan tersebut. Namun, protes masyarakat membuat seni ini tetap bertahan, bahkan berkembang dengan munculnya teater khusus di kawasan Chinatown.
Seiring waktu, wayang mengalami pasang surut. Pascaperang, seni ini mulai meredup akibat tekanan ekonomi, urbanisasi, pengaruh budaya Barat, hingga perubahan preferensi bahasa dan generasi penonton.
Meski demikian, warisan ini tidak pernah benar-benar hilang. Genre-genre utama seperti fujianxi (Hokkien), chaoju (Teochew), dan yueju (Kanton) tetap hidup, masing-masing dengan karakter vokal, dialek, dan gaya pertunjukan yang khas.
Di ruang display tersebut, pengunjung juga dapat memahami bagaimana simbolisme menjadi ruh dari pertunjukan ini. Warna kostum, riasan wajah, hingga gerak tubuh para aktor tidak sekadar estetika, melainkan representasi karakter, apakah ia seorang pahlawan, penjahat, atau sosok supranatural. Cerita yang diangkat pun sarat makna, mulai dari kisah sejarah, mitologi, hingga legenda rakyat yang menggugah emosi.
Bagi sebagian orang, wayang mungkin kini bukan lagi hiburan utama. Namun, ia telah bertransformasi menjadi penanda identitas budaya yang tak ternilai. Pertunjukan masih digelar, meski tidak sesering dahulu, biasanya dalam festival keagamaan atau acara budaya, baik oleh kelompok profesional maupun amatir. Upaya ini menjadi bukti bahwa “wayang jalanan” atau 戲曲 (xì qǔ) tetap dijaga keberlanjutannya.
Mengamati ruang ini dan melihat jejak digitalnya melalui layar kaca yang cukup besar, terasa bahwa opera tradisional bukan sekadar tontonan, melainkan cermin pengalaman manusia. Seperti diungkapkan oleh Mario Rojas, alumni dari Ryan Opera Center yang bergengsi di Lyric Opera Chicago dan alumni dari San Francisco Conservatory of Music:
“Opera menyentuh kita di bagian terdalam keberadaan kita dan mengajarkan kita untuk memahami diri kita sebagai manusia.”
Kutipan tersebut seakan menemukan relevansinya di sini, bahwa di tengah riuh warna, simbol, dan cerita, tersimpan refleksi tentang kehidupan, harapan, dan identitas.
Kunjungan singkat personil Tim NIHR UB ke pusat warisan ini pun menjadi lebih dari sekadar wisata. Ia berubah menjadi perjalanan memahami bagaimana seni, sejarah, dan budaya berkelindan, menjaga ingatan kolektif agar tetap hidup di tengah modernitas Singapura. *** [030526]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar