Kamis, Januari 01, 2026

Free Singapore Tour: Jelajahi Masa Lalu Kolonial Singapura dan Distrik-Distrik Budayanya

  Budiarto Eko Kusumo       Kamis, Januari 01, 2026
Experience, travel – these are as education in themselves.” – Euripides
Transit panjang kerap dipersepsikan sebagai jeda yang melelahkan. Namun, bagi saya - terutama sebagai penggemar heritage dan budaya - waktu tunggu justru bisa menjelma menjadi perjalanan bermakna. Seperti yang dikatakan Euripides (480 SM – 406 SM, “Pengalaman, perjalanan – keduanya merupakan pendidikan tersendiri.” Kalimat itu terasa hidup dalam perjalanan pulang kami dari India menuju tanah air.
Usai menghadiri Third Annual Symposium NIHR Global Health Research Centre for non-Communicable Diseases and Environmental Change (9–10 Desember) serta Writing Workshop (11–13 Desember) di Hyderabad, rombongan Tim NIHR-UB bertolak pulang menggunakan Singapore Airlines (SIA) lagi. Pesawat lepas landas dari Rajiv Gandhi International Airport (RGIA) atau Hyderabad International Airport, tepat pada pukul 23.38 IST, dan mendarat mulus di Singapore Changi Airport pada 06.33 SGT.

Trengganu Street at Chinatown, Singapore (Ahad, 14/12/2025)

Pukul 07.10 SGT, rombongan Tim NIHR UB - Fildzah Cindra Yunita, S.Kep., MPH; Dwi Sari Purpaningtyas, MSPH; Raissa Manika Purwaningtias, S.Keb.Bd., M.Sc.; Ismiarta Aknuranda, S.T., M.Sc., Ph.D.; Dr. Phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A.; Dr. Rizka Amalia, S.K.Pm., M.Si.; saya; serta seorang rekan satu lagi - tiba di Terminal 2. 
Kami beristirahat di Aula Transit Keberangkatan, tak jauh dari meja Free Singapore Tour di arah gate F50. Dengan waktu transit hampir 10 jam, kami pun berinisiatif mengikuti Free Singapore Tour (Tur Singapura Gratis).
Program ini memang dirancang untuk penumpang transit dengan waktu luang minimal 5,5 jam hingga 24 jam sebelum penerbangan lanjutan. Selama 2,5 jam, peserta diajak mengenal lanskap kota Singapura yang dinamis, warisan budaya yang kaya, serta landmark ikoniknya.
 
Kawasan Rest Chinatown Hotel in Singapore (Ahad, 14/12/2025)

Karena waktu pelaporan kami sebelum 08.30 SGT, jadwal yang kami dapatkan adalah 10.00–12.30 SGT. Kebetulan, dan terasa sangat pas, karena tujuan tur hari itu adalah Heritage & Culture Tour, sebagaimana diumumkan oleh pemandu wisata perempuan setengah baya yang ramah dan informatif.

Chinatown: Jejak Panjang Komunitas Tionghoa Singapura
Sekitar 20 km dari bandara, destinasi pertama adalah Chinatown. Di kawasan ini, kami menyimak kisah peninggalan komunitas Tionghoa Singapura, antara lain melalui Chinatown Heritage Centre (Pusat Warisan Pecinan). Chinatown (Niu Che Shui) merupakan distrik bersejarah terbesar di Singapura yang ditetapkan untuk dilestarikan, bukan hanya karena nilai sejarah dan arsitekturnya, tetapi juga karena denyut aktivitasnya yang merefleksikan warisan budaya komunitas Tionghoa.
Perkembangan fisik Chinatown dimulai sejak 1843, ketika sewa lahan dan hibah untuk perumahan serta perdagangan diperluas, terutama di sekitar Jalan Pagoda, Jalan Almeida (kini Jalan Temple), Jalan Smith, Jalan Trengganu, Jalan Sago, dan Gang Sago.
 
Haverlock Road at Chinatown Singapore (Ahad, 14/12/2025)

Dalam peta John Turnbull Thomson (1846), kawasan ini meluas hingga dibatasi Jalan Telok Ayer, Sungai Singapura, Jalan New Bridge, dan Jalan Pagoda. Area yang berkembang kala itu mencakup Jalan Upper Macao (kini Jalan Upper Pickering), Jalan Upper Hokkien, Jalan Upper Chin Chew, Jalan Upper Cross, dan Jalan Mosque.
Keunikan Chinatown Singapura terletak pada keberagaman yang hidup berdampingan, seperti kuil Buddha, masjid, dan kuil Hindu berdiri berderet di sepanjang jalannya, menjadikannya satu-satunya Chinatown di dunia dengan ciri tersebut. 
Dulu pusat imigran Tionghoa, kini Chinatown digemari karena perpaduan nuansa kuno dan masa kini, yakni kuil bersejarah dan gerai pengobatan tradisional bersanding dengan kuliner modern, bar, serta gerai gaya hidup yang trendi.

Buddha Tooth Relic Temple at Chinatown Singapore (Ahad, 14/12/2025)


Kampong Glam: Identitas Melayu-Muslim dalam Bingkai Kolonial
Dari Chinatown, bus khusus Free Singapore Tour membawa kami ke Kampong Glam, berjarak sekitar 3,2 km. Menurut Purwantiasning et al. (2025), kisah Kampong Glam bermula pada 1822, saat Sir Stamford Raffles (1781–1826) menyepakati perjanjian dengan Temenggong Abdul Rahman dan Sultan Hussein (1776–1835) untuk mendirikan pos perdagangan di Singapura. 
Sultan kemudian membawa keluarga dan rombongan dari Riau dan menetap di Kampung Glam, membangun kompleks bertembok yang segera berkembang menjadi pusat komunitas Melayu dan Muslim.
Imigran dari Sulawesi, Jawa, Banjar, Sumatera, dan Malaya berdatangan untuk berdagang dan bekerja. Rencana Jackson (1822) membagi kota ke dalam zona-zona pemukiman dan fungsi tertentu, membentuk perkembangan Kampong Glam.
 
Bussorah Street at Kampong Glam, Singapore (Ahad, 14/12/2025)

Pedagang Bugis dipindahkan dekat Sungai Kallang, tanah di sekitar Sultan diberikan kepada orang Arab, dan komunitas India, Arab, serta Tionghoa pun hadir signifikan. Pada 1989, area inti Kampong Glam - dibatasi Jalan Ophir, Jalan Victoria, Jalan Sultan, dan Jalan Pantai - ditetapkan sebagai kawasan konservasi oleh Urban Redevelopment Authority (URA).
Asal-usul nama Kampong Glam diyakini berasal dari kata Melayu “gelam”, nama pohon Melaleuca leucadendron. Versi lain menyebutkan kaitannya dengan Suku Gelam, yang mengenal kawasan ini sebagai “Seduyong” dan dikenal sebagai navigator andal serta pembuat kapal. Pada pertengahan abad ke-19, Suku Gelam berpindah ke beberapa lokasi - seperti Pulau Brani - dan banyak yang berasimilasi dengan masyarakat Melayu pada abad ke-20.
Kini, Kampong Glam tampil glamor dengan bangunan berwarna-warni bergaya kolonial. Masjid Sultan menjadi titik pusatnya, dengan kubah emas dan deretan pilar berwarna krem. Mural-mural menghiasi dinding, menggambarkan budaya, masyarakat, dan alam. Toko-toko menawarkan ragam kuliner - dari Turki, Arab, Melayu, hingga sajian modern - serta aneka suvenir. Penataan kawasan ramah pejalan kaki berupa paving di jalan dalam kawasan dan aspal di jalan utama.

Muscat Street at Kampong Glam, Singapore (Ahad, 14/12/2025)


Profesionalisme dalam Tur Gratis
Usai menjelajah Kampong Glam, pemandu memberi isyarat untuk berkumpul kembali di halte bus. Saat bus berangkat, ternyata ada peserta yang tertinggal. Hal ini wajar, mengingat aturan ketat waktu berhenti di Singapura. Tanpa ragu, bus berputar kembali untuk menjemput sebuah keluarga yang tertinggal. Profesionalisme itu mengesankan. Meski gratis, namun pelayanannya prima.
Free Singapore Tour menutup perjalanan singkat namun padat makna kami. Transit yang semula hanya jeda, berubah menjadi kelas berjalan tentang sejarah, kolonialisme, dan keberagaman budaya Singapura. Bagi saya, pengalaman ini menegaskan kembali ujaran (quote) Euripides, salah satu dari tiga penulis drama traged- terbaik di Athena klasik, bahwa perjalanan - termasuk yang menyentuh warisan (heritage) - adalah pendidikan yang tak tergantikan. *** [010126]


logoblog

Thanks for reading Free Singapore Tour: Jelajahi Masa Lalu Kolonial Singapura dan Distrik-Distrik Budayanya

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog