![]() |
| Peserta dari Regu C dala, lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat (Foto: diambil dari video viral di Facebook) |
Jagat maya mendadak riuh. Bukan karena Sungai Kapuas meluap hingga menenggelamkan permukiman warga, melainkan karena sebuah drama intelektual yang berlangsung di panggung Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat pada Sabtu (09/05). Sebuah ironi yang lahir bukan dari ketidaktahuan peserta, melainkan dari cara kebenaran diterima.
Ajang yang semestinya menjadi kawah candradimuka bagi generasi muda itu tiba-tiba berubah menjadi panggung satire sosial. Publik yang menyaksikan tayangan perlombaan itu mula-mula hanya mengernyitkan dahi, lalu perlahan tertawa getir. Sebab di balik formalitas lomba yang sarat jargon kebangsaan, terselip sebuah efikasi yang sulit dijelaskan dengan logika sederhana.
Polemik bermula ketika Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjawab sebuah pertanyaan dengan cepat dan penuh keyakinan:
“Dipilih DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan Presiden.”
Namun jawaban itu justru dianggap “kurang tepat” oleh dewan juri dan berujung pengurangan nilai lima poin.
Belum reda keterkejutan penonton, Regu B dari SMAN 1 Sambas kemudian memberikan jawaban yang identik - kata demi kata, nyaris tanpa jeda perbedaan. Anehnya, jawaban tersebut justru dinyatakan benar dan memperoleh tambahan sepuluh poin.
Di titik itulah publik mulai bertanya: apakah yang diuji benar-benar kecerdasan peserta, atau sekadar keberuntungan didengar oleh telinga yang sedang sepakat?
Filsuf ilmu pengetahuan asal Amerika yang menulis buku The Structure of Scientific Revolution pada tahun 1962 yang sangat berpengaruh di dalam dunia akademik, Thomas S. Kuhn (1922-1996) pernah berkata:
“Jawaban yang Anda dapatkan bergantung pada pertanyaan yang Anda ajukan.”
Namun dalam peristiwa ini, kutipan itu terasa mengalami ironi baru. Pertanyaannya sama, jawabannya sama, tetapi hasilnya berbeda. Seolah-olah bukan lagi soal substansi jawaban, melainkan bagaimana sebuah suara diterima oleh persepsi yang sedang menentukan.
Peristiwa itu kemudian menjelma menjadi tontonan nasional setelah rekaman ulang perlombaan tersebar luas di media sosial. Publik mendengarkan dengan saksama, mengulang detik demi detik, mencoba menemukan letak kesalahan yang sebelumnya dianggap “kurang tepat.”
Di tengah perdebatan tersebut, salah seorang dewan juri perempuan berkacamata melontarkan istilah “artikulasi” sebagai alasan mengapa jawaban Regu C dinilai keliru. Dalih itu justru membuka babak baru polemik. Kata “artikulasi” mendadak menjadi tokoh utama yang diperebutkan maknanya di ruang publik.
Padahal, seperti dikatakan Utpal Vaishnav, seorang founder & CEOf of Upsquare® Technologies serta penulis buku #SCRUM tweet: 140 Thought-Lenses to Build Better Software Using Scrum (2016):
“Jangan memanipulasi, artikulasikan!”
Kutipan itu terasa menohok dalam konteks yang terjadi. Sebab artikulasi semestinya menjadi jembatan untuk memperjelas makna, bukan pagar tipis yang mengaburkan kebenaran. Ketika sebuah jawaban yang terang justru dinilai salah karena persoalan penyampaian, publik mulai merasa bahwa masalahnya bukan lagi pada suara peserta, melainkan pada cara suara itu ditafsirkan.
Namun di tengah kegaduhan yang viral dan silang pendapat yang terus bergulir, ada satu hal yang justru tampil paling menonjol, yakni sikap para pelajar.
Siswa-siswi SMAN 1 Pontianak menunjukkan bahwa keberanian dan kejujuran masih hidup di dunia pendidikan. Mereka tidak memilih emosi, tidak pula membuat keributan yang mempermalukan siapa pun. Mereka berdiri tenang, menyampaikan keberatan dengan santun, serta menunjukkan bukti dengan kepala dingin.
Apa yang mereka perjuangkan bukan sekadar angka di papan skor. Lebih dari itu, mereka sedang menjaga marwah sportivitas dan keadilan - dua hal yang justru menjadi ruh utama dalam setiap kompetisi intelektual.
Keberhasilan mereka memperoleh permohonan maaf dari pihak penyelenggara menjadi pelajaran penting bahwa suara pelajar layak didengar ketika disampaikan dengan cerdas dan bermartabat. Bahwa keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk amarah; kadang ia hadir melalui keteguhan untuk tetap sopan saat membembela yang benar.
Kini video itu telah menjadi jejak digital yang sulit dihapus waktu. Ia menjadi pengingat bahwa di negeri ini, kebenaran terkadang bukan hanya soal isi jawaban, melainkan soal siapa yang mendengar, bagaimana mendengar, dan seberapa jernih hati saat menilai.
Dan mungkin, dari dua kutipan itu - Thomas S. Kuhn dan Utpal Vaishnav - kita belajar satu hal sederhana namun mendalam, bahwa kesalahan manusia sering kali bukan lahir karena tidak mengetahui kebenaran, melainkan karena terlalu cepat menafsirkan sebelum benar-benar memahami.
Sebab pada akhirnya, pengakuan paling dewasa dari kejadin ini adalah dari keberanian seseorang untuk diam sejenak, mendengar ulang dengan hati yang lebih bersih, lalu berkata kepada diri sendiri: “Mungkin kali ini, aku yang keliru mendengar.” *** [140526]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar