Jumat, Mei 08, 2026

Merayakan Kehilangan: Saat Luka Tidak Lagi Disembunyikan

  Budiarto Eko Kusumo       Jumat, Mei 08, 2026
Perhaps some day I'll crawl back home, beaten, defeated. But not as long as I can make stories out of my heartbreak, beauty out of sorry.”  -- Sylvia Plath
Pernahkah Anda patah hati? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi bagi sebagian orang, jawabannya bisa menjelma menjadi malam-malam panjang yang sulit dilalui. Patah hati bukan sekadar sedih karena hubungan berakhir. Ia hadir dalam bentuk tubuh yang lelah, pikiran yang penuh tanya, hingga perasaan kosong yang sulit dijelaskan. Makan terasa hambar, tidur menjadi tidak nyenyak, dan hari-hari berjalan seperti kehilangan arah.
Dalam attachment theory atau teori keterikatan, manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk membangun ikatan emosional yang kuat dengan orang lain. Ketika ikatan itu terputus, tubuh dan pikiran bereaksi seolah sedang menghadapi ancaman besar. 
Kehilangan seseorang yang berarti - bahkan ketika orang itu masih hidup - dapat memicu respons stres yang nyata. Hormon kortisol meningkat, memunculkan rasa cemas, nyeri, gangguan pencernaan, hingga kelelahan emosional. Karena itu, patah hati kerap terasa seperti luka yang tidak hanya menyerang batin, tetapi juga fisik.
Maka ketika saya melihat buku Merayakan Kehilangan karya Brian Khrisna (MediaKita, 2021) di Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat pada Selasa (05/05) usai menghadiri Seminar Hasil Sementara Penelitian Data Kuantitatif (Baseline Survey) mengenai Perilaku Lingkungan tentang Pengelolaan Sampah di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB), merasa penasaran. Betapa tidak? “Kehilangan koq dirayakan,” gumanku.
Judulnya yang begitu menggelitik, membawa saya membuka halaman demi halaman buku itu. Letaknya berdekatan dengan karya Brian Khrisna lainnya, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Namun, dibandingkan buku yang satunya, Merayakan Kehilangan terasa seperti ruang sunyi melankolis yang dipenuhi suara hati seseorang yang sedang berusaha bertahan setelah ditinggalkan.
Buku ini mengajak pembaca masuk ke fase paling rapuh dalam kehidupan emosional seseorang, yaitu menerima kenyataan bahwa orang yang dicintai memilih pergi bersama orang lain.
 
Buku Merayakan Kehilangan karya Brias Khrisna di rak TB Gramedia Basuki Rahmat, Malang

Tokoh “Aku” di dalamnya tidak tampil sebagai sosok yang kuat sejak awal. Ia justru dipenuhi pertanyaan yang akrab bagi siapa saja yang pernah patah hati: apakah dirinya pantas dicintai dengan tulus, apakah ia kurang baik, atau mungkinkah ada seseorang yang lebih tepat di masa depan.
Di titik inilah kekuatan tulisan Brian Khrisna terasa bekerja. Ia tidak menawarkan petuah-petuah motivasional yang terdengar sempurna. Ia justru membiarkan kesedihan itu hadir apa adanya. Pembaca diajak menyelami bagaimana kehilangan sering kali membuat seseorang mempertanyakan nilai dirinya sendiri.
Namun perlahan, buku ini bergerak menuju proses penerimaan. Tokoh “Aku” mulai membangun cara pandang baru terhadap dirinya. Luka yang awalnya terasa seperti akhir kehidupan berubah menjadi ruang belajar untuk memahami makna kehilangan. Ia mulai menerima keadaan, mensyukuri pengalaman pahit yang pernah datang, dan memahami bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk tinggal.
Pada bagian akhir, muncul optimisme baru melalui hadirnya sosok “Kamu” yang lain. Kehadiran itu bukan sekadar pengganti, melainkan simbol bahwa manusia selalu memiliki kemungkinan untuk pulih. Seperti yang tertulis dalam buku tersebut:
“Aku sudah bahagia sekarang. Tak perlu kau cemaskan aku lagi. Aku sudah ditemukan oleh seseorang yang seperti doamu dulu sebelum pergi meninggalkanku, yang akan benar-benar menyayangiku.”
Kalimat itu terasa seperti penutup bagi perjalanan emosional yang panjang, bahwa kehilangan tidak selalu berakhir dengan kehancuran, melainkan dapat menjadi pintu menuju versi diri yang lebih utuh.
Secara bentuk, Merayakan Kehilangan bukan novel dengan alur linear. Buku ini merupakan kumpulan puisi dan kutipan yang awalnya ditulis Brian Khrisna melalui platform Tumblr. Karena itu, gaya penulisannya sangat personal, seolah pembaca sedang membuka buku harian seseorang yang diam-diam menyimpan luka. 
Bahasa yang puitis dan melankolis menjadi kekuatan utama buku ini. Pilihan katanya sederhana, tetapi mampu menekan sisi emosional pembaca, terutama mereka yang sedang berada dalam fase kehilangan yang serupa.
Nuansa emosional itu juga diperkuat melalui desain fisik buku. Beberapa halaman dicetak dengan warna hitam, menciptakan kesan muram sekaligus intim. Variasi desain halaman dan tambahan pembatas buku berbentuk kartu pos membuat pengalaman membaca terasa lebih personal, seolah pembaca sedang memegang serpihan kenangan seseorang.
Meski demikian, buku ini tidak selalu cocok bagi semua orang. Pembaca yang tidak menyukai gaya bahasa puitis mungkin akan merasa narasinya terlalu melankolis dan monoton. 
Kesedihan yang terus-menerus dihadirkan dari awal hingga akhir bisa terasa berlebihan bagi mereka yang tidak memiliki kedekatan emosional dengan tema patah hati. Namun bagi generasi muda yang sedang berada dalam fase kehilangan, buku ini justru terasa seperti teman yang memahami isi kepala mereka.
Pada akhirnya, Merayakan Kehilangan menunjukkan bahwa kesedihan tidak selalu harus disembunyikan. Ada luka yang memang perlu dirasakan sepenuhnya sebelum akhirnya sembuh. Buku ini mengingatkan bahwa patah hati bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari proses menjadi manusia.
Pemikiran itu seolah sejalan dengan kutipan Sylvia Plath (1932-1963), seorang penyair, novelis, dan cerpenis, asal Amerika Serikat:
“Mungkin suatu hari nanti aku akan merangkak pulang, babak belur, kalah. Tapi tidak selama aku bisa membuat cerita dari patah hatiku, keindahan dari kesedihan.”
Kutipan tersebut menjadi penegas bahwa kehilangan dapat diubah menjadi makna. Bahwa dari kesedihan, seseorang bisa belajar mengenali dirinya sendiri. Dan mungkin, seperti yang coba disampaikan Brian Khrisna, merayakan kehilangan bukan berarti menikmati rasa sakit, melainkan menerima bahwa luka pernah ada dan menjadikannya bagian dari perjalanan untuk bertumbuh. *** [080526]


logoblog

Thanks for reading Merayakan Kehilangan: Saat Luka Tidak Lagi Disembunyikan

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog