"Mushrooms are a reminder that sometimes, growth happens in the shadows." – Unknown
Di sudut garasi Sekretariat SMARThealth di Jalan Sidoluhur No. 59B, Lemah Duwur, Desa Dilem, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, kehidupan tumbuh dalam diam. Tepat di bekas tanah tumpukan kayu yang lembap dan jarang diperhatikan, tampak sesosok jamur berwarna abu-abu gelap kecokelatan.
Permukaannya keras menyerupai kayu tua, dengan tubuh hitam pekat yang mencolok di antara sisa serpihan tanah dan kayu lapuk. Ia bukan jamur konsumsi yang biasa ditemukan di dapur atau pasar tradisional. Bentuknya kokoh, keras, dan nyaris tampak seperti bagian dari kayu yang membatu.
Namun, dari tempat tersembunyi itulah, tumbuh spesies yang menyimpan jejak panjang sejarah ilmiah sekaligus potensi pengobatan tradisional: Sanguinoderma rugosum.
“Jamur adalah pengingat bahwa terkadang, pertumbuhan terjadi di tempat yang tersembunyi,” demikian kutipan anonim yang seolah menggambarkan kehidupan jamur ini.
Dibalik bekas tumpukan kayu yang telah membusuk, Sanguinoderma rugosum hadir tanpa suara, namun membawa manfaat besar bagi ekosistem dan pengetahuan manusia.
Nama genus Sanguinoderma berasal dari bahasa Latin sanguino yang berarti “darah” dan derma yang berarti “kulit”. Penamaan yang resmi diadopsi pada tahun 2020 itu merujuk pada karakteristik kelompok jamur tersebut [
1Out Grow. (n.d.). Red-Staining Polypore (Amauroderma rude). Out Grow. Retrieved May 12, 2026, from https://www.out-grow.com/pages/red-staining-polypore-amauroderma-rude?srsltid=AfmBOoq9uNhj0flBRh875f-e5kIXB_SI2VNJBcpYBEMkEXnWGvEEjY7O
].![]() |
| Jamur Sanguinoderma rugosum tumbuh di bekas tumpukan kayu di garasi semi-outdoor di Sekretariat SMARThealth Kepanjen |
Sementara itu, julukan spesifik rugosum berasal dari kata Latin ruga yang berarti kerutan atau lipatan. Nama tersebut menggambarkan permukaan tudung jamur yang dipenuhi lekukan, kerutan, dan tekstur tidak rata [
2Schallie, A. (2020, August 26). Sinodendron rugosum. Hammer and Pen Artists Collective. https://hammerandpen.ca/2020/08/26/sinodendron-rugosum/
].Di berbagai negara Asia, jamur ini dikenal dengan nama yang beragam. Di Malaysia disebut sebagai cendawan budak sawan atau cendawan satu kaki. Di Jepang, masyarakat mengenalnya dengan nama komatsuke. Sementara di China, ia memiliki banyak sebutan seperti wǔzhǐshān jiǎ zhī, jiǎ zhī, hingga hē zhī [
3Sanguinoderma rugosum (Blume & T.Nees) Y.F.Sun, D.H.Costa & B.K.Cui in GBIF Secretariat (2023). GBIF Backbone Taxonomy. Checklist dataset https://doi.org/10.15468/39omei accessed via GBIF.org on 2026-05-12.
]. Meski demikian, di Indonesia nama lokalnya masih jarang terdengar dan belum banyak dikenal masyarakat luas.Perjalanan ilmiah spesies ini dimulai sejak tahun 1826 ketika dua botanis, Carl Ludwig Blume dan Theodor Friedrich Ludwig Nees von Esenbeck, pertama kali mendeskripsikannya dalam publikasi Nova Acta Physico-Medica Academiae Caesareae Leopoldino-Carolinae Naturae Curiosum [
4Academia Caesarea Leopoldino-Carolina Naturae Curiosorum. (1826). Nova acta physico-medica Academiae Caesareae Leopoldino-Carolinae Naturae Curiosum (Vol. 13, p. I). Bonnae: Für die Akademie in Eduard Weber’s Buchhandlung. https://www.biodiversitylibrary.org/page/37002164
]. Pada tahun 1920, spesies ini sempat dimasukkan ke dalam genus Amauroderma oleh Torrend. Baru satu abad kemudian, melalui kajian filogenetik modern, Yi-Fei Sun bersama Diogo Henrique Costa-Rezende dan Baokai Cui merevisi klasifikasinya ke dalam genus Sanguinoderma melalui penelitian Multi-gene phylogeny and taxonomy of Amauroderma s. lat. (Ganodermataceae) [
5Sun, Y.-F., Costa-Rezende, D. H., Xing, J.-H., Zhou, J.-L., Zhang, B., Gibertoni, T. B., Gates, G., Glen, M., Dai, Y.-C., & Cui, B.-K. (2020). Multi-gene phylogeny and taxonomy of Amauroderma s. lat. (Ganodermataceae). Persoonia - Molecular Phylogeny and Evolution of Fungi, 44(1), 206–239. https://doi.org/10.3767/persoonia.2020.44.08
].![]() |
| Jamur Sanguinoderma rugosum yang sudah mati |
Menurut data Biodiversitas Nusantara [
6Biodiversitas Nusantara. (n.d.). Sanguinoderma rugosum. Biodiversitas Nusantara. Retrieved May 12, 2026, from https://www.gbif.co.id/spesies/sanguinoderma-rugosum
], Sanguinoderma rugosum termasuk dalam famili Ganodermataceae dan telah tercatat sebanyak 41 kali di Indonesia, tersebar di sembilan provinsi. Catatan pertama keberadaannya muncul sejak tahun 1881. Jawa Barat menjadi wilayah dengan jumlah observasi terbanyak, meski pola persebaran tersebut belum tentu mencerminkan distribusi alaminya secara utuh. Sebab, data sangat dipengaruhi oleh intensitas penelitian, survei lapangan, dan kontribusi pengamat warga atau citizen science. Menariknya, tren pengamatan tahunan spesies ini menunjukkan penurunan signifikan hingga 67 persen dibanding periode sebelumnya.
Di alam, Sanguinoderma rugosum memainkan peranan penting sebagai dekomposer. Jamur ini membantu mengurai sisa-sisa organisme mati, terutama kayu lapuk, lalu mengembalikan unsur hara ke tanah. Kehadirannya di bekas tumpukan kayu di garasi semi-outdoor itu menjadi penanda bahwa proses daur ulang alami sedang berlangsung secara perlahan.
Namun nilai jamur ini tidak berhenti pada fungsi ekologisnya. Dalam dunia pengobatan tradisional Asia, Sanguinoderma rugosum telah lama mendapat perhatian. Penelitian Kai-Yang Niu dan tim [
7Niu K-Y, Su X-J, Yu F-M, Li L, Luo Z-L, Tang S-M (2025) Three new species of Sanguinoderma (Ganodermataceae, Basidiomycota) from Southwest China revealed by morphology and phylogenetic analysis. MycoKeys 118: 245-265. https://doi.org/10.3897/mycokeys.118.152086
] pada tahun 2025 menjelaskan bahwa spesies ini dikenal sebagai bagian dari kelompok “zhi hitam” dalam teks pengobatan klasik China kuno Shennong’s Herbal Classic. Dalam tradisi tersebut, “zhi hitam” dipercaya memiliki khasiat anti-penuaan dan mampu memperpanjang umur.![]() |
| Jamur Sanguinoderma rugosum yang hidup bersebelahan dengan yang sudah mati |
Penelitian lain [
8Niu, K.-Y., He, J., Tang, S.-M., Su, X.-J., & Luo, Z.-L. (2024). Morphological and Phylogenetic Analyses Reveal Three Novel Species of Sanguinoderma (Ganodermataceae, Basidiomycota) from Yunnan Province, China. Journal of Fungi, 10(8), 589. https://doi.org/10.3390/jof10080589
] juga menunjukkan potensi medis yang menjanjikan. Di Taiwan dan China, Sanguinoderma rugosum disebut sebagai jamur obat tradisional bernilai tinggi dengan sifat antikanker. Sementara masyarakat adat di Semenanjung Malaysia telah lama memanfaatkannya untuk membantu mengobati epilepsi. Pada tahun 2025, Pui-Mun Chan dan rekan-rekannya kembali melaporkan bahwa jamur liar ini dipercaya dapat membantu mencegah episode epilepsi serta meredakan tangisan terus-menerus pada bayi di kalangan masyarakat adat Malaysia. Selain itu, penelitian tersebut juga menyoroti potensinya dalam pengelolaan penyakit yang berkaitan dengan stres oksidatif [
9Chan, P.-M., Tan, Y.-S., Chua, K.-H., Sabaratnam, V., & Kuppusamy, U. R. (2025). Sanguinoderma rugosum (Agaricomycetes), a Wild Malaysian Medicinal Mushroom, Triggers Anti-Neuroinflammatory Genes Expression in LPS-Stimulated BV-2 Microglial Cells. International Journal of Medicinal Mushrooms, 27(8), 1–12. https://doi.org/10.1615/intjmedmushrooms.2025058986
].Di balik tubuhnya yang keras, gelap, dan tumbuh tersembunyi di sela bekas serpihan kayu lapuk, Sanguinoderma rugosum memperlihatkan bahwa kehidupan sering kali berkembang jauh dari sorotan. Ia tidak hadir dengan warna mencolok atau bentuk yang indah dipandang, tetapi membawa fungsi penting bagi alam sekaligus harapan bagi dunia kesehatan.
Dari sudut garasi yang sunyi di Kepanjen yang semi-outdoor, jamur itu seakan mengingatkan bahwa sesuatu yang tampak sederhana dan terlupakan dapat menyimpan cerita panjang tentang ilmu pengetahuan, ketahanan hidup, dan manfaat bagi manusia. *** [120526]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar